[At-Tafkir] Berpikir Dangkal, Mendalam, dan Cemerlang (Bagian 1/2)

[At-Tafkir] Berpikir Dangkal, Mendalam, dan Cemerlang (Bagian 1/2)

Penulis: Syekh Taqiyuddin an-Nabhani

Muslimah News, FIKRUL ISLAM — Berpikir terbagi menjadi tiga bagian, yaitu berpikir dangkal (at-tafkir as-sathi), berpikir mendalam (at-tafkir al-‘amiq), dan berpikir cemerlang (at-tafkir al-mustanir).

Berpikir dangkal merupakan pemikiran kebanyakan manusia. Berpikir mendalam terdapat pada para ulama (intelektual). Sedangkan berpikir cemerlang merupakan pemikiran para pemimpin dan orang-orang yang berpikir cemerlang dari kalangan para ulama dan umumnya manusia.

Berpikir dangkal adalah sekadar memindahkan fakta ke dalam otak tanpa membahas fakta lainnya, atau tanpa berusaha mengindra hal-hal yang berkaitan dengan fakta tersebut, kemudian mengaitkan pengindraan tersebut dengan informasi-informasi yang berkaitan dengannya. Juga tanpa ada usaha mencari informasi-informasi lain yang berkaitan dengan fakta. Setelah itu, keluarlah keputusan yang dangkal terhadap fakta tersebut. Pemikiran seperti ini kerap terdapat pada berbagai kelompok manusia, orang-orang yang rendah taraf berpikirnya, serta orang-orang cerdas yang tidak terpelajar.

Berpikir dangkal merupakan bahaya bagi umat dan bangsa mana pun karena ia tidak akan mengantarkan pada kebangkitan, bahkan tidak memungkinkan mereka untuk hidup menyenangkan, meskipun memungkinkan mereka untuk hidup sejahtera.

Penyebab kedangkalan berpikir adalah lemahnya pengindraan, lemahnya informasi, dan lemahnya keterkaitan informasi dan fakta pada otak manusia. Pemikiran dangkal ini bukan sesuatu yang alami pada manusia, meskipun ia merupakan pemikiran yang primitif.

Manusia berbeda-beda dalam hal kuat dan lemahnya mengindra, juga kuat dan lemahnya mengaitkan informasi dengan fakta. Manusia juga berbeda-beda dalam jumlah atau jenis informasi yang ada pada mereka, baik yang diambil dengan jalan menerima dari orang lain (mendengar), menelaah (membaca), ataupun yang diambil dari pengalaman hidup. Perbedaan-perbedaan ini memengaruhi perbedaan manusia dalam taraf berpikir.

Pada dasarnya, manusia mempunyai otak yang kuat dan kemampuan yang kuat dalam mengaitkan informasi dengan fakta, kecuali pada sedikit di antara mereka, yaitu orang-orang yang diciptakan dalam keadaan lemah, atau yang mengalami kelemahan pada kemudian hari.

Pada dasarnya juga, kebanyakan manusia senantiasa mendapatkan informasi baru setiap hari, meskipun mereka orang-orang ummi ‘tidak bisa membaca dan menulis’, kecuali orang-orang yang menyimpang (abnormal), yaitu orang-orang yang tidak mempunyai perhatian pada apa pun, yang tidak menghargai informasi yang disampaikan kepada mereka atau informasi yang mereka pelajari sendiri.

Pemikiran dangkal bukanlah pemikiran yang alami, tetapi suatu penyimpangan dalam berpikir. Meski demikian, memang ada individu-individu tertentu yang terbiasa berpikir dangkal dan rela dengan hasil berpikirnya itu, serta tidak merasa memerlukan sesuatu yang lebih berharga daripada yang telah ada pada diri mereka. Hal ini menyebabkan berpikir dangkal menjadi kebiasaan mereka sehingga mereka pun senantiasa berpikir dengan cara seperti itu. Mereka menyenanginya serta merasa puas dengannya.

Adapun berpikir dangkal yang ada pada kelompok, ia disebabkan kurangnya kemampuan mereka untuk berpikir karena keadaan mereka sebagai kelompok. Berpikir dangkal biasanya mendominasi mereka sekalipun mereka adalah kelompok yang beranggotakan para pemikir yang kreatif.

Oleh karena itu, berpikir dangkal merupakan pemikiran yang mendominasi kehidupan. Andai kata tidak ada individu-individu dari kalangan bangsa dan umat yang diberi kemampuan luar biasa dalam mengindra dan mengaitkan informasi dengan fakta, niscaya tidak mungkin terdapat kebangkitan dan tidak akan mungkin terdapat kemajuan materiel dalam kehidupan ini. Tidak ada pemecahan dalam menghadapi cara berpikir dangkal pada kelompok-kelompok manusia.

Hanya saja, dimungkinkan untuk meningkatkan taraf dari berbagai realitas dan peristiwa yang terjadi, juga dimungkinkan membekali kelompok-kelompok tersebut dengan pemikiran yang tinggi dan informasi yang kaya sehingga bisa mengangkat taraf berpikir mereka. Meskipun demikian, tetap saja mereka akan berpikir dangkal, bagaimanapun keadaan mereka, meskipun tarafnya tinggi.

Artinya, suatu bangsa dan umat akan dapat bertindak seperti halnya tindakan yang lahir dari berpikir cemerlang. Namun, pemikiran mereka, bagaimanapun juga, tetap pemikiran yang dangkal. Kelompok-kelompok tidak akan dapat berpikir mendalam dan cemerlang, bagaimanapun peningkatan dan ketinggian yang mereka raih. Ini karena keadaan mereka sebagai suatu kelompok membuat mereka tidak mampu melakukan pendalaman pembahasan dan tidak mampu melakukan proses berpikir cemerlang.

Cara untuk meningkatkan taraf berpikir kelompok bukanlah dengan jalan mengubah proses berpikir mereka, tetapi dengan mengubah berbagai fakta dan peristiwa yang diindra oleh kelompok tersebut. Dimungkinkan juga mengatasi pemikiran dan informasi yang terdapat dalam kelompok tersebut sehingga kedangkalan berpikir akan berkurang. Namun, ia tetap tidak akan hilang. Dengan demikian, cara bertindak dalam kelompok tersebut akan dapat ditingkatkan.

Adapun individu-individu, dimungkinkan untuk menghilangkan kedangkalan berpikirnya, menguranginya, atau menjadikannya jarang pada diri mereka. Caranya ialah pertama, menghilangkan kebiasaan berpikir pada mereka, yaitu dengan mendidik dan membina mereka dan mengarahkan pandangan mereka pada kelemahan berpikir dan kedangkalan pemikirannya. Kedua, memperbanyak percobaan/pengalaman pada diri mereka atau di hadapan mereka, serta menjadikan mereka hidup di tengah banyak fakta serta mengindra fakta-fakta yang beragam, senantiasa baru, dan berubah-ubah. Ketiga, menjadikan mereka hidup bersama kehidupan dan terjun dalam kehidupan itu.

Dengan tiga hal tersebut, mereka akan dapat meninggalkan kedangkalan ataupun mereka ditinggalkan oleh kedangkalan sehingga mereka menjadi tidak dangkal dalam berpikir. Individu-individu seperti itu, apabila makin banyak di tengah umat, akan makin mudah dan dekat pula pada terwujudnya kebangkitan umat. Individu-individu tersebut, meskipun hidup di tengah umat, menerima informasi-informasi, serta mengindra berbagai fakta dan peristiwa yang ada pada umat, mereka tidak mampu mendahului zaman mereka dan bukan merupakan jenis yang berbeda dengan jenis umat mereka.

Akan tetapi, mereka mampu untuk mendahului umat mereka dan memindahkan umat dari satu keadaan menuju keadaan lain. Ini karena individu-individu tersebut mampu menggambarkan fakta-fakta kehidupan yang tinggi dengan penggambaran yang nyata, yaitu dengan jalan menerima pemikiraan-pemikiran yang benar dan pendapat-pendapat yang sahih, memeluk pemikiran-pemikiran yang pasti (qath’i), dan mampu membedakan berbagai macam pendapat, serta mampu melihat fakta dari pendapat-pendapat tersebut.

Pada akhirnya, pada diri mereka terdapat pengindraan intelektual (al-ihsas al-fikri, intelectual sensation), yaitu pengindraan yang lahir dari pengetahuan dan pemikiran, dan juga terdapat logika pengindraan (manthiq al-ihsas, logic of sensation) yaitu pemahaman yang terlahir dari pengindraan, hanya dari pengindraan apa adanya.

Mereka meskipun memiliki pancaindra dan otak seperti yang dimiliki oleh manusia lain, tetapi kekuatan mengaitkan fakta dengan informasi yang terdapat pada otak mereka melampaui yang dimiliki oleh yang lainnya. Dan karena mereka senantiasa menaruh perhatian untuk mengaitkan pengindraan dengan informasi terdahulu secara benar, maka mereka lebih banyak memahami berbagai hal daripada manusia lainnya.

Dengan kata lain, pemikiran mereka berbeda dengan pemikiran yang lain sehingga terbentuklah al-ihsas al-fikri pada dirinya yang mengakibatkan tingginya manthiq al-ihsas. Oleh karena itu, individu lebih mampu meninggalkan kedangkalan berpikirnya daripada kelompok, meskipun kemampuan tersebut tidak ada nilainya, kecuali jika diambil dan diadopsi oleh kelompok.

Begitulah cara mengatasi kedangkalan berpikir, yaitu mengatasi individu terlebih dahulu, kemudian menjadikan umat mengambil dan mengadopsi pemikiran yang telah dicapai oleh individu.

Di samping itu, harus ada upaya memperbarui fakta-fakta yang ada di tengah umat, menyampaikan pemikiran-pemikiran yang tinggi di tengah umat yang berada dalam jangkauan tangan umat, serta menjalankan semua itu secara bersamaan dalam satu waktu. Ini karena usaha untuk meninggalkan kedangkalan berpikir di tengah umat tidak akan bernilai apabila tidak bersamaan dengan upaya mengatasi pemikiran individu. [MNews/Rgl]

Bersambung ke Bagian 2/2

Sumber: Syekh Taqiyuddin an-Nabhani, Hakikat Berpikir (At-Tafkir)

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *