Muslimah News, INTERNASIONAL — Xi Jinping mengatakan, dunia membutuhkan Cina untuk berkembang atau membangun. Hal itu dikatakannya saat bertemu awak media asing di Beijing, Minggu, (23/10/2022) siang, sehari setelah terpilih menjadi Sekretaris Jenderal Partai Komunis China untuk periode ketiga (2022—2027).
Dalam kesempatan itu, ia mengungkapkan bahwa Cina tidak bisa berkembang hanya dengan mengisolasi diri. Ia mengeklaim fundamental perekonomian Cina juga sangat kuat dan memiliki banyak potensi.
Kekuatan ekonomi negaranya itu, lanjut Xi, tidak akan berubah dan tetap positif dalam jangka panjang. “Kami akan membuka pintu lebih lebar lagi. Kemakmuran Cina akan menciptakan lebih banyak kesempatan bagi dunia,” katanya.
Menanggapi hal ini, pengamat politik Farid Wadjdi menyatakan dunia tidak butuh Cina karena ideologi yang diemban oleh negara tersebut telah gagal.
“Ideologi komunisme ini sesungguhnya adalah ideologi yang yang telah gagal ya ditandai dengan keruntuhan negara Soviet sebagai negara yang mengemban ideologi komunisme di dunia,” tuturnya.
Hal itu ia nyatakan di kanal Peradaban Islam yang mengusung tema “Xi Jinping Terpilih Kembali, Benarkah Dunia Butuh Cina?” pada selasa, (25/10/2022).
Perlu Disikapi
Menurut Farid, sebagai seorang politisi Islam, harus membaca dan menyikapi isu ini karena konstelasi politik dunia akan berpengaruh terhadap kaum muslim, terlebih kaum muslim yang ada di Cina saat ini.
“Isu ini perlu kita sikapi ya, karena Cina merupakan suatu negara yang memiliki kepentingan ekonomi terhadap negara-negara lain termasuk negara-negara Islam yang merupakan negeri yang kaya. Kemudian kita perhatikan termasuk juga bagaimana sikap Cina terhadap kaum muslim Xinjiang,” ulasnya.
Farid menilai, meskipun belum bisa menggeser pengaruh Amerika Serikat sebagai negara utama di dunia, tetapi pada saat sekarang ini Cina mulai berkompetisi dengan Amerika Serikat hanya pada lingkup ekonomi. “Cina hanya bersaing dalam lingkup ekonomi dengan Amerika Serikat, belum pada lingkup militer ataupun pada lingkup politik,” ujarnya.
Kegagalan Paradigma Ekonomi
Farid menuturkan bahwa ideologi komunisme selama proses berkuasa di dunia ini telah menampakkan kegagalannya secara paradigma ideologi tersebut dalam aspek ekonomi.
“Komunisme telah gagal untuk membangun ekonomi yang layak untuk dunia sosialis. Paradigma ekonomi komunisme menekankan pada pemerataan dan persamaan sehingga tidak mengakui kepemilikan individu,” jelasnya.
Bahkan, lanjut Farid, semua harta merupakan kepemilikan negara. “Inilah yang telah melumpuhkan etos kerja dari masyarakat. Hasil kerja keras masyarakat itu kemudian diakui sebagai milik negara gitu dan tidak memberikan penghargaan terhadap kepemilikan individu,” ungkapnya.
Kegagalan Paradigma Politik
Farid menambahkan, kegagalan paradigma komunisme dalam aspek politik. “Hampir seluruh negara komunis di dunia adalah negara-negara yang represif dan otoriter. Negara yang senantiasa membungkam rakyatnya,” nilainya.
Ia menggambarkan politik komunis yang dilakukan oleh Soviet ketika mencaplok negeri-negeri Islam yang kemudian diklaim sebagai wilayah Soviet seperti wilayah-wilayah Asia tengah dan wilayah-wilayah yang lainnya.
“Soviet pada waktu itu membunuh para ulama, menghancurkan masjid-masjid, kemudian membunuh secara massal setiap kelompok-kelompok perlawanan yang tidak menginginkan keberadaan Soviet sebagai negara penjajah,” kisahnya.
Di Cina, ungkap Farid, praktik-praktik kekejaman ideologi komunis yang dilakukan oleh partai komunis Cina sebagai otaknya negara Cina pun bersifat represif dan otoriter. “Inilah yang kemudian terjadi pada kaum muslim di wilayah Turkistan Timur atau dikenal sebagai Xinjiang. Kaum muslim di sana menjadi korban dari tindakan represif politik komunis Cina,” pungkasnya. [MNews/Nvt]
Foto sampul: Riautribune
