[Bagian 2/5] Health for All, Urgensi Politik Kesehatan Islam (Catatan bagi Agenda Transformasi dan RUU Kesehatan)

[Bagian 2/5] Health for All, Urgensi Politik Kesehatan Islam (Catatan bagi Agenda Transformasi dan RUU Kesehatan)

Bagian 2: Alarm Kapitalisme, sambungan dari Bagian 1: Salah Respons.

Penulis: Dr. Rini Syafri

Muslimah News, FOKUS — Kerusakan kesehatan bani insan tengah berlangsung. Health for All yang dinarasikan WHO sebagai tujuan politiknya, terbukti hari ini telah gagal kendati dinyatakan ada peningkatan derajat kesehatan masyarakat.[1] Klaim ini sungguh memalukan sebab ada ratusan juta pengidap berbagai persoalan kesehatan, baik fisik, mental, spiritual, maupun sosial.

Kerusakan kesehatan hebat itu ditunjukkan oleh penyakit tidak menular (PTM) yang menjadi pembunuh utama dan penyumbang lebih dari 80% kematian selama satu dekade terakhir. Kardiovaskuler, kanker, pernapasan kronis, dan diabetes, telah membunuh 41 juta orang setiap tahunnya, setara 74% kematian global.[2]

Selain itu, kerusakan kesehatan hebat juga ditunjukkan dari berbagai penyakit menular (communicable diseases), seperti tuberkulosis (TB), malaria, hepatitis, penyakit tropis terabaikan, HIV/AIDS, dan Covid-19. Meski berkurang, tetapi angkanya masih tetap sangat tinggi. Bahkan, TBC menjadi pembunuh terbesar kedua dunia setelah Covid-19.

Kerusakan kesehatan bani insan yang demikian mengerikan juga ditunjukkan oleh tingginya pengidap penyakit mental. Tercatat ada 700.000 orang bunuh diri setiap tahunnya karena kecemasan, depresi, psikosis, serta gangguan neurologis dan penggunaan zat berbahaya (narkoba dan psikotropika).

Alarm itu juga datang dari tingginya kerusakan kesehatan pada anak-anak. Misal, pada 2020, anak berusia di bawah lima tahun tercatat menjadi penyumbang 77% (487.000) dari semua kematian akibat malaria di seluruh dunia. Pada tahun yang sama, lebih dari semiliar orang, di antaranya anak-anak, dirawat untuk setidaknya 1 dari 5 neglected tropical diseases (NTD).[3] Sedangkan anak-anak adalah di antara kelompok rentan yang seharusnya mendapat perhatian serius dalam perawatan kesehatan.

Permasalahan di atas merupakan gambaran kesehatan dunia hari ini. Alarm kerusakan kesehatan juga terdengar begitu kuat di Indonesia sendiri. Fakta itu terbukti dengan terus berlangsungnya peningkatan jumlah pengidap sejumlah penyakit degeneratif, seperti kanker, jantung, dan diabetes.[4] Juga penyakit menular, seperti TBC dan HIV/AIDS. Ditambah gangguan kesehatan jiwa dengan peningkatan hampir dua kali lipat, yaitu sekitar 20 juta jiwa.[5]

Ini baru sebagian fakta yang terungkap. Sesuai kaidah fenomena gunung es, angka sesungguhnya tentu jauh lebih besar lagi. Namun, itu saja sudah cukup menjadi bukti bahwa pencanangan kembali Health for All oleh WHO adalah alarm bagi dunia, khususnya Indonesia dengan bonus demografinya.

Inilah bahaya politik kesehatan kapitalisme sekularisme, baik pencanangan hal itu pada anniversary ke-75-nya pada 7-4-2023, maupun pada Sidang ke-76 Majelis Kesehatan Dunia (WHA) pada 20—30 Mei 2023.[6]

Penting pula untuk dicatat, alarm bahaya politik kesehatan kapitalisme sudah terindra sejak dua dekade keberadaan WHO, yakni 53 tahun lalu pada 1970-an. Namun, hal itu tidak dihiraukan, bahkan malah melakukan penguatan komitmen dunia terhadap politik kesehatan kapitalisme melalui konferensi pelayanan kesehatan primer berupa Deklarasi Alma-Ata pada 2000. Penandatanganan dan dukungan luar biasa pun diberikan pemerintah seluruh dunia. Hasilnya, kegagalan dan kerusakan hebat kesehatan bani insan terus berlangsung hingga kini. [MNews/Gz]

Bersambung ke Bagian 3: Saatnya Ditinggalkan.


[1]https://www.who.int/news-room/events/detail/2023/04/07/default-calendar/world-health-day-2023-health-for-all; WHO’s 75th anniversary year is an opportunity to look back at public health successes that have improved quality of life during the last seven decades. It is also an opportunity to motivate action to tackle the health challenges of today  ̶ and tomorrow.

[2]https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/noncommunicable-diseases. Noncommunicable diseases (NCDs), also known as chronic diseases, tend to be of long duration and are the result of a combination of genetic, physiological, environmental and behavioural factors.

[3]https://www.who.int/about/accountability/results/2018-2019/communicable-diseases; are among the leading causes of death and disability in low-income countries and marginalized populations.

[4] https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/umum/20221010/4041246/kemenkes-kembangkan-jejaring-pelayanan-kesehatan-jiwa-di-seluruh-fasyankes/

[5] https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/umum/20181102/0328464/potret-sehat-indonesia-riskesdas-2018/

[6]https://www.who.int/about/governance/world-health-assembly/seventy-sixth-world-health-assembly; Sidang WHA berlangsung 20—30 Mei 2023 bertajuk “WHO at 75: Saving lives, driving Health for All” Friday, 26 May 2023, 13:00–14:15 CEST. A safer and healthier tomorrow through restoring essential immunization today. 67 million children missed at least one dose of essential vaccines between 2019 – 2022 in support of #HealthForAll.

Share

One thought on “[Bagian 2/5] Health for All, Urgensi Politik Kesehatan Islam (Catatan bagi Agenda Transformasi dan RUU Kesehatan)”

  1. Butuh segera sistem yang menjamin kesehatan masyarakat yang paripurna itulah sistem islam di bawah naungan khilafah islamiyyah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *