Muslimah News, NAFSIYAH — Allah Taala berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Jika kalian menolong (agama) Allah, maka Allah akan menolong kalian dan meneguhkan kaki kalian.” (QS Muhammad: 7).
Imam Ar-Razi menafsirkan ayat di atas bahwa ada tiga kriteria yang akan meraih pertolongan dari Allah. Pertama, mereka yang menolong agama/syariat Allah. Kedua, mereka yang menolong perjuangan-Nya. Ketiga, mereka yang menolong kelompok atau orang yang berjuang, memperjuangkan agama-Nya.
Jika kita merupakan salah satu di antara ketiga kriteria di atas, barulah kita termasuk yang diberikan pertolongan oleh Allah. Seperti Sahabat Rasulullah saw., Sa’ad bin Mu’adz mendapatkan kemuliaan dari Allah karena menolong Islam. Saat Islam membutuhkannya ia tampil mengambil peran.
Mari kita tengok kisah heroik Sa’ad bin Mu’adz menjadi martir dalam perjuangan-Nya. Sa’ad mengabdi dan berjuang untuk Islam karena pilihannya. Dalam kurun waktu yang singkat, ia telah mengukir banyak momen kepahlawanan yang luar biasa.
Ketika Rasulullah saw. berada dalam perang di Badar, Sa’ad mewakili orang-orang Ansar memberikan sikap dan dukungan yang tegas. Pada Perang Uhud yang bergejolak, Sa’ad menjadi perisai Rasulullah, tegak berdiri di sisi beliau. Pada Perang Khandaq, Sa’ad turut mempertahankan Kota Madinah mati-matian. Ia sampai terluka terkena panah dari Hibban bin Qais al-Araqah.
Saat rasa sakit karena luka yang terus memburuk, Sa’ad berdoa, “Ya Allah, janganlah Engkau cabut nyawaku sampai aku menyelesaikan urusanku dengan Bani Quraidzah.”
Saudariku, pernahkah kita memiliki sikap yang sama seperti Sa’ad bin Mu’adz? Memohon kepada Allah agar dipanggil ke sisi-Nya ketika kita benar-benar telah menunaikan amanah dakwah, atau memohon kepada Allah agar tetap diberikan kekuatan di kala sakit melanda untuk istikamah pada jalan perjuangan. Bukannya memilih mundur dari medan dakwah.
Kita harus bersunguh-sungguh melayakkan diri agar masuk dalam ketiga kriteria orang yang meraih pertolongan-Nya. Ini karena sejatinya tiada pertolongan yang bisa menolong kita di dunia dan akhirat selain pertolongan dari Allah Taala.
Pengorbanan Saad bin Mu’adz pada Islam membuat Rasulullah saw. makin mengasihinya dan berdoa kepada Allah, “Ya Allah, sesungguhnya Sa’ad ini telah berjuang di jalan-Mu, maka terimalah ruhnya dengan penerimaan yang sebaik-baiknya.”
Detik-detik Sa’ad kembali ke sisi Rabbnya, ia melihat wajah Rasulullah yang mulia. Ia mengucapkan, “Assalamu’alaika, ya Rasulullah. Ketahuilah bahwa saya mengakui bahwa Anda adalah Rasulullah.”
Rasul memandang wajah Sa’ad dan berkata, “Kebahagiaan bagimu, wahai Abu Amr!”
Sungguh kematian yang sangat indah, Rasul saw bersabda, “Sungguh, kematian Sa’ad membuat Arsy Allah terguncang.”
Kita pun merindukan kematian yang indah seperti Sa’ad bin Mu’adz. Namun, tidak ada artinya rindu jika kita tidak mengambil peran besar dalam perjuangan-Nya. Kita masih lalai dalam menunaikan amanah dakwah. Kita tersibukkan dengan dunia sehingga tidak memiliki waktu untuk memikirkan perjuangan-Nya.
Oh, betapa malunya kita, berharap pertolongan Allah Taala dan mengharapkan duduk bersama Rasulullah saw. di telaganya, tetapi minim amal perjuangan. Sesungguhnya kita yang membutuhkan Allah. Kita membutuhkan dakwah sebagai jalan meraih pertolongan-Nya.
Firman Allah, “Wahai hamba-Ku, andai seluruh manusia dan jin dari yang paling awal sampai yang paling akhir. Seluruhnya menjadi orang yang paling bertakwa, hal itu sedikit pun tidak menambah kekuasaan-Ku. Wahai hamba-Ku, andai seluruh manusia dan jin dari yang paling awal sampai yang paling akhir, seluruhnya menjadi orang yang paling bermaksiat. Hal itu sedikit pun tidak mengurangi kekuasaan-Ku.” (HR Muslim).
Saudariku, tetapkan hati dan kuatkan komitmen kita untuk menjadi penolong agama-Nya. Mendakwahkan Islam dan berkorban untuk menegakkan agama-Nya. Tujuannya untuk mengharap wajah Allah Taala. Wallahualam bissawab. [MNews/Rndy]
