Penulis: Juanmartin, M.Kes.
Muslimah News, OPINI — Kasus kriminalitas kian menggila. Keamanan seolah menjadi barang mahal di negeri ini. Berita pembunuhan keji menghiasi layar berita nyaris setiap detik. Pelaku kasus pembunuhan pun beragam. Dari orang tidak dikenal, teman sebaya, hingga orang terdekat. Sebut saja kasus suami membacok istri yang terjadi di Medan.
Ada pula anak 12 tahun di Cimahi yang harus meregang nyawa saat pulang dari pengajian. Berdasarkan pantauan CCTV, ada seseorang yang menusuknya. Masyarakat juga heboh dengan kasus pembunuhan seorang perempuan oleh Pendeta Rudolf. Masih banyak kasus serupa hingga deretan kasus pembunuhan lainnya.
Atmosfer kehidupan sosial kian rawan dengan kriminalitas. Masyarakat begitu mudah tersulut amarah, budaya kekerasan seolah menjadi tren. Marak terjadi kasus begal, busur, percobaan pembunuhan, hingga tawuran remaja yang dipicu oleh hal sepele.
Kekerasan seakan menjadi jalan pintas dalam menyelesaikan perkara. Akibatnya, rasa waswas melingkupi kehidupan sosial masyarakat. Keamanan menjadi barang mahal dan langka di negeri ini.
Apa Penyebabnya?
Kriminalitas dengan segala motifnya sesungguhnya merupakan produk dari kondisi masyarakat dan pergolakan sosial yang melingkupi mereka. Sistem sosial ini lahir dari paradigma khas tentang kehidupan, sedangkan kondisi masyarakat termanifestasi dari pemahaman individu tentang interaksi sosial. Ini pun tidak lepas dari paradigma sistemis.
Dalam tatanan sosial masyarakat sekuler kapitalisme, individu-individu tersebut hidup di tengah sistem yang berpandangan khas. Masyarakat dalam sistem kapitalisme bermakna kumpulan individu yang terjamin kebebasannya. Negara memberi kebebasan kepada individu untuk berbuat apa pun tanpa intervensi orang lain. Inilah bentuk jaminan negara terhadap individu dalam sistem sekuler. Pandangan mengenai masyarakat ini telah mengikis sensitivitas sistem sosial masyarakat.
Di sisi lain, individu masyarakat sekuler berkembang menjadi individualis dan tidak peka dengan sekitarnya. Suasana keimanan juga tereduksi karena spirit ini hanya hadir di ruang-ruang peribadatan. Jikapun ada, itu hanya mewujud pada tataran individu per individu. Sistem sosial yang jauh dari suasana keimanan ini membuat interaksi sosial berjalan dalam kerangka kepentingan individu. Sangat rawan dengan berbagai gesekan.
Sifat individualis ini kemudian menyebabkan interaksi sosial berjalan nyaris tanpa kontrol. Tidak ada aktivitas saling mengingatkan dalam perkara kebaikan. Jikapun ada, respons sesama individu sebatas formalitas. Akibatnya, pergaulan bebas meluas, kriminalitas tumbuh subur, sedangkan sensitivitas dalam kehidupan bermasyarakat seolah hilang.
Diamnya masyarakat saat kriminalitas terjadi di depan mata makin mengukuhkan parahnya sistem sosial masyarakat sekuler. Sungguh, kondisi ini secara tidak langsung memberikan iklim kondusif bagi merebaknya berbagai kejahatan. Hidup seolah di alam rimba ‘yang kuat dapat dengan mudah memangsa yang lemah’.
Masyarakat Khas Perspektif Islam
Dalam Islam, kehidupan sosial kemasyarakatan berjalan dalam satu paradigma yang khas. Paradigma ini terwujud dalam sistem hidup dan karakter individu yang terikat pada pola pikir dan pola sikap Islam.
Islam memandang bahwa masyarakat bukan sekadar kumpulan individu. Mereka terikat oleh pemikiran, perasaan, dan aturan yang sama. Hal ini membuat masyarakat bertanggung jawab bersama dalam menjaga kehidupan sosial.
Standar pemikiran, perasaan, dan aturan tegak atas hukum-hukum Allah. Jika terjadi tindakan yang menyelisihi hukum Islam, individu masyarakat akan tergerak untuk memberikan koreksi.
Suasana amar makruf nahi mungkar ini hadir dari kesadaran untuk saling mengingatkan. Individu yang lain pun memahami ini sebagai bahasa cinta sesama anggota masyarakat. Jika saling mengingatkan dalam perkara kebaikan itu telah hilang, justru itu adalah alarm betapa di antara anggota masyarakat telah hilang budaya saling mengingatkan.
Tidak akan ada rasa tersinggung sebab teguran atas khilaf adalah manifestasi cinta sesama muslim. Rasulullah saw. bersabda, “Agama adalah nasihat. Para sahabat bertanya, ‘Untuk siapa ya Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Bagi Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, serta pemimpin-pemimpin umat Islam dan juga bagi umat Islam seluruhnya.'” (HR Muslim)
Dengan demikian, seluruh individu masyarakat menjadikan kesadaran akan hubungannya dengan Allah sebagai spirit dalam kehidupan sosial. Inilah gambaran sistem sosial dalam Islam sekaligus aspek preventif munculnya tindak kriminalitas. Lalu, bagaimana peran negara dalam mewujudkan rasa aman bagi rakyatnya?
Negara Islam Mewujudkan Keamanan
Dalam sistem pemerintahan Islam, kekuasaan berjalan atas paradigma pelayanan dan perlindungan. Penguasa adalah pelayan (raa’in) dan pelindung (junnah) bagi rakyatnya. Penguasa bertanggung jawab untuk menciptakan atmosfer kehidupan sosial dalam kerangka syariat. Penerapan syariat akan memberikan perlindungan terkait akal, kehormatan, agama, harta, darah, dan jiwa manusia.
Untuk itu, negara menerapkan sistem hukum yang memberikan panduan mengenai apa yang dilarang maupun yang dibolehkan untuk manusia. Hukum Islam yang bersifat mengikat manusia harus rakyat pahami karena negara wajib menegakkan sanksi atas pelanggaran hukum tersebut.
Negara berhak menindak tindak kriminalitas, seperti pencurian, begal, pemerkosaan, ataupun pembunuhan dengan hukum yang merujuk pada Al-Qur’an, Sunah, ijmak, dan kias. Negara wajib menjadi perisai bagi rakyat. Negara tidak akan membiarkan nyawa rakyatnya melayang begitu saja.
Rasulullah saw. bersabda, “Sungguh, hancurnya dunia lebih ringan di sisi Allah daripada terbunuhnya seorang muslim.” (HR Ibnu Majah No. 2619).
Jadi, jaminan atas keamanan adalah kewajiban utama negara. Negara justru kehilangan sifat entitasnya jika tidak bisa menyediakan keamanan dan rasa aman. Inilah yang membedakan sistem sekuler kapitalisme saat ini dengan sistem Islam. Sistem saat ini tidak mampu memberikan rasa aman terhadap warganya, sedangkan sistem Islam justru mempraktikkan cara mewujudkan rasa aman pada rakyat belasan abad lampau.
Seluruh konsep Islam ini yang harusnya menjadi bahan dalam berbagai ruang diskusi untuk mewujudkan rasa aman bagi masyarakat secara komprehensif dan paripurna. Wallahualam. [MNews/Gz]
