Muslimah News, KAFFAH — Setiap memasuki Rabiulawal, suasana kerinduan umat muslim kepada sosok Baginda Nabi Muhammad saw. makin terasa. Maulid Nabi saw. diperingati. Selawat atas beliau bergema di pelosok kota dan desa. Tablig-tablig akbar banyak digelar. Semua itu semata-mata karena kebahagiaan dan kecintaan umat kepada Rasulullah saw., selain untuk mengingatkan umat akan kemuliaan beliau.
Wajib Meneladan Nabi Saw.
Pujian atas kemuliaan pribadi Rasulullah saw. telah dinyatakan oleh Allah Swt.,
وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ
“Kami telah meninggikan bagimu sebutan (nama)-mu.” (QS Al-Insyirah [94]: 4).
Sayyid Quthb dalam tafsirnya, Fî Zhilâl al-Qur’ân, menafsirkan firman Allah Swt. di atas, “Kami telah meninggikan sebutan namamu di alam yang tinggi. Kami telah meninggikan sebutan namamu di muka bumi. Kami telah meninggikan sebutan namamu di alam semesta ini. Kami meninggikannya setiap kali bibir manusia mengucapkan kalimat ‘Lâ ilâha illalLâh, Muhammad RasûlulLâh.’ Di atas itu tidak ada lagi kedudukan setinggi itu. Ini adalah kedudukan yang hanya dimiliki Rasulullah saw.. Tiada seorang manusia pun selain beliau yang memiliki kedudukan tersebut di seluruh jagat ini.” (Sayyid Quthb, Fî Zhilâl al-Qur’ân, 6/688).
Rasulullah saw. adalah satu-satunya pribadi yang wajib diteladan dalam semua hal; sebagai ahli ibadah, sosok yang berakhlak mulia, suami yang lembut, ayah dan kakek teladan, panglima perang, juga sebagai kepala negara terbaik. Allah Swt. berfirman,
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
“Sungguh telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian, yaitu bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat serta banyak mengingat Allah.” (QS Al-Ahzab [33]: 21).
Setiap muslim juga wajib taat sepenuhnya kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya. Allah Swt. berfirman,
إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Sungguh jawaban kaum mukmin itu, jika mereka diseru kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukum di antara mereka, ialah ucapan. ‘Kami mendengar dan kami patuh.’ Mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS An-Nur [24]: 51).
Keteladanan dalam Kepemimpinan
Di antara keteladanan Nabi saw. yang wajib ditiru adalah kepemimpinan beliau atas umat manusia. Rasulullah saw. bukan sekadar pemimpin spiritual tanpa kekuasaan, seperti Paus di Vatikan, tetapi juga kepala negara Islam pertama.
Rasulullah saw. menyusun Piagam Madinah. Beliau mengangkat para wali (gubernur) dan hakim. Beliau memimpin dan mengirim pasukan serta mengangkat para komandan perang. Beliau mengatur perekonomian. Beliau pun mengirim para utusan untuk menyampaikan dakwah Islam ke berbagai kabilah, termasuk ke Kekaisaran Romawi dan Persia.
Rasulullah saw. adalah pemimpin negara yang sukses. Saat beliau wafat, luas kekuasaan Islam telah meliputi seluruh Jazirah Arab. Jumlah pengikutnya terus bertambah. Pengaruh agama Islam yang beliau bawa juga terus menyebar. Tidak aneh jika kepemimpinan Rasulullah saw. mengundang pujian dari berbagai cendekiawan dan orientalis.
Di antaranya dari Dr. Zuwaimer, orientalis Kanada, dalam bukunya, Timur dan Tradisinya. Ia mengatakan, “Tidak diragukan lagi bahwa Muhammad adalah pemimpin agama terbesar. Bisa juga dikatakan bahwa ia adalah seorang reformis, mumpuni, fasih, pemberani, dan pemikir yang agung.”
Berikut ini adalah sejumlah karakter kepemimpinan Nabi saw.:
Pertama, Nabi saw. menerapkan syariat Islam secara total. Tidak ada satu pun perintah atau larangan Allah Swt. yang beliau abaikan. Setiap kali turun hukum Allah Swt., seketika hukum itu beliau berlakukan di tengah-tengah umat tanpa menunda atau mengurangi pelaksanaannya.
Nabi saw. tidak pernah menerapkan selain syariat Islam dalam menjalankan pemerintahannya. Beliau pun tidak pernah berkompromi dalam menerapkan hukum Allah Swt.. Inilah yang Allah Swt. perintahkan,
وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ
“Hendaklah engkau memutuskan perkara di antara mereka sesuai dengan apa yang telah Allah turunkan dan jangan engkau mengikuti hawa nafsu mereka. Berhati-hatilah engkau terhadap mereka supaya mereka tidak memalingkan engkau dari sebagian wahyu yang telah Allah turunkan kepadamu.”(QS Al-Maidah [5]: 49).
Kedua, Rasulullah saw. memberlakukan hukum secara adil. Tidak ada privilese atau keistimewaan hukum walaupun terhadap keluarga beliau sendiri. Beliau tidak akan segan menjatuhkan sanksi pidana, walau terhadap putri kesayangannya sendiri, Fatimah ra., sebagaimana sabda beliau,
وَايْمُ اللهِ لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا
“Demi Allah, sungguh andai Fatimah binti Muhammad mencuri, aku sendiri yang akan memotong tangannya.” (HR Al-Bukhari)
Keadilan inilah yang menjamin tegaknya pemerintahan dan hukum di tengah masyarakat. Kepercayaan rakyat pada supremasi hukum menjadi kukuh karena pemerintah memberlakukan hukum kepada siapa saja yang bersalah tanpa kecuali. Bandingkan dengan kondisi sekarang. Jika yang terjerat hukum adalah kerabat, kolega, atau tim suksesnya, hukum mendadak lumpuh.
Ketiga, Rasulullah saw. senantiasa memperhatikan dan melayani kepentingan rakyat. Beliau, misalnya, memerintahkan Baitulmal untuk melunasi utang-utang kaum fakir miskin. Inilah pendapat yang disampaikan Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya saat menjelaskan firman Allah Swt.,
ٱلنَّبِىُّ أَوْلَىٰ بِٱلْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنفُسِهِمْ
“Nabi itu lebih utama bagi kaum mukmin daripada diri mereka sendiri.”(QS Al-Ahzab [33]: 6).
Inilah petunjuk Nabi saw. dalam kepemimpinan,
أَنَا أَوْلَى بِالْمؤمنينَ مِنْ أَنْفُسِهِم، فَمَنْ تُوُفِّيَ وَ عَليْهِ دَيْنٌ فَعَليَّ قَضَاؤُهُ
“Aku lebih berhak atas kaum mukmin daripada diri mereka sendiri. Karena itu siapa saja yang meninggal dalam keadaan memiliki utang, maka akulah yang akan melunasi utangnya.” (HR Ibnu Majah)
Nabi saw. juga memberikan pekerjaan untuk rakyatnya. Ibnu Majah meriwayatkan bahwa beliau pernah membantu seorang lelaki dengan cara menggadaikan barang-barang beliau sehingga terjual dua dirham. Satu dirham digunakan untuk nafkah keluarga lelaki tersebut. Satu dirham lagi ia belikan kapak untuk mencari kayu sehingga ia bisa mendapatkan keuntungan sepuluh dirham untuk keluarganya.
Keempat, Rasulullah saw. menjaga ketertiban masyarakat agar tidak terjadi pelanggaran seperti kecurangan dalam perdagangan, konflik, dan tindak kriminal lainnya. Nabi saw. pernah mendapati seorang pedagang yang mencampur makanan yang kering dan basah akibat terkena air hujan. Beliau memerintahkan pedagang tersebut untuk meletakkan makanan basah itu di tempat yang mudah terlihat orang-orang. Beliau lalu menegur dia,
مَنْ غَشَّ فَلَيْسَ مِنِّي
“Siapa saja yang menipu, maka dia bukan dari golonganku.” (HR Muslim)
Kelima, Rasulullah saw. memimpin pengadilan dan mengatur tata tertib pengadilan bagi para hakim. Dengan itu pengadilan dapat berjalan dengan adil tanpa menzalimi siapa pun. Beliau bersabda,
لَوْ يُعْطَى النَّاسُ بِدَعْوَاهُمْ لَادَّعَى رِجَالٌ أَمْوَالَ قَوْمٍ وَدِمَاءَهُمْ، وَلَكِنِ الْبَيِّنَةُ عَلَـى الْـمُدَّعِيْ، وَالْيَمِيْنُ عَلَـى مَنْ أَنْكَرَ
“Andai setiap orang diberi sesuai dengan tuduhan (dakwaan) mereka, tentu akan ada orang-orang yang mudah menuntut harta dan darah suatu kaum. Namun (yang benar), barang bukti wajib atas penuduh (pendakwa), dan sumpah wajib atas orang yang menolak tuduhan (dakwaan).” (HR Al-Baihaqi)
Keenam, Rasulullah saw. memang memungut jizyah dari kaum kafir ahludz dzimmah dan memberlakukan sejumlah hukum syariat atas mereka. Namun, beliau pun melindungi mereka dari tindak kezaliman. Beliau juga membebaskan mereka untuk menjalankan ibadah, makan minum, dan pernikahan sesuai agama mereka. Beliau bersabda,
أَلَا مَنْ ظَلَمَ مُعَاهَدًا، أَوِ انْتَقَصَهُ، أَوْ كَلَّفَهُ فَوْقَ طَاقَتِهِ، أَوْ أَخَذَ مِنْهُ شَيْئًا بِغَيْرِ طِيْبِ نَفْسٍ، فَأَنَا حَجِيْجُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Ingatlah, siapa saja yang menzalimi, merendahkan dan membebani seorang kafir mu’ahad melebihi kemampuannya, atau mengambil sesuatu dari dirinya tanpa keridhaannya, maka aku menjadi lawannya pada Hari Kiamat.” (HR Abu Dawud)
Ketujuh, Nabi saw. melindungi Islam dan kaum muslim dari setiap gangguan. Beliau memerangi dan mengusir Yahudi Bani Qainuqa’. Pasalnya, mereka melecehkan kehormatan seorang muslimah dan membunuh seorang pedagang muslim.
Rasulullah saw. juga mengusir Yahudi Bani Quraizhah. Ini karena mereka bersekongkol dengan kaum musyrik Quraisy menyerang kaum muslim. Hal itu melanggar perjanjian damai bersama.
Kedelapan, Rasulullah saw. mengutus sejumlah delegasi ke berbagai kabilah, kerajaan, dan kekaisaran untuk mendakwahkan Islam kepada mereka. Beliau pun memimpin jihad dalam rangka menyebarkan Islam atau mengirim saraya (pasukan yang dipimpin para sahabat) untuk berjihad.
Khatimah
Demikianlah kepemimpinan Rasulullah saw. yang seharusnya diteladan umat pada hari ini. Kepemimpinan beliau berdasarkan akidah Islam, tidak lain untuk menegakkan hukum-hukum Allah dan menyebarkan Islam ke seluruh penjuru dunia. Bukan kepemimpinan sekuler yang mengabaikan hukum Islam dan tunduk pada konsep politik trias politika (demokrasi). Apalagi ternyata dipakai untuk keuntungan oligarki. Bukan untuk kemuliaan Islam dan umatnya. Wallahualam. []
Hikmah:
Al-Hasan ra. berkata,
سُئِلَتْ عَائِشَةُ عَنْ خُلُقِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ
Aisyah ra. pernah ditanya tentang akhlak Rasulullah saw.. Lalu ia menjawab, “Akhlak beliau adalah Al-Qur’an.” (HR Ahmad). [MNews/Rgl]
Sumber: Buletin Kaffah 263 (11 Rabiulawal 1444 H/07 Oktober 2022 M)
Foto sampul: Islamonline

Maasyaalloh Allohuakbar
Rindu Rasululloh Saw