Penulis: Nabila Ummu Anas
Muslimah News, TARIKH KHULAFA — Ath-Thabari dan Ibnu Katsir meriwayatkan Hisyam bin Abdul Malik bin Marwan menjabat sebagai khalifah pada 105 H, di usia tiga puluh empat tahun lebih beberapa bulan. Menurut Ath-Thabari, Hisyam bin Abdul Malik akalnya matang dan pandai mengelola pemerintahan, memiliki pandangan yang mendalam dalam berbagai persoalan, baik yang besar maupun yang remeh-temeh.
Menjaga Stabilitas Dalam Negeri
Hisyam bin Abdul Malik memerintah selama hampir dua puluh tahun ( 105—125 H). Selama itu, ia menjalankan roda pemerintahan dengan tegas dan kompeten, serta mampu menjaga keseimbangannya. Ia juga dikenal baik dalam berinteraksi dengan dua kelompok Arab yang dominan didalam negara, yaitu suku Yaman dan suku Qais yang saling bersaing ketat, bahkan lebih dari satu kali berujung konflik.
Strategi dan kebijakan politik Hisyam didasarkan pada keseimbangan antara kedua kubu tersebut, tanpa memihak salah satunya. Ini karena ia menyadari keberpihakan kepada salah satu adalah sangat berbahaya. Adalah realita bahwa fanatisme kesukuan bangsa Arab merupakan masalah paling sensitif di era Dinasti Umayyah.
Kesadaran akan ancaman bahaya bagi negara jika berpihak pada salah satu kubu—Yaman atau Qais—membuat Khalifah Hisyam bin Abdul Malik melibatkan para pemimpin dan tokoh terkemuka dari kedua kubu itu dalam pemerintahannya. Apabila khalifah melihat seorang pejabatnya berpihak pada salah satu suku, ia tidak segan-segan memberhentikannya, demi menjaga stabilitas negara.
Hisyam bin Abdul Malik pernah memerintahkan gubernurnya di irak, Khalid bin Abdullah al-Qasari, agar mencopot Asad bin Abdullah saudaranya sendiri dari jabatannya sebagai wali kota Khurasan. Pasalnya, Asad memperlihatkan fanatismenya dengan memenangkan suku Yaman dan mengalahkan suku Mudhar, bahkan bersikap buruk terhadap kepala suku Qais dan para tokoh Mudhar lainnya.
Proyek Dalam Negeri yang Profesional
Khalifah Hisyam bin Abdul Malik juga sangat menjaga kepentingan umat dan sangat ketat mengawasi para kepala daerahnya, sampai-sampai dikatakan tentangnya, “Tidak seorang pun Bani Marwan yang lebih menaruh perhatian pada para pejabat dan departemen-departemennya, tidak pula yang lebih ketat pengawasannya terhadap mereka, daripada Marwan.“
Pengelolaan dan pengamanan keuangan disepakati para sejarawan sebagai salah satu keahlian Hisyam bin Abdul Malik. Khalifah selalu menjaga pengumpulan keuangan ini dari sumber-sumber yang legal kemudian mendistribusikannya ke proyek-proyek yang penting tanpa pemborosan ataupun penghematan yang berlebihan.
Adz-Dzahabi meriwayatkan dari Abu Umair bin An Nuhas, dari ayahnya, ia berkata, “Harta hanya masuk ke baitulmal di era Hisyam setelah dipersaksikan empat puluh orang bahwa harta tersebut diambil secara legal dan hak-haknya telah dipenuhi.”
Pengelolaan yang professional dan keunggulan departemen-departemen itu bahkan diakui orang-orang yang berseberangan dengan Hisyam, seperti Abdullah bin Ali bin Abdullah bin Abbas, yang mengatakan, “Aku mengamati dan membandingkan departemen-departemen yang dipimpin Bani Marwan dan aku melihat yang terbaik bagi rakyat secara umum dan juga penguasa adalah departemen-departemen di bawah pengelolaan Hisyam.”
Menjaga Harta Umat
Hisyam bin Abdul Malik juga keras terhadap dirinya sendiri serta keluarganya demi menjaga harta benda umat Islam. Ath-Thabari meriwayatkan bahwa Iqal bin Syabbah bercerita,
“Pada suatu ketika aku menghadap Khalifah Hisyam yang ketika itu mengenakan topi serban fennec berwarna hijau. Ia menyuruhku ke Khurasan. Mulailah ia memberiku pesan-pesan, sementara aku terus memandangi topi serban yang dipakainya. Menyadari itu, Hisyam bertanya, “Ada apa denganmu?” Aku menjawab, “Aku pernah melihat engkau sebelum menjadi khalifah mengenakan sebuah topi serban fennec berwarna hijau. Aku mengamati topi serban yang engkau pakai ini untuk memastikan apakah ini memang topi serban itu, ataukah yang lain?” Ia menjawab, “Demi Allah yang tiada Tuhan selain Dia. Ini memang topi serban itu. Aku tidak mempunyai topi serban selain ini. Harta benda yang kau lihat sedang kukumpulkan dan kujaga ini adalah untuk kalian.”
Ketatnya penjagaan Hisyam bin Abdul Malik terhadap harta benda umat Islam sampai-sampai ia tidak memberi seorang Bani Marwan pun kecuali jika mereka telah ikut berperang secara langsung atau memberangkatkan budaknya atau orangnya sebagai penggantinya.
Menjaga Daerah Perbatasan dan Jihad
Hisyam bin Abdul Malik bukan hanya seorang negarawan yang pandai mengelola urusan dalam negeri saja. Ia juga menaruh perhatian besar pada politik luar negerinya guna menjaga perbatasan negara serta memberi musuh-musuh Islam pelajaran.
Falhauzun berkata, “Tidak diragukan lagi, keliru jika sejarawan menggambarkan Hisyam sebagai seorang khalifah yang cuma peduli administrasi urusan dalam negeri hanya karena Hisyam bukanlah seorang militer. Nyatanya toh ia tidak melarikan diri dari peperangan. Ia justru ambisius menghadapinya dengan berbagai sarana. Ia mempersiapkan pasukan dalam jumlah besar tanpa sayang mengorbankan harta benda ataupun nyawa prajuritnya. Kedua tangannya senantiasa sibuk merencanakan berbagai operasi militer di sebagian besar daerah yang saling berjauhan.”
Pasukan-pasukan Hisyam bin Abdul Malik selalu waspada mengawasi wilayah Romawi Byzantium dan terus membangun benteng-benteng di sepanjang perbatasan. Para jenderalnya pun tak henti-hentinya melancarkan serbuan dan jihad. Khalifah Hisyam juga seringkali menugasi kepemimpinan militer kepada salah satu anggota keluarganya. Inilah Hisyam bin Abdul Malik yang merupakan salah seorang khalifah terkuat Bani Umayyah menurut Al-Ya’qubi dalam Tarikh Al–Ya’qubi. [MNews/Ruh]
Sumber: Prof. Dr. Abdusysyafi Muhammad Abdul Lathif. Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Bani Umayyah. Pustaka Al-Kautsar
Foto ilustrasi: Republika
