Pro-Kontra Nikuba, Bagaimana Islam Memandang Inovasi Saintek?

Pro-Kontra Nikuba, Bagaimana Islam Memandang Inovasi Saintek?

Penulis: Abu Nadzifah (Peneliti Sistem Energi)

Muslimah News, ANALISIS — Belakangan ini, berita tentang Nikuba kembali meramaikan media massa dan sosial. Alat yang dirancang oleh Aryanto Misel (67) ini mendapatkan sorotan ketika perancangnya diklaim diundang oleh pabrikan mobil super terkemuka Italia.

Walau demikian, terungkap adanya misinformasi dalam pemberitaan tersebut bahwa Aryanto bukan diundang oleh pabrikan mobil Italia, melainkan oleh bengkel modifikasi otomotif yang kebetulan bermarkas di Italia. Itu pun rencana aplikasinya tidak jadi karena pemanfaatan penerapan Nikuba tidak berhasil ditunjukkan.

Walau demikian, media massa dan sosial telanjur mengumbar berita ini seolah-olah Nikuba adalah “produk karya anak bangsa” yang patut dibanggakan. Kritik dan skeptisisme yang disampaikan oleh peneliti dan akademisi malah mengundang cercaan warganet. Aryanto diperlakukan bak “jenius yang terasingkan”, sedangkan lembaga penelitian dan universitas yang telah meninjau teknologi terkait selama puluhan tahun dianggap sebagai institusi inkompeten dan hanya buang-buang uang.

Ironisnya, negeri ini memang krisis prestasi. Di bidang sains, belum ada satu pun warga negara Indonesia yang mendapat Hadiah Nobel. Mayoritas produk sains dan teknologi (saintek) yang digunakan di Indonesia pun diproduksi dari negara asing.

Beberapa proyek saintek yang sebenarnya bisa mendorong kemandirian teknologi negara, seperti Pesawat N250 karya BJ Habibie dan tim, Drone Elang Hitam karya BPPT, serta Reaktor Daya Eksperimental karya BATAN, pengembangannya dimatikan dengan alasan absurd. Sementara itu, keluaran karya tulis ilmiah (KTI) yang berlimpah tidak dapat diejawantahkan dalam realitas kehidupan, selain bahwa penerbitan KTI ini sendiri banyak yang bermasalah akibat tuntutan irasional dari Kementerian akan standar-standar penilaian gimmick.

Krisis prestasi ini, secara psikologis, membuat sebagian warga merindukan sebuah terobosan yang dapat “mengguncangkan” dunia saintek. Celakanya, ketika kerinduan prestasi ini dibarengi dengan literasi sains yang rendah, menjadikan mereka terlalu mudah percaya akan klaim-klaim penemuan yang sebenarnya tidak ilmiah dan irasional, seperti Nikuba.

Tentang Nikuba

Berita tentang Nikuba sebenarnya sudah mencuat setidaknya sejak 2022. Nikuba sendiri dinarasikan sebagai alat untuk mengubah air menjadi bahan bakar pengganti bensin. Ada berbagai klaim yang beredar di media tentang performa Nikuba, tetapi yang paling bombastis adalah klaim bahwa alat ini bisa mengubah satu liter air menjadi bahan bakar untuk menempuh jarak 300 km ketika digunakan di sepeda motor. Klaim ini tentu luar biasa karena artinya sistem Nikuba setidaknya enam kali lebih hemat daripada kendaraan internal combustion engine (ICE) konvensional.

Sistem Nikuba sebenarnya bukan hal baru. Sistem sejenis ini sudah lama dipelajari. Akan tetapi, sebelum membahas sistemnya, kita harus memahami fenomena fisis di balik klaim Nikuba itu sendiri.

Secara kimia, air bukan substansi yang bisa digunakan sebagai bahan bakar. Secara molekuler, air merupakan senyawa dengan ikatan hidrogen yang notabene bersifat endotermis. Artinya, dibutuhkan energi yang lebih besar daripada potensi energi unsur penyusunnya untuk memisahkan ikatan ini. Ini berbeda dengan bahan bakar minyak (BBM) seperti bensin yang bersifat eksotermik. Ikatan karbon pada BBM sangat mudah dipecahkan dengan pemicu panas sehingga melepaskan energi yang lebih besar daripada energi yang digunakan sebagai pemicu.

Tersebab air bersifat endotermis, maka yang menjadi kunci dari klaim Nikuba bukanlah air itu sendiri, melainkan unsur penyusunnya, yaitu hidrogen. Sebagai unsur, hidrogen sangat reaktif dan bersifat eksotermik. Sifat inilah yang coba dieksploitasi oleh sistem yang sejenis dengan Nikuba. Dengan memisahkan air menjadi unsur penyusunnya, yaitu hidrogen dan oksigen, efisiensi pembakaran di ruang mesin dapat ditingkatkan dengan tambahan suplai hidrogen ini.

Masalah timbul dari dua hal, yakni kandungan energi potensial dalam air dan efisiensi sistem. Secara potensial, klaim Nikuba tidak masuk akal. Dalam satu liter air, terdapat 111 gr hidrogen. Dengan asumsi high heating value (HHV), berarti satu liter air tersebut mengandung potensi energi sebesar 4,378 kWh. Seberapa jauh jarak yang bisa ditempuh?

Sepeda motor ICE menggunakan bensin yang memiliki densitas energi 9,5 kWh/liter. Tipikal konsumsi BBM sekitar 50 km/liter. Dari angka ini, didapatkan konsumsi energi spesifik sepeda motor ICE sebesar 0,19 km/kWh. Semisal sistem sejenis Nikuba mampu meningkatkan efisiensi pembakaran mesin dari 25% menjadi 50%, maka total 111 gr hidrogen dalam satu liter air mampu menempuh ± 46,1 km. Sangat jauh dari klaim 300 km. Seandainya pun efisiensi sistem mesin bisa naik menjadi 90%, tetap saja jarak yang ditempuh hanya mencapai ±83 km, maksimal. Ini hanya 27,6% dari jarak yang diklaim oleh Nikuba. Ditinjau dari hukum fisika saja, klaim Nikuba sudah terbukti hoaks.

Masalah lebih parah ketika mempertimbangkan efisiensi sistem. Hukum Termodinamika II mengimplikasikan bahwa tidak ada efisiensi sistem 100%, demikian pula pada sistem sejenis Nikuba. Sistem ini mengandalkan proses bernama elektrolisis untuk memecah air menjadi hidrogen dan oksigen. Dari mana listrik untuk elektrolisis didapatkan? Dari baterai/accu kendaraan. Masalahnya, baterai sepeda motor berdaya sangat kecil. Kapasitas penyimpanan daya accu sepeda motor hanya 60 Wh. Dengan efisiensi elektrolisis 100% saja, hanya bisa dihasilkan 1,5 gr hidrogen. Jika daya accu dinaikkan menjadi 5 kWh, dapat dihasilkan 126 gr hidrogen. Namun, sama sekali tidak mungkin untuk memasang accu 5 kWh di sepeda motor.

Realitasnya, efisiensi electrolyser selalu lebih rendah dari 100% sehingga lebih sedikit lagi hidrogen yang dapat diproduksi oleh sistem sejenis Nikuba.

Oleh sebab itu, ditinjau dari hukum fisika maupun system engineering, jelas bahwa klaim Nikuba adalah klaim abal-abal. Teknologi Nikuba bukanlah teknologi canggih, melainkan hanya pseudosains. Brown gas yang menjadi basis pengembangan Nikuba pun pada dasarnya hanya meningkatkan efisiensi pembakaran mesin, tetapi studi yang telah dilakukan selama ini tidak pernah dilakukan dalam jangka panjang dan mempertimbangkan aspek lain seperti elektrikal untuk menguji kelayakannya.

Walhasil, secara teknis, sistem ala Nikuba tidak lebih daripada fringe science, bahkan pseudosains. Tidak heran jika peneliti BRIN maupun dosen universitas bersikap skeptis terhadap klaim Nikuba. Ditambah lagi keengganan Aryanto untuk menguji alatnya di laboratorium untuk mengetes akurasi klaim dan fenomena fisis di baliknya, menjadi indikasi kuat bahwa alat ini memang bermasalah.

Inovasi dalam Islam

Pada dasarnya, Islam mendorong diciptakannya inovasi-inovasi baru yang bersumber dari penelaahan terhadap alam semesta. Allah Swt. dalam Al-Qur’an sering mendorong manusia untuk mengamati dan memikirkan alam semesta, sebagaimana ayat berikut.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (QS Ali Imran: 190).

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana ia diciptakan? Dan langit bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?”(QS Al-Ghasyiyah: 17—20).

Pengamatan terhadap alam semesta ini termasuk memahami mekanisme fisis dari terjadinya fenomena-fenomena di alam. Hasil pengamatan inilah yang kemudian dapat diaplikasikan dalam kehidupan, seperti fenomena gravitasi yang membuat air mengalir dari tempat tinggi ke tempat rendah, pasang surut air laut akibat gravitasi bulan, sifat atom yang tidak stabil seiring dengan nomor massa makin tinggi, ikatan kimia dari berbagai jenis senyawa, dan sebagainya.

Dengan tafakuralam semesta inilah, para ilmuwan pada era peradaban Islam berhasil memahami proses fisis fenomena yang terjadi di alam dan merekayasanya untuk kemaslahatan umat. Penemuan kamera obscura dan lensa pembesar oleh Hasan ibnu al-Haitsam merupakan hasil pengamatan terhadap fenomena pantulan berkas cahaya. Jabir al-Hayyan berhasil menyintetis berbagai senyawa alkohol dengan mengamati sifat-sifat kimia benda. Abbas bin Firnas merancang mekanisme penerbangan manusia pertama dari pengamatan terhadap aerodinamika pada burung, dan sebagainya.

Dari sini, dapat dipahami bahwa penemuan dan inovasi saintek merupakan hal yang amat didorong oleh Islam dan telah sejak lama diterapkan oleh ilmuwan muslim pada era kejayaan Islam. Khususnya inovasi dan penemuan yang bermanfaat bagi Islam dan kaum muslim secara langsung, baik untuk keperluan dakwah dan jihad maupun untuk peningkatan taraf hidup umat secara umum.

Di sisi lain, syarak juga melarang manusia untuk berbohong, apalagi menipu.

“Dan janganlah kamu mencampuradukkan kebenaran dengan kepalsuan atau (janganlah kamu) menyembunyikan kebenaran sedang kamu mengetahuinya.” (QS Al-Baqarah: 42).

“Barang siapa yang menipu, maka ia tidak termasuk golongan kami.” (HR Ibnu Hibban).

Kadang kala, demi alasan-alasan duniawi, seperti ketenaran atau jabatan, merekayasa hasil penelitian pun rela dilakukan. Klaim-klaim bombastis, melebih-lebihkan, tidak sesuai realitas, pun mudah dilontarkan ke ruang publik. Celaan Rasulullah saw. bahwa “penipu bukan golongan kami” merupakan indikasi kuat (qarinah jazm) bahwa penipuan ini haram hukumnya.

Dengan begitu, usaha dalam merancang penemuan dan inovasi baru selayaknya tidak membuat seseorang sampai melakukan pemalsuan hingga penipuan. Ada adagium, “Ilmuwan boleh salah, tetapi tidak boleh bohong.” Proses penelitian dan pengembangan sering kali menemukan kesalahan di dalamnya dan ini adalah hal wajar, tidak masalah. Entah karena kesalahan pengamatan, kesalahan parameter, maupun kekeliruan dalam instrumen penelitian. Namun, ketika hasil penemuan diklaim tidak sesuai realitasnya, ataupun terdapat kebohongan hingga kecurangan dalam mendapatkan hasil yang diinginkan, hal-hal demikian inilah yang diharamkan oleh syarak.

Termasuk dalam kebohongan ini adalah klaim yang melanggar hukum fisika. Hal ini mengingat hukum fisika pada dasarnya adalah sunatullahatau kadaryang ditetapkan oleh Allah Swt. terhadap makhluk ciptaan-Nya. Tidak ada yang bisa mengubah-ubah sunatullah,kecuali atas izin-Nya. Manusia hanya bisa mengobservasi.

Dalam sains, ada hal-hal yang sudah terkategori terbukti kebenarannya (wajib ‘aqli), seperti Hukum Termodinamika II dan bentuk bumi yang bulat tidak sempurna. Oleh karenanya, klaim yang melanggar aspek sains yang sudah wajib ‘aqli merupakan bentuk kebohongan terhadap kadaryang Allah Swt. tetapkan atas makhluk-Nya.

Khilafah Menjamin Inovasi (dan Mencegah Penipuan)

Ketiadaan Khilafah Islamiah menjadikan umat Islam berada dalam titik nadir peradaban. Alih-alih menjadi pionir, umat Islam malah menjadi yang terbelakang dalam berbagai hal. Tidak heran jika mayoritas penemuan-penemuan yang menjadi breakthrough dalam bidang sains dan teknologi pada masa ini berasal dari negara-negara kafir.

Ketika Khilafah Islamiah berdiri kembali atas izin Allah, Khilafah akan kembali menjadi negara pionir dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk sains dan teknologi. Berbagai macam inovasi dalam bidang sains dan teknologi—tentu saja—akan didorong dan didukung oleh negara. Hal ini ditunjang dengan beberapa aspek.

Pertama, perbaikan sistem pendidikan.

Ideologi sekuler kanan (memisahkan kehidupan dari agama) maupun kiri (memisahkan agama dari kehidupan) akan ditanggalkan dari kurikulum pendidikan. Sistem pendidikan Islam dalam Khilafah menjamin pembentukan kepribadian Islam (syahsiah islamiah) yang kuat dalam diri peserta didik.

Secara logis, kepribadian Islam yang unggul akan membentuk kesadaran kolektif bahwa penguasaan sains dan teknologi adalah fardu kifayah dan sebagian dari mereka akan dengan serius mempelajari hal tersebut. Sementara itu, sebagian lainnya akan memahami untuk menyerahkan urusan pada yang paham sehingga mereka tidak sembarangan menerima klaim-klaim kosong.

Dari sini, pendidikan Islam yang diterapkan secara kafah secara mendasar akan memperbaiki literasi sains umat, sekalipun tidak didedikasikan khusus untuk itu. Perbaikan literasi sains akan menurunkan potensi adanya kebohongan dan penipuan dalam upaya melakukan inovasi saintek, serta meningkatkan skeptisisme umat terhadap klaim-klaim penemuan yang tidak masuk akal.

Kedua, dukungan fasilitas, anggaran, dan peta jalan riset.

Proses inovasi dari dasar hingga penerapan secara massal membutuhkan anggaran besar dan fasilitas memadai. Khilafah berperan besar dalam penyediaan dana dan fasilitas penelitian dalam rangka riset dan inovasi, tidak hanya untuk mereka yang bekerja di departemen terkait litbang dan universitas, melainkan juga pada masyarakat secara umum.

Negara dapat mendorong inovasi saintek di tengah masyarakat dengan berbagai insentif riset. Selain itu, para aghniya’ (orang kaya, ed.)juga didorong untuk berinvestasi dalam riset saintek, sebagaimana pada era Khilafah dahulu para aghniya’ berlomba-lomba membiayai pembangunan observatorium yang menjadi pijakan saintek umat Islam pada masanya.

Fasilitas dan anggaran tidak ada artinya jika tidak ada peta jalan yang jelas. Oleh karenanya, Khilafah akan membuat peta jalan riset mulai dari Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TKT) 1—9. Khilafah akan membedakan mana alur untuk riset teknologi terapan dan tepat guna dengan saintek fundamental. Arah dan tujuan riset dibuat jelas, yakni untuk mendukung dakwah dan jihad, serta kemaslahatan umat dalam menjalani kehidupan.

Ketiga, disinsentif terhadap kebohongan dan penipuan.

Klaim-klaim inovasi yang tidak berdasar, tidak teruji, bahkan cenderung pada penipuan, akan diberi disinsentif, mulai dari pemutusan anggaran dan izin penggunaan fasilitas, blacklist dari program insentif riset masa depan, hingga sanksi berupa denda, bahkan pidana. Hal terakhir dapat diterapkan jika kebohongan dan penipuan yang dilakukan terkait klaim inovasi ini terbukti merugikan masyarakat, mulai dari kerugian materi hingga terancamnya nyawa.

Karakter masyarakat yang dibentuk dengan syahsiah Islam juga menjadi disinsentif tersendiri bagi praktik kebohongan dan penipuan berkedok inovasi. Ini mengingat umat yang memiliki literasi sains kuat akan senantiasa skeptis terhadap klaim-klaim tidak wajar sehingga mengurangi peluang terjadinya penipuan berkedok inovasi tersebut.

Khatimah

Ramainya isu Nikuba hanyalah salah satu puncak gunung es dari begitu kompleks dan mengakarnya masalah terkait saintek di tengah umat Islam. Fenomena ini mustahil bisa diurai dan dibereskan dalam paradigma sistemis berbasis kapitalisme sekuler seperti sekarang.

Mustahil umat Islam dapat bangkit dalam sistem yang menanggalkan ajaran agamanya sendiri. Rendahnya literasi umat, keterbelakangan umat Islam dalam saintek, serta maraknya berbagai klaim abal-abal berkedok inovasi, merupakan masalah cabang dari tidak diterapkannya syariat Islam di muka bumi ini.

Oleh karenanya, penerapan syariat dalam institusi Khilafah Islamiah adalah satu-satunya jalan agar umat Islam mampu bangkit dalam aspek saintek, melahirkan berbagai inovasi yang mendukung umat Islam dalam membawa rahmat bagi semesta alam. Wallahualam bissawab. [MNews/Gz]

Foto sampul: CNN Indonesia

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *