Penulis: Syekh Taqiyuddin an-Nabhani
Muslimah News, FIKRUL ISLAM — Mengatasi pemikiran individu tidak akan bernilai sedikit pun jika tidak sejalan dengan usaha di tengah umat untuk meninggalkan kedangkalan berpikir yang ada pada umat. Demikian itu karena individu adalah bagian yang tidak bisa dipisahkan dan dilepaskan dari umat.
Umat terbentuk dari sekumpulan manusia yang diikat oleh metode kehidupan tertentu, sedangkan bangsa terbentuk dari sekumpulan manusia yang berasal dari asal-usul yang satu yang hidup secara bersama.
Adapun individu-individu adalah anggota dari sekumpulan manusia tersebut, baik pada suatu bangsa atau pada suatu umat. Dengan demikian, individu tidak bisa dipisahkan dan diasingkan dari mereka. Oleh karenanya, upaya meninggalkan kedangkalan berpikir harus dijalankan pada individu dan umat secara bersamaan sehingga akan dimungkinkan meninggalkan kedangkalan berpikir dari seluruhnya.
Adapun yang dimaksud dengan berpikir mendalam adalah mendalam dalam berpikir. Maksudnya, mendalam dalam mengindra suatu fakta dan mendalam dalam informasi yang berkaitan dengan pengindraan tersebut untuk memahami suatu fakta. Jadi, berpikir mendalam tidak sekadar mengindra sesuatu dan tidak cukup hanya dengan informasi awal untuk mengaitkannya dengan pengindraan, seperti halnya pada berpikir dangkal.
Berpikir mendalam dilakukan dengan mengulang pengindraan fakta dan berusaha mengindranya lebih banyak dari pengindraan sebelumnya, baik dengan jalan percobaan atau dengan mengulang-ulang pengindraan. Berpikir mendalam juga dilakukan dengan mengulang pencarian informasi-informasi lain di samping informasi-informasi awal yang telah ada.
Berpikir mendalam juga dilakukan dengan mengulang mengaitkan informasi dengan fakta secara lebih banyak dari yang telah dilakukan sebelumnya, baik dengan cara mengamatinya dengan berulang-ulang atau dengan mengulangi kembali keterkaitan tersebut.
Dengan demikian, dari tipe pengindraan, keterkaitan, dan informasi yang seperti ini, akan dihasilkan pemikiran-pemikiran mendalam, baik merupakan kebenaran maupun bukan kebenaran. Dengan mengulang-ulang dan membiasakannya, akan terwujudlah proses berpikir secara mendalam.
Berpikir mendalam adalah berpikir yang tidak cukup dengan sekadar pengindraan pertama, informasi yang pertama/awal, serta keterkaitan yang pertama antara informasi dan fakta. Berpikir mendalam merupakan langkah kedua setelah berpikir dangkal.
Berpikir mendalam merupakan pemikiran para ulama (intelektual) dan para pemikir, meskipun tidak harus merupakan pemikiran kaum terpelajar. Jadi, berpikir mendalam adalah mendalam dalam pengindraan, informasi, dan keterkaitan.
Sedangkan berpikir cemerlang adalah berpikir mendalam itu sendiri, ditambah dengan memikirkan segala sesuatu yang ada di sekitar fakta dan yang berkaitan dengan fakta untuk bisa sampai kepada kesimpulan yang benar. Dengan kata lain, berpikir mendalam adalah mendalam dalam berpikir itu sendiri, sedangkan berpikir cemerlang adalah selain mendalam dalam berpikir, juga memikirkan segala sesuatu yang ada di sekitar fakta dan yang berkaitan dengan fakta, untuk sampai kepada tujuan tertentu, yaitu kesimpulan yang benar.
Oleh karena itu, setiap proses berpikir cemerlang merupakan proses berpikir mendalam. Namun, tidak mungkin proses berpikir cemerlang berasal dari berpikir dangkal dan tidak setiap berpikir mendalam merupakan berpikir cemerlang.
Sebagai contoh adalah seorang ahli atom yang meneliti pembelahan atom, ahli kimia yang meneliti susunan segala sesuatu (senyawa), serta seorang fakih yang membahas penggalian hukum dan pembuatan undang-undang. Mereka dan orang semisalnya, ketika membahas benda-benda dan hal-hal tersebut, mereka membahasnya dengan mendalam.
Andai kata tidak terdapat kedalaman dalam berpikir, tentu mereka tidak akan mendapat kesimpulan yang gemilang. Akan tetapi, meski demikian, mereka tidak termasuk para pemikir cemerlang. Pemikiran mereka juga tidak disebut pemikiran cemerlang.
Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika Anda menemukan seorang ilmuwan atom telah menyembah kayu (salib), padahal apabila ia berpikir secara cemerlang sedikit saja, ia akan menyimpulkan bahwa kayu tersebut tidak bisa memberikan manfaat atau mudarat, dan bahwa kayu bukan termasuk sesuatu yang layak disembah.
Begitu juga bukan hal aneh jika Anda menemukan orang yang ahli undang-undang yang memercayai adanya orang-orang suci dan ia menyerahkan dirinya kepada orang suci tersebut agar bisa mengampuni dosa-dosanya. Ini karena kedua macam orang tersebut dan yang semisalnya memang berpikir mendalam, tetapi tidak cemerlang. Andai kata mereka berpikir cemerlang, mereka tidak akan menyembah kayu dan tidak akan memercayai adanya orang-orang yang suci dan meminta ampunan dari mereka.
Benar, orang yang berpikir mendalam hanyalah mendalam pada objek yang ia pikirkan, bukan pada yang lainnya. Bisa saja seseorang berpikir mendalam ketika memikirkan pembelahan atom atau pembuatan undang-undang, tetapi berpikir dangkal dalam hal lainnya. Benar faktanya memang demikian.
Akan tetapi, ketika seseorang membiasakan berpikir mendalam, ini akan menjadikannya berpikir mendalam pada hal-hal lain di luar objek yang ia pikirkan, terutama pada perkara-perkara yang berkaitan dengan masalah besar (al-uqdatul kubra) atau cara pandang dalam kehidupan.
Namun, tiadanya kecemerlangan berpikir akan menjadikannya terbiasa berpikir mendalam saja, atau terbiasa berpikir dangkal, bahkan akan terbiasa berpikir rendah (at-tafkir as-sakhif, stupid thinking).
Oleh karena itu, berpikir mendalam saja tidak cukup untuk membangkitkan manusia dan meningkatkan taraf berpikir mereka, melainkan harus ada kecemerlangan dalam berpikir sehingga terwujudlah keluhuran dalam berpikir (kebangkitan).
Meskipun kecemerlangan bukan keharusan untuk sampai pada kesimpulan yang benar dalam berpikir, seperti halnya dalam ilmu eksperimental, ilmu hukum, ilmu kedokteran, dan yang lainnya, tetapi ia merupakan satu keharusan untuk meningkatkan taraf berpikir. Kecemerlangan juga satu keharusan agar proses berpikir bisa menghasilkan para pemikir.
Umat tidak mungkin bangkit dengan adanya para intelektual dalam ilmu eksperimental, para ahli fikih, pakar undang-undang, para dokter, para insinyur, dan yang sejenisnya. Umat hanya akan bangkit ketika terdapat kecemerlangan dalam proses berpikir mereka. Dengan kata lain, umat akan bangkit ketika terdapat para pemikir yang cemerlang di tengah mereka.
Kecemerlangan berpikir tidak mengharuskan adanya proses belajar. Dengan kata lain, pemikir cemerlang tidak harus kaum terpelajar. Sebagai contoh, seorang Arab Badui (pedalaman) yang berkata, “Tahi unta menunjukkan adanya unta. Jejak orang menunjukkan adanya orang yang berjalan,” adalah seorang pemikir cemerlang. Begitu juga seorang orator yang berkata, “Kewaspadaan tidak akan menyelamatkan diri dari suratan (takdir), dan kesabaran adalah salah satu sebab kemenangan,” adalah seorang pemikir cemerlang.
Akan tetapi, seorang penyair yang berkata, “Khalifah telah mati, wahai manusia dan jin. Seakan aku telah berbuka pada bulan Ramadan,” adalah bukan pemikir cemerlang, meskipun ia fakih dan terpelajar. Seorang ahli hikmah yang berkata, “Puncak hikmah adalah takut kepada Allah,” adalah bukan pemikir yang cemerlang karena puncak hikmah adalah menyadari adanya Allah, bukan takut kepada Allah.
Jadi, berpikir cemerlang tidak membutuhkan pengetahuan dan kebijaksanaan (hikmah), tetapi membutuhkan proses berpikir secara mendalam dan memikirkan hal-hal yang ada di sekitar suatu fakta dan yang berkaitan dengan fakta itu untuk sampai kepada kesimpulan yang benar.
Oleh karenanya, seorang pemikir cemerlang terkadang adalah seorang yang ummi ‘tidak bisa membaca dan menulis’ sebagaimana pemikir cemerlang terkadang adalah seorang terpelajar atau ulama.
Pemikir cemerlang tidak akan dapat membentuk pemikiran yang cemerlang, kecuali pada dirinya terdapat kecemerlangan ketika berpikir. Seorang politikus adalah pemikir cemerlang. Seorang pemimpin juga merupakan pemikir cemerlang. Keduanya membutuhkan kecemerlangan ketika memikirkan sesuatu sehingga proses berpikirnya disebut cemerlang.
Oleh karena itu, kita tidak heran ketika melihat para tokoh pemimpin dan tokoh politik yang menyembah kayu dan meminta pengampunan dosa dari manusia yang lebih rendah kecemerlangan berpikirnya. Hal ini karena pemikiran mereka bukanlah pemikiran yang mendalam dan cemerlang, melainkan berpikir mengikuti adat dan kebiasaan, atau berpikir secara curang dan munafik.
Semua ini bukan berpikir mendalam atau cemerlang sebab seorang pemikir cemerlang tidak akan menghubungkan dirinya dengan kecurangan dan kemunafikan, serta tidak akan terpengaruhi oleh adat dan kebiasaan. [MNews/Rgl]
Sumber: Syekh Taqiyuddin an-Nabhani, Hakikat Berpikir (At-Tafkir)
