Krisis Keamanan Finansial dan Pekerjaan, Imbas Sistem Kapitalisme

Krisis Keamanan Finansial dan Pekerjaan, Imbas Sistem Kapitalisme

Penulis: Nindira Aryudhani, S.Pi., M.Si.

Muslimah News, OPINI — Sebuah survei global yang dilakukan selama November 2021—Januari 2022 menyatakan bahwa biaya hidup adalah kekhawatiran terbesar generasi Z (Gen Z) dan milenial.

Gen Z umumnya dikategorikan yang lahir pada 1996—2009 (atau berusia 13—26 tahun pada 2022). Milenial sedikit di atasnya, lahir pada 1980—1995 (atau berusia 27—42 tahun pada 2022). (Wikipedia)

Keamanan Finansial

Deloitte (jaringan penyedia jasa profesional multinasional yang berkedudukan di London, Inggris) sebagai penyelenggara survei tersebut, menyatakan sebanyak 46% Gen Z dan 47% milenial hidup dari gaji ke gaji. Mayoritas mereka khawatir jika tidak bisa mencukupi kebutuhannya.

Temuan lain, dua generasi ini merasa tidak aman secara finansial. Persentase responden yang menyatakan hal itu sebanyak 30% Gen Z dan 29% milenial.

Data lebih lanjut, sejumlah 43% Gen Z dan 33% milenial tercatat mengambil pekerjaan sampingan, baik penuh maupun paruh waktu. Laporan Deloitte menyebutkan hal itu kemungkinan dilakukan untuk meringankan persoalan finansial.

Pekerja Gen Z dan Milenial

Untuk Indonesia sendiri, terdapat survei dari Jakpat (20/09/2022). Survei tersebut melibatkan 1.500 responden berusia 15—41 tahun dan mayoritas berdomisili di Pulau Jawa. Berdasarkan jenis kelamin, komposisi jumlah responden laki-laki sebanyak 44,73% dan perempuan sebanyak 55,27%. Kebanyakan Gen Z belum menikah, sedangkan mayoritas milenial sudah menikah dan mendapat 1—2 anak.

Dari riset ini pula, jumlah Gen Z yang belum bekerja lebih banyak ketimbang milenial, yakni 38,99% Gen Z dan 11,45% Milenial. Gen Z yang sudah bekerja paling banyak telah bekerja kurang dari dua tahun (40,72%). Berbeda dengan milenial yang kebanyakan telah bekerja di atas lima tahun (45,81%).

Untuk pekerjaan utama yang mereka jalani, mayoritas berprofesi sebagai pegawai swasta, Gen Z sebanyak 35,89% dan milenial 44,51%. Profesi terbanyak kedua Gen Z adalah pekerja lepas (26,91%), sedangkan Milenial adalah wiraswasta (27,82%). Ragam profesi lainnya adalah guru honorer, petani, kreator konten, dan sopir ojek online.

Pekerjaan Sampingan

Secara umum di Indonesia, kalangan Gen Z dan milenial biasanya terpaksa mengambil pekerjaan sampingan karena perusahaan tempatnya bekerja tidak memberikan gaji cukup, terlebih bagi yang sudah berkeluarga. Dalam hal ini, hanya responden yang telah bekerja yang menjawab pertanyaan tentang pekerjaan sampingan ini.

Para pekerja Gen Z sebagian besar bergaji di rentang Rp100 ribu—Rp2 juta, sedangkan gaji pekerja milenial kisaran terbanyaknya adalah Rp2 juta—Rp5 juta per bulan.

Untuk tanggungan keluarga, mayoritas milenial sudah menikah dan mendapat 1—2 anak, sedangkan kebanyakan Gen Z belum menikah. Di samping itu, ada juga yang belum menikah, tetapi menjadi tulang punggung keluarga, yakni Gen Z sebanyak 10,50% dan milenial 7,22%.

Berdasarkan data, lebih dari 50% Gen Z dan milenial memiliki pekerjaan sampingan, baik penuh maupun paruh waktu. Persentase ini lebih banyak di kalangan milenial, yakni sebanyak 58,20%, sedangkan Gen Z 54,05%.

Jumlah pekerjaan sampingan mereka beragam, ada yang satu atau lebih pekerjaan paruh waktu, satu pekerjaan penuh waktu, dan proyek-proyek serabutan.

Bagi mereka yang termasuk kelompok Upper 1 alias menengah atas, pekerjaan sampingan diambil karena ingin menguasai keahlian yang berbeda dan mengembangkan minat (passion). Namun, bagi kelompok Middle 1 dan 2, pekerjaan sampingannya untuk menambah penghasilan karena gaji dari pekerjaan utama mereka tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar.

Keamanan Pekerjaan (Job Security)

Dosen Hukum Ketenagakerjaan dari Universitas Gadjah Mada Nabiyla Risfa Izzati mengatakan bahwa saat ini pekerjaan yang memberi keamanan pekerjaan memang tidak memberikan penghidupan layak. Menurutnya, tidak jarang satu orang memiliki banyak pekerjaan karena keadaan yang memaksa.

“Keamanan pekerjaan” sendiri adalah peluang seseorang untuk mempertahankan pekerjaan yang sedang dijalaninya. Orang yang keamanan pekerjaannya rendah, lebih mungkin kehilangan pekerjaannya. Sementara itu, orang dengan keamanan pekerjaannya tinggi, lebih mungkin mempertahankan pekerjaannya.

Beberapa faktor yang memengaruhi peluang seseorang untuk mempertahankan pekerjaannya adalah inovasi teknologi, kondisi perusahaan, keterampilan pekerja, dan sikap saat bekerja.

Keserakahan Kapitalisme

Mencermati semua ini, jelas terdapat imbas keserakahan kapitalisme dan diskriminasi oleh penguasa melalui sistem pegawai negara, sistem kontrak, hingga pegawai honorer. Di samping itu, ada orientasi sistem pendidikan yang salah kaprah karena lulusan sebuah jenjang pendidikan hanya ditargetkan untuk bekerja. Ini juga dikuatkan oleh adanya berbagai program kewirausahaan pemuda di sejumlah perguruan tinggi, orientasi bekerja kian tajam mewarnai jejak kelulusan para sarjana.

Akibatnya, orang yang tidak berpendidikan atau berpendidikan rendah, secara normatif dianggap tidak layak untuk memiliki pekerjaan bergengsi. Posisi mereka teropinikan bahwa untuk sukses haruslah memiliki usaha sendiri. Pada akhirnya, mereka hanya bisa masuk ke jalur UMKM.

Jalur pendaftaran menjadi pegawai negara pun diiringi sederet persyaratan, belum lagi rawan suap dan gratifikasi. Padahal, potensi sumber daya ekonomi negeri ini sangat besar dan sumber daya alam pun melimpah. Namun, karena pengelolaannya diserahkan pada swasta asing/lokal melalui privatisasi, akses masyarakat luas untuk memperoleh andil mengelola sumber daya tersebut malah jadi terbatas.

Ujungnya, angka pengangguran dan kemiskinan tidak dapat terhindarkan, tetapi sumber daya perut bumi dari tanah airnya sendiri pun masuk ke kantong swasta. Ketika pada gilirannya rakyat bekerja kepada perusahaan swasta, tidak sedikit yang harus “ditumbalkan”.

Mereka bekerja bagai sapi perah, sedangkan waktu kebersamaan mereka dengan keluarga juga harus dirampas demi memperoleh cukup gaji untuk biaya hidup. Lebih ironis lagi, inflasi pangan dan energi juga tidak kalah menghantui.

Tidak pelak, rakyat pun makin terpojok dan tercekik oleh kian mahalnya biaya hidup. Istilah yang mereka buat sendiri seperti “keamanan finansial dan pekerjaan” juga terancam krisis akibat keserakahan ini. Yang terjadi selanjutnya, kapitalisme hanya mampu memberikan solusi tambal sulam, bukan solusi tuntas.

Jalur Nafkah dan Ijarah

Adalah ideologi Islam yang sudah jelas memuat aturan dari Allah dan Rasul-Nya sehingga mustahil menyalahi fitrah manusia. Islam mengatur perihal wajibnya jalur nafkah dari seorang laki-laki bagi istri dan anak-anaknya.

Seorang istri tidak harus berganti peran dari tulang rusuk menjadi tulang punggung ketika suaminya meninggal atau tidak mampu bekerja karena jalur nafkah yang lain masih ada, bisa dari ayahnya (jika masih hidup), saudara laki-lakinya, ataupun anak laki-lakinya.

Islam juga mengatur sistem ketenagakerjaan. Bekerja adalah salah satu aktivitas yang menjadi sebab kepemilikan harta bagi seseorang. Dalam Islam, terdapat konsep ijarah (kontrak kerja) yang melarang majikan membebani para pekerja melebihi kapasitasnya.

Ijarah dapat terjadi di antara dua pihak dalam suatu akad tertentu. Segala sesuatu yang disepakati dalam ijarah ini harus jelas, termasuk jenis pekerjaan dan nominal gaji yang diperoleh sehingga dapat meminimalkan rasa tidak rida maupun kezaliman.

Islam juga mengatur soal pemberian harta oleh negara kepada rakyat, baik harta maupun tanah. Orang-orang kaya di dalam Islam juga telah diseru untuk ringan berbagi kepada sesamanya dalam bentuk zakat, sedekah, dan wakaf.

Namun, lebih dari itu semua, Islam mewujudkan keberlangsungan sistem kehidupan yang bersifat riayatusy syuunil ummah (mengurusi urusan umat). Jadi, andai benar gaji yang diperoleh seorang pekerja itu rendah, dirinya tidak akan khawatir dengan biaya hidup.

Ini karena semua biaya kebutuhan publik ditanggung oleh negara, seperti pendidikan, kesehatan, perumahan, administrasi, kebutuhan transportasi dan energi, dsb. sehingga rakyat tidak akan depresi memikirkan inflasi. Dengan demikian, keamanan finansial dan pekerjaan bukan lagi sesuatu yang patut dipusingkan.

Khatimah

Demikianlah potret kapitalisme. Ideologi buatan manusia ini begitu tamak dan serakah. Mereka menggunakan segala cara untuk menjajah semua celah potensi ekonomi. Krisis dan kesenjangan ekonomi yang ada saat ini pun akibat keserakahan kapitalisme yang bahkan rela menghalalkan segala cara untuk meraih pundi-pundi harta.

Kapitalisme benar-benar minus faktor fitrah kemanusiaan. Jelaslah, ideologi seperti ini tidak pantas untuk terus dibela. Wallahualam bissawab. [MNews/Gz]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *