[Kabar] Peristiwa G30S/PKI, Pakar: Komunisme dan PKI Bahaya Laten, Kapitalisme Bahaya Riil

[Kabar] Peristiwa G30S/PKI, Pakar: Komunisme dan PKI Bahaya Laten, Kapitalisme Bahaya Riil

Muslimah News, NASIONAL—Sejarah kelam Indonesia tidak bisa dilepaskan dari Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia (G30S/PKI) pada 1965 yang memakan korban sejumlah jenderal TNI AD.

Mereka yang menjadi korban dalam peristiwa memilukan ini adalah Letnan Jenderal Anumerta Ahmad Yani, Mayor Jenderal Raden Soeprapto, Mayor Jenderal Mas Tistodarmo Haryono, Mayor Jenderal Siswondo Parman, Brigadir Jenderal Donald Isaac Panjaitan, Brigadir Jenderal Sutoyo Siswodiharjo, Lettu Pierre Andreas Tendean.

PKI beralasan, para jenderal itu akan melakukan kudeta terhadap Presiden Soekarno melalui Dewan Jenderal.

Diberitakan, orang-orang yang terlibat dalam gerakan itu mengenakan baret dan sapu tangan hijau di sekeliling leher.

Mereka kemudian melakukan siaran gelap dan menyatakan membentuk Dewan Revolusi Indonesia. Kabinet Dwikora yang dibentuk Bung Karno juga dinyatakan demisioner oleh mereka. Mereka juga mengumumkan penangkapan sekelompok orang yang disebut Dewan Jenderal.

Bahaya Laten

Menyoroti peristiwa G30S/PKI ini, filolog sekaligus pakar sejarah Islam Salman Iskandar mengatakan komunisme dan PKI bahaya laten.

“Berbicara komunisme dan partainya yang kita ketahui sebagai Partai Komunis Indonesia , di negeri kita Indonesia itu telah diposisikan sebagai bahaya laten, begitu juga diposisikan sebagai partai terlarang,” ungkapnya di Kabar Petang, Kamis (29/09/2022) melalui kanal Khilafah News.

Salman memberikan alasan, PKI berulangkali melakukan kudeta dan merebut kekuasaan. “Kurang dari 1 tahun sejak Proklamasi Kemerdekaan tepatnya pada 4 Juli 1946 mereka berupaya mengambil alih kekuasaan dengan menculik Perdana Menteri Sutan Sjahrir pada waktu itu,” jelas Salman.

Pada Mei 1948, lanjut Salman, Front Demokrasi Rakyat (FDR) dipimpin oleh Munawar Muso dan Amir Sjarifudin melakukan upaya mengambil alih kekuasaan di Kota Madiun. Kemudian pada September 1965 mereka melakukan upaya yang kita kenal dengan peristiwa G30S/PKI.

“Dengan serangkaian upaya pengambilalihan kekuasaan inkonstitusional dan kudeta ini pemerintah menetapkan komunisme sebagai bahaya laten dan PKI sebagai partai terlarang,” jelasnya.

Meski demikian, kata Salman, munculnya kembali neo-PKI atau PKI gaya baru itu sesuatu yang memang patut diwaspadai karena ideologi itu tidak pernah mati. “Orang-orang yang mendambakan ajaran progresif revolusioner ala Marxis seperti Karl Marx yang menggulirkan konsepsi masyarakat tanpa kelas itu akan selalu ada,” tukasnya.

Oleh karena itu, ucap Salman, kita mesti memosisikan ideologi komunisme ini sebagai bahaya laten, sesuatu yang nyata, sesuatu yang ada.

“Kebangkitan orang-orang yang mengusung ide komunis itu sangat mungkin. Bahkan, harus diposisikan sebagai bahaya laten bagi kaum muslim dan bagi bangsa Indonesia,” tegasnya.

Bahkan, andai bangsa ini tidak mengingatkan bahaya laten komunisme ini, tambah Salman, kaum muslim tetap harus waspada, sebab berkaca pada fakta sejarah ada ideologi yang paling memusuhi Islam dan kaum muslim yang merusak konsepsi kaum muslim berkenaan dengan pengingkaran serta kedaulatan Allah Swt. sebagai Tuhan yang disembah.

“Bahkan, mendekonstruksi pemahaman umat Islam terhadap syariat sekaligus menghalang-halangi tegaknya pelaksanaan syariat Islam. Mereka adalah orang-orang komunis,” cetusnya.

Ia mengutip perkataan Syekh Muhammad Ghazali (bukan Imam Ghazali) guru dari Dr. Yusuf Qardhawi bahwa bahaya laten yang terus menerus mengancam kehidupan Islam setidaknya ada tiga kelompok besar, yaitu komunisme, zionisme, dan ekstrimisme salibisme.

“Stalin (tokoh komunis) mengatakan kepada masyarakat dunia, ‘Kami tidak bisa mengalahkan dan mengomuniskan umat Islam karena mereka memiliki Tuhan yang mereka agungkan 5 kali dalam satu hari, maka kami harus membinasakan mereka.’, ” ucap Salman menirukan perkataan Stalin.

Oleh sebab itu, lanjut Salman, dalam Revolusi Bolshevik lebih dari 20 juta kaum muslim dibunuh, dieksekusi, dan diintimidasi.

“Komunisme masuk negeri ini sejak 1905. Kemudian pada 1913 sosok komunis Belanda Hendricus Josephus Franciscus Marie Sneevliet atau lebih dikenal sebagai Henk Sneevliet mengilfitrasi kader-kader Sarekat Islam yang ada di Semarang, seperti Semaun, Alimin, Darsono, dan Datuk Ibrahim Tan Malaka dibidik oleh Henk Sneevliet untuk melakukan pembusukan di internal Sarekat Islam,” terangnya.

Kapitalisme

Selain ideologi sosialisme komunisme, urai Salman, terdapat ideologi kapitalisme liberalisme yang dalam tinjauan syariat kedua-duanya adalah kemungkaran.

“Kemungkaran adalah sesuatu yang bertolak belakang dengan syariat. Sesuatu yang bertolak belakang dengan syariat adalah bahaya laten bagi umat islam. Jadi sosialisme komunisme serta kapitalisme liberalisme dua-duanya bahaya laten, ” jelasnya.

Bahkan, Salman menilai, untuk kapitalisme global yang saat ini menguasai dunia dengan berbagai kepongahan dan kesombongannya adalah ancaman dan bahaya riil yang kita hadapi saat ini.

“Dalam fakta sejarah, bahaya kapitalisme liberalisme itu jauh lebih dahsyat dibandingkan dengan sosialisme komunisme,” terang Salman.

Faktanya, sambung Salman, pihak yang berani menjatuhkan senjata pemusnah masal di dunia ini, yaitu menjatuhkan bom di Hiroshima dan Nagasaki adalah para pengusung kapitalisme liberal.

“Ini menunjukkan bukti bahwa kapitalisme jauh lebih dahsyat dibanding sosialisme komunisme. Kapitalisme saat ini menggurita dan mencengkeram dunia dengan berbagai kesombongan dan kezalimannya,” tegasnya.

Solusi

Salman mengatakan, solusi menghadapi dua ideologi yang berbahaya itu, baik sosialisme komunisme ataupun kapitalisme liberalisme adalah berjuang membangun sistem kehidupan sekaligus sistem kekuasaan yang menjadi pesaing utama kedua ideologi tersebut.

“Yaitu memperjuangkan ideologi Islam yang mengarah pada entitas politik yang dalam istilah fikih disebut Al-Imamah atau Khilafah,” imbuhnya.

Menurut Salman, hal itu mutlak diperjuangkan umat Islam, tentunya dengan jalur pemikiran dan jalur politik, serta tanpa kekerasan. “Itulah amaliah dakwah sesuai dengan apa yang dicontohkan Rasulullah saw. dan para sahabatnya,” paparnya.

Terakhir, Salman mengingatkan, dakwah itu sendiri membutuhkan pemikiran sebagai amunisi untuk menyampaikan kebenaran Islam. “Sekaligus membombardir pemikiran-pemikiran kufur yang ada di tengah umat yang berasal dari dua ideologi tersebut,” pungkasnya. [MNews/IA]

Foto sampul: iStock

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *