[Kabar] Kebijakan Kepala Sekolah Berstandar Industri, Pengamat: Mengerdilkan Fungsi Guru

[Kabar] Kebijakan Kepala Sekolah Berstandar Industri, Pengamat: Mengerdilkan Fungsi Guru

Muslimah News, NASIONAL — Kemendikbudristek sedang mengimplementasikan paket 8+i link and match dalam rangka membentuk kepala sekolah berstandar industri. Kemendikbudristek mengatakan, kebutuhan industri tidak sekadar hard skill, tetapi juga soft skill, seperti sikap kepemimpinan dan karakter. Untuk itu, para pimpinan SMK dan perguruan tinggi harus diubah mindset mengajarnya.

Ada sekitar 138 kepala sekolah SMK yang sudah lulus kompetensi program reskilling/upskilling manajerial kepala SMK berstandar industri tingkat nasional pada 2023. Hal ini diakui Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Bisnis dan Pariwisata (BBPPMPV Bispar) Kemendikbudristek, kegiatan ini dilaksanakan untuk meningkatkan kompetensi manajerial Kepala SMK berstandar industri dalam rangka melaksanakan supervisi dan manajerial.

Program ini ditargetkan untuk meningkatkan kualitas SDM serta peningkatan link and match dengan dunia kerja. Ini adalah salah satu dari sepuluh langkah strategis revitalisasi SMK oleh Kemendikbudristek. Untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas, maka perlu adanya kepala sekolah yang berkualitas dalam menjalankan operasional sekolah.

Hal ini selaras dengan peraturan Dirjen Pendidikan Vokasi No. 20 Tahun 2021 tentang Panduan Umum Pelaksanaan Kegiatan Peningkatan Kualitas dan Kompetensi Pendidik dan Tenaga Kependidikan Vokasi. Dari sini, peran guru dan tenaga pendidik bermuara kepada link and match dengan dunia industri, baik di sekolah maupun madrasah.

Pengerdilan

Namun, pengamat pendidikan dan isu generasi Yusriana justru menyesalkan kebijakan yang dinilainya mengerdilkan tugas dan fungsi guru ini.

“Tentu ini sebuah bentuk pengerdilan terhadap tugas dan fungsi guru. Dari tugasnya yang mulia, yakni mencerdaskan generasi menjadi pendidik bagi buruh korporasi,” ungkapnya.

Ia membandingkan peran guru dalam Islam yang sangat berbeda dengan sistem kapitalisme. “Dalam Islam, guru merupakan pelaku utama dalam meningkatkan SDM unggul dan berkualitas. Oleh karenanya, Islam menjadikan pendidikan sebagai perhatian utama,” ujarnya.

Tujuan pendidikan dalam Islam, jelasnya, adalah membentuk generasi ber-sakhsiyyah (kepribadian) Islam, yaitu pola pikir dan pola sikapnya sesuai dengan yang ditetapkan oleh Islam.

“Dasar kurikulum dalam pendidikan Islam adalah akidah Islam. Dengan tujuan sakhsiyyah Islam ini, seorang guru bukan hanya dituntut mengajar dengan baik, tetapi bagaimana ia mendidik anak didiknya dengan memadukan ilmu dan iman dalam pengelolaan pembelajaran. Guru yang kompeten memiliki dua nilai, yaitu kepribadian mulia dan profesionalitasnya sebagai pendidik. Di sinilah peran strategis guru untuk mewujudkan pendidikan berkualitas,” urainya.

Adapun peran politis guru, tuturnya, adalah membangun peradaban Islam secara struktural dan fundamental melalui pendidikan berbasis akidah Islam.

“Di dalam sistem pendidikan kapitalisme, peran politis guru terbajak oleh target pendidikan yang berparadigma sekuler kapitalisme karena guru dijadikan penggerak peradaban kapitalisme yang menjauhkan nilai-nilai Islam dari kehidupan,” cetusnya.

Kepemimpinan Kepala Sekolah

Sementara itu, ia mengungkapkan, kepemimpinan kepala sekolah menjadi faktor yang sangat berperan dalam sebuah lembaga pendidikan.

“Ini karena kepala sekolah menjadi pemimpin yang bertugas menggerakkan, memengaruhi, memotivasi, mengarahkan SDM yang ada di dalam lembaga pendidikan tersebut untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan,” ucapnya.

Untuk itu, menurutnya, kepala sekolah harus memiliki karakter khusus, mencakup kepribadian, keahlian dasar, pengalaman, pengetahuan administrasi, dan pengawasan.

“Tujuannya agar para siswa mampu menerapkan budaya islami dengan kesadaran bersama. Dengan begitu, suasana budaya Islam akan terlaksana secara tepat dan berkesinambungan,” tuturnya.

Ia mengutarakan, keberhasilan lembaga pendidikan sangat tergantung pada kepemimpinan kepala sekolah. “Kepala sekolah yang baik akan bersikap dinamis mempersiapkan berbagai program pendidikan. Bahkan, tinggi rendahnya mutu suatu sekolah dibedakan pula oleh kepemimpinan kepala sekolahnya. Oleh karena itu, sudah seharusnya kepala sekolah diberi kemampuan manajerial yang mumpuni untuk mendukung serta mengayomi tugas guru yang ia pimpin,” jelasnya.

Selain itu, ia menekankan, harus ditanamkan pula kepribadian Islam yang kukuh agar dapat memberikan contoh kepada guru dan siswa yang menjadi tanggung jawabnya.

Sangat Berbahaya

Jadi, ia menilai, pelatihan kepala sekolah berstandar industri justru sangat berbahaya dan makin memperlihatkan ke mana arah pendidikan kita, yaitu ke arah sekuler dan kapitalistik.

“Harus dipahami, ada bahaya besar yang mengintai di balik arah pendidikan kapitalistik berasaskan sekuler karena akan mengajarkan nilai yang bersifat materi semata serta jauh dari nilai-nilai Islam,” tukasnya.

Tidak heran, lanjutnya, jika di sekitar kita kriminalitas remaja makin meningkat. “Pendidikan akhlak makin tergerus. Penanaman sekularisme akan menghasilkan generasi yang gersang iman dan menjadikan materi segala-galanya. Pelajar hanya dididik untuk siap bersaing di dunia kerja agar bisa hidup mandiri dan memiliki penghasilan dalam rangka memenuhi kebutuhan konsumtif bagi mereka,” sesalnya.

Sementara itu, ia menyatakan, terkait perilaku dan akhlak, negara menganut ide kebebasan bertingkah laku sehingga pembentukan kepribadian dan karakter hanya bersifat formalitas. “Selama dianggap tidak mengganggu kepentingan orang lain, maka perilaku mereka dilindungi peraturan yang berlaku,” ujarnya.

Menyebarkan Kebaikan Islam

Oleh karena itu, ia mengingatkan, hendaknya kita sebagai muslim dapat mengambil peran untuk terus menyebarkan kebaikan Islam. “Tujuannya agar umat makin paham betapa bahayanya sistem pendidikan kapitalisme dan begitu hebatnya ajaran Islam. Bahkan, dengan menerapkan ajaran Islam, tentunya hidup kita akan berkah,” tandasnya sekaligus menutup dengan firman Allah dalam surah Al-Maidah ayat 50, 

“Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki? (Hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang meyakini (agamanya)?” [MNews/Ruh]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *