Penulis: Farid Wadjdi
Muslimah News, KOMENTAR POLITIK — Dalam konferensi “Dari Al-Hind (India) ke Al-Quds” pada 16—17 Juli 2022 lalu, Dr. Nazreen Nawaz menyampaikan pidato yang sangat menggugah berjudul “Negara Bangsa, Sebuah Alasan untuk Tidak Bertindak”.
Dalam pidatonya, Dr. Nazreen mengungkap apa saja yang terjadi di tengah kaum muslim, terutama muslimah, tentang belenggu nasionalisme sebagai racun yang menghalangi kaum muslim, serta mengungkap pentingnya Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah untuk menyelesaikan masalah ini.
—
Di India, muslimah dipermalukan, dihina, dan dilecehkan setiap harinya. April tahun ini, seorang imam kepala Hindu militan di Utter Pradesh menyampaikan pidato berapi-api di depan rapat umum besar-besaran di luar sebuah masjid di Kota Khairabad, mengancam akan menculik dan memerkosa wanita muslim.
Maret tahun ini, sebuah pengadilan India menegakkan larangan jilbab di ruang kelas di negara bagian Karnataka, India selatan, menyangkal hak gadis muslim untuk mengejar pendidikan sambil berpegang pada keyakinan Islam mereka.
Nasionalis Hindu di India juga telah melancarkan serangan online yang kejam terhadap wanita muslim yang penuh hinaan seksual, ancaman pemerkosaan, dan citra eksplisit; termasuk membuat aplikasi sebagai tempat lebih dari 100 wanita muslim dijual dalam lelang online palsu dan diisi dengan konten cabul.
Semua ini adalah “setetes air” dari rentetan pelecehan dan ancaman harian yang dihadapi wanita muslim di India saat ini, tetapi tidak ada pemimpin muslim, juga tidak ada negara bagian ataupun pemerintah yang membela mereka!
Hal yang sama terjadi di Kashmir. Wanita dan gadis muslim diteror setiap harinya oleh pasukan India, termasuk dalam serangan pada malam hari. Di Tanah yang Terberkati (Palestina), muslimah diteror, dipenjara, dipukuli, dan ditembak mati pada siang bolong oleh pasukan Zionis. Akan tetapi, tidak ada satu penguasa, pemerintah, atau negara pun yang menanggapi tangisan saudari muslimah kita!
Dr. Nazreen menyebutkan bahwa hal ini tidak bisa dilepaskan dari paham nasionalisme dalam sistem negara-bangsa (nation state) yang memecah belah kaum muslim, memperlemah, bahkan menjadi legitimasi untuk tidak bertindak!
Para penguasa dan rezim di negeri-negeri muslim saat ini juga memiliki legacy (warisan) yang ternoda dan dikotori oleh penyakit busuk nasionalisme dan politik negara-bangsa. Inilah penyakit yang membuat mereka melihat muslim India, Kashmir, Palestina, dan negeri-negeri lain seolah jauh dari perbatasan nasional mereka sendiri, dianggap sebagai warga negara asing di negeri asing daripada saudara-saudara mereka sendiri. Semua ini mengabaikan firman Allah Swt., “Sesungguhnya, orang-orang mukmin itu adalah bersaudara.” (QS Al-Hujurat 49: 10)
Padahal, Allah Swt. di dalam Al-Qur’an berfirman, “(Tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, kamu wajib memberikan pertolongan.” (QS Al-Anfal 8: 72)
—
Nasionalisme adalah penyakit yang membuat mereka memandang penderitaan (dan penderitaan umat Islam) di negeri lain sebagai masalah asing yang tidak ada hubungannya dengan mereka.
Nasionalisme adalah penyakit yang melucuti bangsa dan negara dari kemanusiaan, membuat mereka berdiri diam dan lumpuh di tengah genosida tanpa kemauan politik untuk bertindak, kecuali untuk kepentingan nasional mereka.
Nasionalisme dan politik negara-bangsa adalah penyakit yang menyebabkan rezim muslim mengusir muslim yang putus asa mencari perlindungan di tanah mereka, menolak mereka mendapat tempat perlindungan yang bermartabat dan kewarganegaraan karena mereka memandang mereka sebagai orang asing karena kebangsaan atau etnis mereka.
Jadi, kita bisa melihat Pemerintah Malaysia, Indonesia, dan Bangladesh mengusir pengungsi Rohingya yang putus asa, lebih suka melihat mereka mati di laut daripada memberi mereka perlindungan di tanah mereka. Rezim Hasina di Bangladesh mengasingkan pengungsi Pulau Bhasan Char yang tidak layak huni yang rawan banjir atau kembali ke tangan para pembunuh mereka di Myanmar.
Para penguasa dan rezim nasionalis ini tidak hanya meninggalkan muslim yang tertindas, tetapi juga secara aktif berteman, mendukung, dan menjalin aliansi dengan mereka yang menganiaya dan membantai muslim. Bahkan, penghinaan menjijikkan terhadap Nabi (Saw.) kita tercinta oleh juru bicara BJP India tidak cukup untuk menghalangi rezim muslim nasionalistis ini dari dukungan mereka terhadap negara bagian India apartheid ini.
—
Dr. Nazreen mengingatkan kita semua tentang pentingnya Khilafah yang akan menjaga kehormatan para muslimah. Di bawah Khilafah, pada masa lalu melakukan futuhat (penaklukan, ed.), menyebarluaskan Islam, sekaligus berperang melindungi dan mempertahankan kehormatan wanita muslimah.
Futuhat India dan Hindu terjadi sebagai respons tangisan beberapa wanita muslim yang dipenjarakan Raja Hindu India abad ke-8 yang menindas, Raja Dahir. Khalifah pada saat itu, Al-Walid bin Abdul Malik, mengerahkan pasukan tangguh yang dipimpin oleh jenderal besar Muslim Muhammad bin Qasim untuk menyelamatkan para wanita ini, meskipun ibu kota Khilafah di Damaskus pada saat itu berada ribuan mil dari India.
Khalifah abad ke-9, Al-Mu’tasim Billah mengirim pasukan besar untuk menyelamatkan seorang wanita muslim di Amuriyah, Turki, yang ditangkap dan dianiaya oleh Romawi, meskipun ibu kota Khilafah berada di Baghdad pada waktu itu.
Juga tentara pemimpin besar militer Islam abad ke-10, Al-Mansyur bin Abi Aamir dari Andalusia, Spanyol, mencapai ujung selatan Prancis (Kerajaan Navarre) sebagai tanggapan atas dua wanita muslim yang dipenjarakan di sebuah gereja.
—
Adalah penting bagi kita memperhatikan empat poin penting dari konferensi tersebut. Pertama, meningkatkan kesadaran. Dr. Nazreen menyatakan, “Kita harus meningkatkan kesadaran akan solusi dan tindakan yang benar. Ini adalah kewajiban Islam kita untuk melakukan amar makruf dan nahi mungkar. Dalam selebaran ini, kita telah menyoroti solusi yang sesungguhnya. Bagikan selebaran ini kepada semua orang yang Anda kenal.”
Kedua, meminta tanggung jawab para penguasa negeri Islam. Kita harus mengatakan, “Tidak!” pada negosiasi dan kesepakatan dengan rezim Zionis dan Hindutva, dan kita harus menuntut dari pemerintah muslim untuk memutuskan semua hubungan dengan mereka.
Ketiga, menyerukan tentara. Kita harus vokal dalam menyerukan agar tentara muslim melakukan mobilisasi karena mereka punya kemampuan peralatan untuk membebaskan umat Islam yang ada di bawah pendudukan dan menjadi korban penindasan.
Keempat, bergabung dengan upaya mendirikan Khilafah. Kita harus menjelaskan dalil-dalil kembalinya Khilafah kepada umat Islam. Hanya Khilafah Rasyidah yang akan melakukan pembebasan Al-Quds, Kashmir, dan semua tanah pendudukan lainnya. Allahu Akbar! [MNews/Gz]
Sumber: Al-Wa’ie dengan sedikit penyesuaian.
