Penulis: Nabila Ummu Anas
Muslimah News, TARIKH KHULAFA — Marwan bin Muhammad bin Marwan bin Al Hakam (Marwan II) tadinya merupakan anggota pasukan kavaleri Bani Umayyah yang terkemuka. Marwan II seorang pemberani dan mampu menghadapi pasukan Turki, Al-Khazar serta Al-Lan ketika ia diangkat Khalifah Hisyam bin Abdul Malik sebagai wali kota Armenia dan Azerbaijan pada 114 H.
Dengan kompetensinya itu, ia mampu membela dan mempertahankan benteng Kaukasia dari serangan-serangan Turki dengan pertahanan yang kuat. Ia bahkan melancarkan serangan mematikan di wilayah Turki.
Perpecahan Makin Meruncing
Meskipun Marwan II memiliki karakter-karakter utama seperti berani, rela berkorban, cerdas, cekatan, dan berbagai karakter terpuji lainnya, yang menempatkannya sebagai khalifah yang kompeten. Namun, takdir mengharuskannya menjadi penutup riwayat perjalanan Bani Umayyah.
Bukanlah ia satu-satunya pihak yang bertanggung jawab atas berakhirnya kepemimpinan Bani Umayyah. Sebab berbagai faktor yang memicu runtuhnya pemerintahan telah terjadi sekian lama dan terakumulasi pada masa kepemimpinan Marwan bin Muhammad.
Gelombang bahaya pertama yang harus dihadapi Marwan II adalah perpecahan Bani Umayyah menjadi beberapa kelompok. Dampak terburuknya adalah terpecahnya dua kubu Arab pendukung Dinasti Umayyah di negeri Syam, yaitu kubu Yaman dan kubu Qais. Kelompok Yaman berbalik haluan melawan Marwan II, sedangkan kelompok Qais memihaknya.
Ancaman itu semakin memperlihatkan taringnya ketika perpecahan terjadi di kalangan pejabat istana Dinasti Umayyah, antara pendukung terbesar dan terkuatnya. Maka kekacauan Dinasti Umayyah di negeri Syam seolah-olah mengumumkan kehancuran Negara Bani Umayyah secara umum.
Berusaha Mengatasi
Sejak pembaiatannya resmi di Damaskus, Marwan II berusaha menenangkan masyarakat dan menumbuhkan kepercayaan mereka. Ketika orang-orang membaiatnya, Marwan II menawarkan agar mereka memilih kepala daerah yang mereka kehendaki di negeri Syam.
Ath Thabari bertutur, “Marwan II memerintahkan agar mereka memilih kepala daerah masing-masing. Penduduk Damaskus pun memilih Zamil bin Amr al-Jirani. Penduduk Homs memilih Abdullah bin Syajarah al-Kindi. Penduduk Yordania memilih Al-Walid bin Muawiyah bin Marwan. Dan penduduk palestina memilih Tsabit bin Nu’aim al-Judzami.”
Strategi dan kebijakan politik yang diterapkan Marwan II tidak membedakan antara Arab Yaman dan Arab Qais. Mereka semua adalah para kepala daerah yang dipilih oleh masyarakatnya. Di antara mereka ada yang berasal dari Yaman, ada pula dari Qais.
Dalam hal ini Marwan II memperlihatkan kelenturan politiknya secara nyata. Bahkan ia menerima pilihan mereka terhadap Tsabin bin Nu’aim al-Judzami, padahal Tsabit pernah berkhianat terhadap Marwan II sewaktu masih menjabat wali kota Armenia. Sebab Tsabitlah yang memimpin gerakan kudeta negeri Syam dan melawannya.
Akan tetapi, Marwan II memberikan amnesti kepadanya dan mengangkat Tsabit sebagai gubernur Palestina guna meredakan huru hara, serta membendung perpecahan dan konflik yang lebih besar.
Stabilitas Keamanan Sementara
Setelah Marwan II menertibkan situasi dan kondisi di wilayah negeri Syam, ia meninggalkan Damaskus menuju Haran di Al-Jazirah (Mesopotamia) yang dijadikan pusat pemerintahannya. Bersamaan dengan agenda reformasi keamanan dan stabilisasi nasional yang dicanangkan dan penumpasan gerakan pengacau.
Ibrahim bin Al-Walid, khalifah sebelumnya yang tergulingkan bersama Sulaiman bin Hisyam pun menyerahkan diri kepada Khalifah Marwan II. Setelah sebelumnya mereka berdua melarikan diri dari Damaskus sebelum Marwan II tiba di sana. Mereka meminta amnesti serta perlindungan kepada Marwan II, lalu membaiatnya.
Demikianlah situasi dan kondisi berangsung stabil. Namun, stabilitas itu tidak berlangsung lama, hanya layaknya seperti angin lalu. Tidak berapa lama kemudian, pihak istana menerima informasi meletusnya pemberontakan negeri Syam untuk kedua kalinya dan bermunculan berbagai upaya revolusi.
Dalam kondisi berbagai pemberontakan yang bertubi-tubi, Marwan II memanfaatkan sedikit waktu dengan menikahkan kedua putranya Ubaidillah dan Abdullah dengan dua putri Hisyam bin Abdul Malik.
Marwan II meyakini dengan perkawinan ini dapat mendamaikan antara keluarganya dan keluarga Bani Umayyah lainnya serta memperkuat pemerintahannya. Namun, ternyata kenyataan yang terjadi tidak sesuai dengan harapan Marwan II. Justru tidak berselang lama, para tokoh terkemuka Bani Umayyah melakukan pemberontakan dan pembangkangan terhadap Marwan II.
Di tengah iklim yang dipenuhi fanatisme golongan, ketika Bani Umayyah terpecah belah dan saling serang antara keluarga yang satu dengan keluarga yang lainnya, Marwan II berupaya menenangkan kekacauan itu dan berusaha memulihkan situasi dan kondisi keamanan di negeri Syam. Tiba-tiba ia mendengar informasi tentang meledaknya berbagai pemberontakan dari seluruh daerah. Peristiwa-peristiwa nahas yang mengantarkan keruntuhan Dinasti Umayyah. [MNews/Rgl]
Sumber: Prof. Dr. Abdusysyafi Muhammad Abdul Lathif, Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Bani Umayyah, Pustaka Al-Kautsar
