Dorong Penerapan Riset Perguruan Tinggi, Penguasa Bagai “Menepuk Air di Dulang, Tepercik Muka Sendiri”

Dorong Penerapan Riset Perguruan Tinggi, Penguasa Bagai “Menepuk Air di Dulang, Tepercik Muka Sendiri”

Penulis: Nindira Aryudhani, S.Pi., M.Si.

Muslimah News, OPINI — Kepala Staf Kepresidenan KSP Moeldoko mendorong perguruan tinggi terus melakukan riset di bidang ketahanan pangan dan energi. Selain itu juga membantu sosialisasi kebijakan pemerintah terkait ketahanan pangan dan energi kepada masyarakat melalui Tri Dharma Perguruan Tinggi. Moeldoko menegaskan, dunia tengah menghadapi tiga krisis besar, yakni pangan, energi, dan keuangan. Hal ini ia sampaikan saat kuliah umum terkait ketahanan pangan di Universitas Jember (UNEJ), Jember, Jawa Timur, Jumat (24-3-2023).

Tidak hanya itu, Moeldoko juga mengkritik hasil-hasil penelitian yang sering kali berakhir di laci meja kampus-kampus. Padahal, tidak sedikit hasil penelitian dari perguruan tinggi yang berpotensi menjadi alat pengungkit bagi kebaikan masyarakat jika diaplikasikan dengan baik.

Moeldoko pun menyatakan bahwa hasil penelitian yang belum teraplikasikan disebabkan beberapa faktor, salah satunya adalah tidak adanya kerja sama antara institusi pendidikan tinggi dan pihak swasta sebagai pengembang.

Bagai “Menepuk Air di Dulang, Tepercik Muka Sendiri”

Pernyataan Moeldoko tersebut jelas bagai “menepuk air di dulang, tepercik muka sendiri”. Berhadapan dengan dunia riset dan pendidikan tinggi, penguasa semestinya malu dan sebaiknya koreksi diri. Komentar dan dorongannya terkait hal tersebut tidak lebih seperti omong kosong, apalagi dengan pelibatan swasta untuk pengembangan.

Kita sejatinya layak bertanya. Memangnya penguasa ke mana selama ini? Mengapa harus swasta? Apa negara sudah tidak punya uang untuk membiayai riset anak bangsa? Apakah uang negara lebih pantas dikorupsi oleh gerombolan tikus berdasi yang kian gemuk sehingga membuat mereka tidak lagi malu beramai-ramai pamer harta? Tidakkah penguasa sadar bahwa dunia riset dan pendidikan tinggi sudah sejak lama karut-marut, terutama perihal dana? Apa para peneliti harus selalu swadaya demi keberlangsungan risetnya?

Lantas, bagaimana kabar megaproyek lumbung pangan yang awalnya begitu bombastis, tetapi kini mangkrak itu? Apa kabar pula impor pangan yang menggila? Juga bagaimana status liberalisasi energi yang kerja penguasa hanya menaikkan dan menaikkan terus harga BBM dan gas elpiji? Padahal, di sisi lain, penguasa tahu bahwa inflasi pangan dan energi adalah biang resesi sekaligus penghancur ekonomi rumah tangga. Benar-benar memalukan!

Polemik Penta-Helix

Bicara tentang dunia riset dan perguruan tinggi, kita tidak bisa melepaskannya dari konsep penta-helix yang tentu saja pekat dengan polemik. Konsep penta-helix sendiri adalah pelibatan multipihak yang terdiri dari unsur pemerintah, akademisi, badan atau pelaku usaha, masyarakat atau komunitas, dan media, bersatu padu berkoordinasi serta berkomitmen untuk mengembangkan inovasi pengetahuan yang berpotensi untuk dikapitalisasi atau ditransformasi menjadi produk maupun jasa yang bernilai ekonomis.

Salah satu tujuan pendekatan penta-helix diklaim dalam rangka penguatan ketahanan ekonomi masyarakat untuk menemukan pola kemitraan dalam pengembangan potensi suatu kawasan. Melalui pola kemitraan tersebut, diharapkan dapat mewujudkan sustainable development goals (SDGs) dalam mencapai percepatan pembangunan ekonomi, ketahanan pangan dan energi, kesejahteraan, perbaikan lingkungan hidup, serta membangun kesadaran atas keberadaan kekayaan negara.

Andai kita mau jeli, konsep ini sejatinya kemasan bagi kapitalisasi sekaligus liberalisasi riset. Pelibatan swasta/pelaku usaha—terutama yang bermodal besar, seperti korporasi—tentu menjadikan dunia riset dan perguruan tinggi tidak ubahnya “sapi perah” bagi para pemilik modal. Oleh karenanya, kedaulatan riset jelas mustahil untuk rakyat dan negara, melainkan tegak atas kepentingan pasar dan dunia usaha.

Butuh Paradigma Sahih Menuju Riset untuk Umat

Paradigma kapitalistik sungguh telah mengamputasi visi mulia dunia riset dan pendidikan tinggi. Luasnya dunia riset serta khazanah ilmu pengetahuan dan teknologi nyatanya kini tidak sejalan dengan visi mulia yang diharapkan. Tri Dharma perguruan tinggi telah dibajak hingga menjadi sekadar lips service atas nama riset, tetapi sejatinya demi menutupi kapitalisasi yang merajalela di dunia pendidikan tinggi.

Tentu sebuah realitas pahit ketika menyadari bahwa pengembangan riset di perguruan tinggi sudah dominan dengan jejaring korporasi, tidak terkecuali korporasi asing. Kapitalisasi ilmu pengetahuan telah menjadi sebuah kekuatan bisnis global yang mengendalikan tenaga kerja akademik di Indonesia.

Berbagai capaian riset sains sangat tidak berbanding lurus untuk kepentingan masyarakat luas dalam rangka kehidupan yang lebih baik. Sebaliknya, hasil-hasil riset telah dikerdilkan menjadi sekadar unggah di jurnal elite nan bergengsi. Buktinya, kemiskinan dan keterbelakangan hidup masih terjadi di sana-sini, bahkan telah menciptakan disparitas kehidupan yang sangat curam antara si miskin dan si kaya, serta yang berpendidikan dan yang tidak.

Oleh sebab itu, sebagai bagian khazanah keilmuan demi keberlangsungan hidup umat manusia, riset hendaknya dikembalikan ke muruahnya dengan mengelolanya berdasarkan paradigma sahih, yakni dari Allah Taala.

Demikian halnya, kemanfaatan dunia riset semestinya sejalan dengan sabda Rasulullah saw., “Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR Thabrani dan Daruquthni).

Juga dalam hadis, “Sesungguhnya perumpamaan petunjuk dan ilmu yang Allah mengutusku dengannya bagaikan hujan yang jatuh ke bumi. Sebagian bumi ada yang baik sehingga dapat menerima air dan menyimpannya kemudian menumbuhkan rerumputan dan tumbuhan yang banyak. Sebagian ada yang gersang (keras), tetapi dapat menampung air, lalu Allah memberikan manfaat kepada manusia dengannya sehingga manusia bisa minum, menyiram, dan bercocok tanam. Sedangkan sebagian lain bagaikan tanah gersang yang tidak bisa menahan air dan tidak pula menumbuhkan tanaman. Demikianlah perumpamaan orang yang pandai dalam agama Allah dan ilmu atau petunjuk-petunjuk dari Allah yang bisa memberi manfaat pada dirinya, ia belajar hingga pandai lalu mengajarkan ilmunya (kepada orang lain). Demikian pula perumpamaan orang yang tidak peduli dan yang tidak dapat menerima petunjuk ajaran Allah yang dengannya aku diutus.” (Muttafaq ’alaih).

Paradigma sahih menuju riset untuk umat tentu saja membutuhkan suprasistem berupa sistem politik dan ekonomi yang juga tegak atas landasan sistem sahih, yakni sistem Islam (Khilafah). Dengannya, Khilafah akan membangun sistem pendidikan tinggi yang tidak hanya berkelas dunia, tetapi juga mampu menghidupkan kembali generasi besar intelektualitas dan kreativitas, serta membuat langkah besar dalam pengembangan dan penelitian yang didedikasikan untuk menyolusi berbagai problem keumatan atau menjawab setiap tantangan zaman.

Jelas, hanya Khilafah yang mampu menjadikan ilmu pengetahuan dapat memenuhi tujuan sejatinya bagi umat manusia, yakni seperti hujan yang menguntungkan bumi ini beserta segala sesuatu di dalamnya, bukan sekadar menguntungkan pemilik modal. Wallahualam bissawab. [MNews/Gz]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *