Penulis: Ustaz Adi Victoria
Muslimah News, NAFSIYAH — Dalam dunia kerja, sebagian orang tidak mau duduk sebagai posisi leader, supervisor, atau pun manajer karena posisi tersebut akan berhubungan dengan orang lain, yakni bawahannya.
Mereka lebih senang bekerja sebagai staf karena hanya mengurus pekerjaan yang menjadi tugasnya. Mereka tidak akan pusing memikirkan bagaimana kinerja bawahan, tidak akan dibuat pusing berpikir terkait bagaimana mengelola bawahan, bagaimana menyelesaikan masalah bawahan, dan sebagainya. Semua ini memerlukan kemampuan berpikir sehingga sebagian orang memilih terkuras fisik daripada terkuras pikiran.
Inilah faktanya. Saat kita menjadi atasan, tentu ada bawahan. Saat kita jadi pemimpin, tentu ada yang dipimpin, baik yang di pimpin itu hanya satu orang atau pun seribu orang, mereka bukanlah benda mati, mereka memiliki akal dan pemikiran. Dan setiap pemimpin akan berhadapan dengan pemikiran yang dipimpin.
Begitu pun dengan berumah tangga. Suami dan istri tentu memiliki pemikiran masing-masing. Bedanya, hubungan antara suami istri bukanlah hubungan atasan dan bawahan, melainkan hubungan persahabatan. Sebagaimana ditulis oleh Syekh Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitabnya An-Nidzomul Ijtima’iy fil Islam,
وإنما العشرة بينهما عشرة صحبة، يصحب أحدهما الآخر صحابة تامة من جميع الوجوه، صحبة يطمئن فيها أحدهما للآخر.
“Pergaulan di antara keduanya (suami-istri) tidak lain adalah pergaulan persahabatan. Satu sama lain merupakan sahabat sejati dalam segala hal. Yaitu persahabatan yang dapat memberikan kedamaian dan ketenteraman satu sama lain.”
Namun, hubungan persahabatan tidak selamanya rukun dan damai, terkadang bisa saling marah, kesal, dan emosi. Hal ini wajar, sebab manusia memiliki gharizatul baqa’ (naluri mempertahankan diri), seperti naluri marah, kesal, senang, ingin diakui, dan sebagainya.
Di sinilah Islam berfungsi sebagai pengatur dalam masalah pemenuhan naluri (gharizah) tadi. Seorang suami adalah qawwam, tetapi tidak berarti ia identik dengan raja dan istrinya bak rakyat. Tidak berarti suami adalah majikan dan istrinya adalah pembantu, bahkan budak. Qawwam bukanlah demikian.
Sebagai qawwam, seorang laki-laki memiliki tanggung jawab untuk menjaga, menafkahi, mendidik istri, dan berlaku baik kepada istri. Bahkan tolok ukur kebaikan suami, bukan dilihat bagaimana ia bersikap terhadap orang lain, tetapi dilihat bagaimana sikapnya kepada istri.
Sebagaimana sabda Nabi saw.,
أَكْمَلُ المُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا، وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ
“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik akhlaknya, sebaik-baik kalian adalah yang terbaik bagi istri-istrinya.” (HR At-Tirmidzi dari Abu Hurairah, At-Tirmidzi berkata hadis ini hasan sahih)
Sebaliknya, tolok ukur kebaikan seorang wanita atau istri bukan terletak pada seberapa banyak hafalan Al-Qur’annya, hafalan hadisnya, atau pun kesalehan yang tampak pada dirinya, tetapi saat ia menjadi sosok yang begitu menyenangkan dipandang suaminya.
Sebagaimana riwayat Abu Hurairah ra. ketika Rasulullah ditanya, “Perempuan seperti apa yang paling baik?”
Rasulullah saw. menjawab,
الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ، وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ، وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ
“Yang paling menyenangkan jika dilihat suami, menaati suami jika suami memerintahkan sesuatu, dan tidak menyelisihi suami dalam diri dan hartanya dengan apa yang dibenci oleh suaminya.” (HR An-Nasa’i)
Mari terus belajar menjadi suami dan istri yang saling menyenangkan satu sama lain karena menikah memang ibadah paling lama, maka perlu terus belajar dan belajar, yang disertai dengan kesabaran. Insyaallah. [MNews/Nsy]
Sumber: https://t.me/adivictoria1924
