Muslimah News, INTERNASIONAL — Awal Oktober, Jaksa Agung St. Burhanuddin berkunjung ke Provinsi Kepulauan Riau yang merupakan area tapal batas di Indonesia. Ia meminta agar tuntutan kasus narkoba-human trafficking di Kepri memberikan efek jera kepada pelaku kejahatan tindak pidana narkoba hingga tindak pidana penjualan orang (TPPO) di wilayah Kepulauan Riau (Kepri).
Sebagaimana pemberitaan, dalam kunjungan kerjanya di Kejati Kepri (07/10/2022), ia meminta pengaturan ketentuan itu dapat dimaksimalkan sanksinya. Burhanuddin juga ingin ada tindakan-tindakan hukum terkait munculnya kejahatan transnasional, seperti illegal fishing, human trafficking, penyelundupan barang dan narkotika, sampai pada permasalahan ekspor dan impor.
Sebelumnya, September lalu, Polda Riau bersama dengan Polres Dumai berhasil menggulung 16 tersangka komplotan narkoba dengan barang bukti sebanyak 203-kilogram sabu dan 404.491 butir pil ekstasi disita hanya dalam kurun waktu 4 hari saja (11—14 September 2022). Ini merupakan prestasi terbesar yang diraih Polda Riau dalam pengungkapan kasus narkoba.
Lemahnya Penjagaan
Ahli geostrategi dari Institute Muslimah Negarawan (IMuNe) Dr. Fika Komara menilai, banyaknya kasus pidana narkoba, penyelundupan, dan perdagangan orang di area tapal batas Indonesia, menunjukkan lemahnya penjagaan perbatasan negeri muslim terbesar ini, juga belenggu perdagangan bebas di tanah perbatasan muslim.
“Maraknya aktor-aktor sindikasi dan mafia kejahatan di perbatasan adalah indikator lemahnya pertahanan negara di daerah perbatasan terluar. Padahal kawasan pantai Timur Sumatera sangat rentan terpapar rantai perdagangan narkoba yang berasal dari kawasan Indo China dengan jalur rantai suplainya dari Sungai Mekong hingga Selat Malaka. Belum lagi adanya sindikat perdagangan orang yang berasal dari Kamboja dan Vietnam,” ungkapnya kepada MNews, Selasa (08/11/2022).
Ia menerangkan, eksistensi mafia narkoba dan perdagangan manusia yang beroperasi di bawah tanah, juga diuntungkan oleh adanya penetapan area FTZ (Free Trade Zone di pulau Batam Bintan dan Karimun) yang meniscayakan bebas cukai dan mudah masuknya barang-barang impor.
“Bahkan, yang ilegal masuk ke Indonesia ditambah topografi kepulauan yang memungkinkan banyak pelabuhan tikus untuk penyelundupan,” ucapnya.
Atas Nama Perdagangan
Menurut Dr. Fika, semua ini bermula atas nama iklim investasi dan perdagangan sejak 2006, ketika Indonesia dengan Singapura memiliki FTZ joint agreement di Batam, Bintan dan Karimun. “Padahal, Singapura–negeri nonmuslim—dikenal sebagai mitra dekat AS dan “entitas” Israel yang sangat agresif melakukan invasi ekonomi dan budaya ke wilayah sekitarnya,” jelasnya.
Ia menyatakan, berharap efek jera pada banyak kriminalitas di perbatasan, sama saja bagai pungguk merindukan bulan, yakni jika sebuah negeri tidak memiliki visi dan paradigma yang kuat dan benar dalam menjaga perbatasannya akibat ketundukan pada sistem perdagangan WTO dan GATTS dan kelemahan posisi tawar terhadap negeri kufar.
Langkah Strategis
Diperolehnya efek jera, tegas Dr. Fika, tentu tidak cukup dengan langkah kuratif di hilir dengan sanksi pidana/ administratif saja. “Melainkan juga diperlukan langkah strategis sejak dari hulu, yakni penerapan politik perdagangan Islam yang benar dan politik luar negeri Islam yang akan meng-upgrade posisi tawar Indonesia di mata negara asing,” ujarnya.
Bahkan, ia mengatakan, Islam memberikan indikator kegagalan pengelolaan perbatasan, yaitu dengan keleluasaan orang-orang kafir bebas bergerak di negeri Islam untuk menanamkan pengaruhnya dan merampas kekayaan umat.
Ia pun mengutip firman Allah dalam QS Ali Imran ayat 196—197,
لَا يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فِى الْبِلَادِۗ مَتَاعٌ قَلِيْلٌ ۗ ثُمَّ مَأْوٰىهُمْ جَهَنَّمُ ۗوَبِئْسَ الْمِهَادُ
“Janganlah sekali-kali kamu terpedaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negeri. Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah jahannam dan jahannam itu adalah tempat yang seburuk buruknya.”
Dr. Fika menyesalkan, kondisi hari ini diperparah dengan keterpecahan umat yang lebih massif melalui paham nasionalisme dan sistem negara-bangsa.
“Gambaran syariat Islam dalam mengelola perbatasan secara ekonomi dan pertahanan makin pudar. Tsaqāfah tentang perbatasan dan tanah ribath sudah terkikis. Wajar kondisi geopolitik umat berada dalam titik kulminasi terendah sepanjang sejarah peradaban Islam. Padahal, Islam memiliki syariat khusus soal area perbatasan dan bagaimana kualifikasi manusia yang harus menjaganya,” paparnya.
Paradigma Islam
Ia mengingatkan, paradigma Islam berbeda dengan Barat dalam menetapkan perbatasan. “Kedaulatan sebuah negara tidak sekedar bertumpu pada teritorialitas sebuah negara, melainkan pada penerapan hukum-hukum Allah dan jaminan keamanan sebuah negeri, walhasil pembahasan teritorial menjadi sangat dinamis dan fleksibel, bahkan dikatakan bahwa darah syuhada-lah yang menentukan batas-batas negara,” ungkapnya.
Untuk itu, Dr. Fika menegaskan, umat membutuhkan negara yang mengadopsi visi dan paradigma perbatasan yang kuat.
“Itu hanya berasal dari Islam dan hanya bisa diemban oleh Khilafah, institusi negara yang sesuai dengan tuntunan Islam dan manhaj kenabian. Dengan begitu, Khilafah akan menempatkan manusia-manusia terbaiknya di perbatasan karena Islam juga menuntut kualifikasi terbaik bagi para penjaga tapal batas, yakni mampu menghadang dan menakuti musuh,” urainya.
Ini karena, lanjutnya, area tapal batas adalah kawasan-kawasan pergesekan dengan kawasan luar, yaitu dermaga-dermaga yang berfungsi sebagai basis penyebarluasan peradaban ketika berada di puncak kekuatan dan tempat penyeberangan tentara musuh ketika sedang mengalami kelemahan.
“Islam meminta kualitas manusia dengan keimanan, kesadaran ruang dan mata elang yang berjaga di perbatasan,” tandasnya seraya menutup dengan firman Allah pada QS Ali Imran ayat 200,
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اصْبِرُوْا وَصَابِرُوْا وَرَابِطُوْاۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ ࣖ
“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negeri kalian) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kalian beruntung.” [MNews/Ruh]
