[Kabar] Jargon Sekolah Negeri Gratis, Pemerhati: Hanya Isapan Jempol

[Kabar] Jargon Sekolah Negeri Gratis, Pemerhati: Hanya Isapan Jempol

Muslimah News, NASIONAL — Anggota DPR RI Dedi Mulyadi melontarkan kritik terhadap perencanaan pembangunan SMA/SMK di Jawa Barat, menyusul munculnya istilah “infak pendidikan” yang harus dipenuhi orang tua siswa.

Anggota DPR komisi VI itu menjelaskan, kemunculan istilah “infak pendidikan” menunjukkan adanya kebutuhan pembangunan sekolah yang belum diakomodasi Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

“Andai Pemprov Jabar membuat rencana pembangunan, dibuat skala prioritas, diutamakan pendidikan, maka fasilitas sekolah cukup,” kata Dedi dikutip dari Pikiran Rakyat (25-6-2023).

Isapan Jempol

Pemerhati pendidikan dan remaja Diansyah Novi Susanti, S.Pt. menilai, masih adanya “infak pendidikan” ini menunjukkan bahwa jargon sekolah negeri gratis hanya isapan jempol.

“Adanya jargon sekolah negeri gratis, tampaknya hanya sebuah isapan jempol,” tuturnya kepada MNews, Sabtu ( 1-7-2023).

Ia memberikan alasan, pada faktanya banyak sekolah negeri yang kekurangan dana dalam menyelenggarakan proses pendidikan, yang pada akhirnya melalui komite sekolah meminta bantuan berupa dana pendidikan untuk mencukupi kebutuhan pendidikannya. “Tentunya hal ini makin memberatkan orang tua,” kritiknya.

Sebenarnya, lanjut Novi, pemerintah tetap berkomitmen menjaga 20% besaran anggaran biaya pendidikan, tetapi ia mempertanyakan adakah kontrol yang ketat dari pemerintah.

“Dengan dana sebesar itu apakah ada kontrol dari pemerintah sehingga dana yang dikeluarkan tepat sasaran dan tidak diselewengkan atau dikorupsi oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab?” tanyanya retorik.

Ia menegaskan, perencanaan anggaran dan kontrol yang ketat dari pemerintah dan semua pihak itu penting agar dana yang dikeluarkan dapat digunakan sebagaimana yang tercantum dalam arah kebijakan anggaran pendidikan tahun 2023.

Regulator

Novi mengatakan, dalam sistem kapitalis negara hadir hanya sebagai regulator. “Dalam hal pembiayaan pendidikan seringkali apa yang diberikan belum bisa memenuhi kebutuhan sekolah,” tandasnya.

Saat ini pun, ucapnya, sekolah negeri dengan jargon gratis, output pendidikannya relatif apa adanya. “Dengan keterbatasan dana yang dimiliki, maka penunjang jalannya pendidikan juga terbatas. Tidak heran jika banyak ditemui adanya sekolah-sekolah yang sudah tidak layak untuk digunakan, minimnya sarana dan prasarana sehingga menyulitkan proses pembelajaran berjalan dengan baik,” ulasnya.

Hal ini, sambungnya, tentu akan berbeda dengan sekolah-sekolah yang berbiaya cukup mahal secara mandiri, dapat memenuhi kebutuhan sarana prasarana, guru lebih terjamin, maka proses pembelajaran dapat berjalan lebih lancar. Tentu saja, tegasnya, akan memengaruhi output dari proses pendidikan itu sendiri.

Gratis

Novi lalu membandingkan dengan sistem pendidikan Islam yang menjamin pendidikan gratis bagi seluruh warga negara karena pendidikan merupakan hak seluruh warga negara.

“Dalam sistem pendidikan Islam, orang tua tidak dibebani dengan biaya yang mahal. Jikalau pun harus membayar, maka dengan biaya yang murah. Semua infrastruktur, gaji guru, prasarana dipenuhi oleh negara,” bebernya.

Menurutnya, sistem pendanaan pendidikan yang digunakan dalam Islam dapat diperoleh dari kas negara yang disebut baitulmal. “Pos pemasukan baitulmal dari harta milik umum, harta milik negara, dan zakat. Dari pos harta yang mana yang akan digunakan untuk pembiayaan pendidikan, maka dikembalikan lagi kepada kebijakan khalifah,” jelasnya.

Jika baitulmal kosong, ucapnya, khalifah akan bertanggung jawab penuh untuk dapat memenuhi kebutuhan pendidikan warganya. Khalifah menyadari bahwa kepemimpinannya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

“Islam sangat memperhatikan generasi yang lahir dari sebuah sistem pendidikan yang mampu mencetak generasi unggul, generasi khairu ummah yang mampu mencetak para ahli sains dan teknologi dan berkepribadian Islam,” ungkapnya.

Novi menerangkan, dalam Khilafah tidak akan ada lagi ditemui pungutan-pungutan biaya pendidikan yang memberatkan warga negaranya.

“Saatnya, kita menumbuhkan kesadaran umat bahwa Islam adalah sistem terbaik dalam mengatur kehidupan ini,” pungkasnya. [MNews/IA]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *