[Kabar] Haji, Momen Memunculkan Perubahan

[Kabar] Haji, Momen Memunculkan Perubahan

Muslimah News, NASIONAL — Saat Zulhijah, kaum muslim menjalankan ibadah haji. Ustaz Ali Muslim menjelaskan bahwa haji memiliki pelajaran berharga. “Haji adalah momen memunculkan perubahan,” tuturnya dalam “Haji dan Gerakan Perubahan” di Kanal Khilafah Channel Reborn, Selasa (20-6-2023).

Pada masa dahulu, ujarnya, jemaah haji memerlukan pengorbanan besar untuk bisa ke Tanah Suci. “Masa awal-awal, kaum muslim asal Jawa perlu waktu setengah tahun untuk perjalanan haji. Mereka melewati rute Aceh, India, Oman, Yaman, terakhir Laut Merah agar sampai ke Makkah. Kadang harus berhadapan dengan perompak. Jika lolos, mereka selamat,” kisahnya.

Perjalanan haji menjadi lancar setelah pembukaan Terusan Suez. “Mereka menggunakan kapal uap melalui terusan itu mulai 1869,” tambahnya.

Kemudahan ini menurutnya membuat jemaah haji yang sebelumnya bermukim di Arab bisa pulang ke sini. “Mereka tercerahkan di sana, mendapat ilmu, dan pulang melakukan perlawanan kepada para penjajah kolonial,” terangnya.

Oleh karena itu, ia menyimpulkan bahwa para jemaah haji yang pulang dari Makkah kemudian melakukan perubahan dengan melawan para kolonial.

Dipersulit Penjajah

Akan tetapi, meski para jemaah haji dahulu mendapat kemudahan perjalanan, menurutnya tidak serta-merta membuat perjalanan haji menjadi mudah. “Jemaah haji dipersulit oleh penjajah,” katanya.

Kolonial menandai para pemberontak yang melawannya dan memberi gelar “Haji” dan “Hajah” agar penjajah dapat membedakan pemberontak atau bukan. Agar jemaah haji bisa berangkat, mereka mengirim surat ke Sultan Abdul Hamid, Khalifah kala itu. “Mereka menulis surat jika kapalnya dihalangi oleh Portugis,” ungkapnya.

Akhirnya, Sultan Abdul Hamid memiliki proyek Kereta Hijaz yang rencananya akan menghubungkan Makkah dengan India. Akan tetapi, lanjutnya, pengkhianatan Raja Saud membuat proyek itu gagal. “Lika-liku ini membuat jemaah haji pulang menjadi pemberontak kolonial,” terangnya.

Momen Persatuan

Ia juga menekankan bahwa haji merupakan momen persatuan bagi umat Islam. “Mereka punya pemikiran sama, perasaan sama, sama-sama memenuhi panggilan yang sama,” ungkapnya.

Ketika menjalankan ibadah, ujarnya, mereka digerakkan dengan kekuatan akidah. “Tanpa ada komando, mereka wukuf, berjalan ke Musdalifah, ke Mina. Mereka kemudian lempar jumrah supaya membuang jauh-jauh sifat setan yang mengandalkan hawa nafsu,” jelasnya.

Ia memandang kondisi ini membuktikan bahwa umat ini kuat, satu, tidak bisa dibandingkan dengan apa pun. Ketundukan kepada Allah pula yang membuat umat tidak punya penyakit wahn, “Yaitu cinta dunia dan takut mati sehingga mereka bisa berkorban untuk Allah. Mereka melakukan itu dengan landasan takwa, ilmu dan tekat yang kuat,” tegasnya.

Namun, ia menyatakan momen ini menjadi kurang terasa karena ketika di Arafah, mereka hanya mendengar khotbah yang dilakukan oleh pemimpin rombongan. Menurutnya, ini berbeda dengan saat Nabi saw. dahulu.

Tidak Membawa Perubahan

Banyaknya jemaah haji saat ini yang tidak membawa perubahan sebagaimana zaman dahulu, turut disesalkan olehnya. Ia menegaskan penyebabnya adalah sekat nasionalisme. Ia juga menyebut ada pengaruh sistem kehidupan terhadap dampak pelaksanaan ibadah haji pada jemaah sekarang. Penerapan sistem itu kemudian membuat kehidupan tewarnai.

“Seperti gelas dengan air, gelas yang berkerak akan mengubah warna air menjadi seperti kerak. Begitu pula haji, jika saat ini dekat dengan pandangan manusia, maka haji ikut pandangan manusia (mayoritasnya). Jadi wajar kalau haji [akhirnya] sebatas materi,” tuturnya.

Sementara itu, soal proses berhaji saat ini, ia menilai sudah termasuk mudah. Cukup dengan membayar uang, sudah bisa berhaji. “Tidak peduli dari uang apa, padahal haji yang memakai biaya haram itu bakal ditolak Allah,” ujarnya miris. Hal inilah yang menurutnya mengakibatkan ibadah hajinya tidak akan berpengaruh besar bagi perubahan umat. [MNews/Hen]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *