Penulis: Endiyah Puji Tristanti
Muslimah News, FOKUS — Pascapandemi Covid-19, dunia makin tidak baik-baik saja. Tanpa pandemi pun sebenarnya dunia telah berjalan menuju kehancuran akibat hegemoni ideologi dan sistem kapitalisme.
Sekularisme yang menjadi asas ideologi ini telah menghancurkan semua sendi kehidupan manusia. Terjadinya krisis multidimensi bidang ipoleksosbudhankam, runtuhnya struktur keluarga, bahkan rusaknya kepribadian generasi, menjadi konsekuensi logis. Adapun berharap penguasa hadir memberikan solusi, hanyalah kesia-siaan.
Oleh karenanya, kini masyarakat sangat mengharapkan kemunculan para pemuda dan mahasiswa penggerak perubahan untuk mengeluarkan dunia dari kapitalisme yang lumpuh yang hanya mampu memproduksi masalah. Di titik krusial inilah, butuh revitalisasi peran pemuda dan mahasiswa sebagai agen perubahan (agent of change).
Mempertahankan Kejumudan
Memperpanjang usia kekuasaan sudah menjadi tabiat setiap rezim sekuler tanpa kecuali, meskipun kegagalan mengurusi berbagai kemaslahatan rakyat tecermin jelas dalam setiap kebijakan yang pasti berakhir tanpa hasil.
Rakyat tetap dalam kemiskinan, anak-anak terus dalam ancaman stunting, perempuan kerap menjadi korban berbagai bentuk kekerasan. Pemberantasan korupsi menjadi paradoks kehidupan, polarisasi politik mengancam persatuan, ketakadilan hukum juga terus dipertontonkan.
Berbagai aksi protes, kritik kebijakan, ataupun kritik kebobrokan sistem, selalu dinarasikan sebagai hate speech, radikalisme, politik identitas, ancaman keberagaman, bahkan makar. Tidak peduli siapa yang mengkritik, entah intelektual ataupun pakar, buruh, profesional, ulama, maupun mahasiswa, penguasa hanya bisa menanggapi semua kritik dan masukan dengan menerbitkan UU ITE dan upaya pengesahan RKUHP yang layak dibaca sebagai “pembungkaman”.
Adapun terhadap kalangan aktivis pemuda dan mahasiswa, UU ITE dan RKUHP dianggap tidak cukup untuk membungkam mereka. Ini karena karakter “agen perubahan” telah eksis pada diri pemuda dan mahasiswa. Untuk itu, sepertinya pro status quo memandang perlu untuk membuat saluran baru peran strategis agen perubahan mengikuti arahan kekuasaan.
Agent of Change Abal-abal
Penting untuk memperhatikan pernyataan Menteri BUMN Erick Thohir yang mengajak mahasiswa untuk tidak hanya sibuk di pergerakan. Menurutnya, generasi saat ini tentu harus sibuk mengisi peluang-peluang yang ada, yakni dengan pendidikan, profesionalisme, juga sebagai pengusaha baru Indonesia.[1]
Pernyataan Erick ini mengandung bahaya dan racun apabila kita telaah secara saksama. Sebagaimana tanggapan Masinton, politisi dan aktivis mahasiswa 1998, bahwa yang disampaikan oleh Erick berbahaya bagi pola pikir anak muda yang bisa membentuk menjadi “mental kuli” pada masa depan, yakni hanya berpikir kuliah dan kerja.
Masalahnya, tanggapan selintas saja tidak cukup. Bagaimanapun, upaya kanalisasi makna “agen perubahan” terlihat masif dilakukan. “Tafsir baru” ini terus disosialisasikan dalam berbagai kesempatan.
Saat ini, pelaku usaha di Indonesia didominasi usaha mikro (99%), sedangkan rasio kewirausahaan Indonesia saat ini berkisar 3,47%, masih di bawah beberapa negara tetangga. Malaysia dan Thailand melampaui 4%, adapun Singapura mencapai 8%.
Pemerintah berusaha menggenjot ketertinggalan untuk menciptakan lapangan kerja baru dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Salah satunya, Kemenkop UKM (melalui ajang Pahlawan Tumpuan Ekonomi Negeri) menjaring lebih dari 6.000 pendaftar sebagai implementasi Perpres 2/2022 dengan tujuan meningkatkan rasio kewirausahaan 3,95% pada 2024.
Program ini bertujuan melahirkan agen perubahan di antara generasi muda yang memiliki jiwa kewirausahaan yang tinggi, inovatif, tumbuh secara berkelanjutan, dan mampu menciptakan lapangan kerja. Pemerintah sedang berupaya menambah sekitar satu juta wirausaha dan menaikkan skala pelaku usaha kecil ke usaha menengah agar struktur ekonomi menjadi lebih kuat saat 2024.[2]
Kanalisasi peran mahasiswa adalah dengan pemberian saluran baru yang bermuara bidang ekonomi. Akibatnya, peran agen perubahan tidak lagi mampu mengeluarkan pemuda dari kondisi kejumudan sistemis. Pemuda dan mahasiswa diberikan harapan kosong perbaikan finansial yang sangat individual. Mahasiswa akan kehilangan kepekaan dan terjadi pengabaian rasionalitas terhadap bobroknya sistem beserta berbagai kebijakan zalim yang abai terhadap rakyat.
Organisasi Pemuda dalam Satu Arahan
Gerakan mahasiswa “down to earth” tidak lagi bermakna ‘mahasiswa terjun di tengah publik mengkritik berbagai kebijakan dan kritis memberikan berbagai gagasan perubahan’. Akan tetapi, mahasiswa ditarik untuk terjun ke berbagai bidang terapan yang menyumbang benefit langsung terhadap perekonomian nasional.
Ada contoh lain upaya masif kanalisasi peran strategis pemuda. Ketua Umum DPP KNPI mengamini penelitian IPR BNPT 2020 bahwa potensi radikalisme cenderung lebih tinggi pada perempuan, kalangan urban, Gen Z, dan milenial, serta yang aktif di internet. KNPI memberikan solusi atas problematik tersebut, salah satunya dengan gerakan aktivistpreneur, yaitu sintesis antara aktivisme dan entrepreneurship.[3]
Menurut organisasi pemuda ini, aktivistpreneur merupakan transformasi aktivisme menuju kesejahteraan rakyat. Dengan pemuda menjadi berdaya dan mandiri secara ekonomi, persoalan radikalisme atau perilaku intoleransi dengan sendirinya akan hilang. Ini adalah upaya “mengawinkan” peran agen perubahan dengan entrepreneurship. Anak hasil “pernikahan” ini adalah sosok para “aktivis kuli” korporasi yang mandul yang kehilangan daya kritisnya.
Sangat kita sesalkan tatkala organisasi kepemudaan masih tertipu propaganda war on radicalism yang secara telanjang menjadi alat penjajahan negara-negara imperialis menjarah negeri-negeri kaya SDA dan SDM. Juga membidik kawasan strategis di dunia untuk dijadikan pasar tenaga kerja murah dan pasar konsumen.
Buta Politik Tanpa Ideologi Sahih
Sesungguhnya, umat mana pun, tanpa ideologi yang sahih, akan terjerumus ke dalam jebakan negara-negara industri. Begitu pun para pemuda dan mahasiswa. Mahasiswa, termasuk para aktivis pergerakan kampus, tidak memiliki “kacamata” yang mumpuni untuk menilai bahwa mereka ada di posisi yang salah.
Tanpa menyadari dirinya telah turut berkhianat terhadap amanat rakyat, mahasiswa tidak lagi memperjuangkan kepentingan rakyat yang tertindas oleh berbagai kebijakan zalim. Mahasiswa justru mencari posisi aman dan menikmati kehidupan nyaman yang semu, buah berbagai kebijakan zalim. Bahkan, mahasiswa mungkin malah berterima kasih karena kehidupan finansial individualnya telah terangkat, lalu terkikislah idealisme mereka.
Demikianlah yang terjadi saat era reformasi. Para aktivis yang dahulu turut menggulingkan tirani Orde Baru, kini duduk nyaman di kursi kekuasaan; menjadi politisi, memiliki jabatan strategis, menjadi pengusaha sukses, lantas melupakan rakyat begitu saja.
Lihat juga aksi protes mahasiswa UGM menilai kampusnya yang dinobatkan sebagai universitas peringkat satu Indonesia oleh QS World Ranking 2023, tidak memberikan sikap atas masalah yang dihadapi masyarakat. Banyak dirjen dari kementerian berasal dari UGM, termasuk Presiden. Sayangnya, mereka kehilangan wajahnya yang mulia—yang terbaik dan world class university itu—jika pada akhirnya mereka tidak memihak rakyat.[4]
Akankah mahasiswa yang saat ini aktif berunjuk rasa, pada waktu nanti mereka menjadi penguasa, mereka tidak mengulang sejarah pengkhianatan para pendahulunya? Selama ideologi sekuler kapitalisme diterapkan, akan selalu menghasilkan para agen perubahan semu yang pragmatis dalam berpikir dan berpolitik.
Oleh karena itu, pemuda dan mahasiswa membutuhkan ideologi alternatif yang sahih untuk membersihkan jiwa mereka dari karakter pragmatisme politik yang mewarisi sifat pengkhianat.
Jika bukan akidah Islam, lantas apa asas sebuah ideologi yang sahih? Benar, jawabannya ideologi Islam yang telah melahirkan sosok-sosok ksatria sekaliber Ali bin Abi Thalib, Mush’ab bin Umair, Shalahuddin al-Ayyubi, Muhammad al-Fatih, dan para generasi penakluk lainnya. Mereka selalu di garis terdepan dalam perjuangan, bukan generasi yang bermental inlander (mentalitas kalah, ed.).
Ideologi Islam akan memberikan kualifikasi terbaik generasi penjaga umat yang tepercaya; generasi yang akan berkhidmat pada umat, taat pada syariat, memiliki wawasan politik internasional yang mumpuni, andal dalam strategi, berjiwa lemah lembut, dan kukuh dalam kebenaran.
Generasi seperti ini tidak peduli dengan celaan para pencela, juga tidak silau dengan pujian dan gelar kehormatan semu dari para penjajah. Generasi inilah yang siap melakukan perubahan total dan fundamental untuk mencabut akar-akar kezaliman. Merekalah the real agent of change! Wallahualam. [MNews/Gz]
[1] https://www.republika.co.id/berita/rejlm5423/erick-thohir-mahasiswa-jangan-hanya-sibuk-di-pergerakan
[2] https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-6311667/cara-kemenkop-dongkrak-rasio-kewirausahaan-395-di-2024
[3] https://nasional.okezone.com/read/2022/09/01/337/2659137/cara-generasi-milenial-dan-pemuda-tangkal-paham-radikalisme-dan-ekstrimisme
[4] https://www.kompas.tv/article/328807/mahasiswa-ugm-bakar-jaket-almamater-kami-tak-ingin-alumni-di-pemerintahan-lupa-rakyat
