Muslimah News, NASIONAL — Guru Besar Ilmu Gizi Fakultas Ekologi Manusia IPB University Prof. Drajat Martianto menyatakan meskipun secara umum kondisi ketahanan pengan Indonesia saat ini masih tergolong baik, tetapi terjadi penurunan ketahanan pangan yang menyebabkan Indonesia menghadapi kelaparan tersembunyi atau hidden hunger.
“Indonesia saat ini menghadapi triple burden of malnutrition, 3 masalah gizi sekaligus, yaitu gizi kurang (stunting dan wasting), obesitas, dan kurang gizi mikro (KGM) atau disebut sebagai kelaparan tersembunyi (the hidden hunger),” katanya dikutip dari keterangannya kepada media nasional, Ahad (18/09/2022).
Ia mengungkapkan, dari hasil penelitiannya hanya tinggal 1% masyarakat Indonesia yang tidak mampu mengakses pangan makro atau pangan yang mengandung karbohidrat, tetapi hampir 50% penduduk yang kekurangan sayuran, buah-buahan, pangan hewani, dan kacang-kacangan.
“Kualitas konsumsi pangan kita belum baik. Penelitian menunjukkan 1 dari 2 penduduk Indonesia tidak mampu membeli pangan hewani, buah, dan sayuran. Mereka mengalami kelaparan tersembunyi,” jelasnya.
Ia menerangkan, disebut kelaparan tersembunyi karena seringkali tanda-tandanya tidak tampak, tetapi sesungguhnya dampaknya sangat besar. “Zat gizi mikro telah terbukti sebagai unsur gizi penting untuk peningkatan produktivitas kerja, kecerdasan, dan imunitas,” ungkap Drajat.
Mestinya Ada Tindakan Serius
Besarnya kondisi kelaparan tersembunyi ini dinilai pengamat kebijakan publk Emilda Tanjung, M.Si. semestinya pemerintah sudah mengambil tindakan yang serius untuk mengatasinya.
“Kemudian pemerintah benar-benar memberikan perhatian terhadap kuantitas dan kualitas pangan yang dikonsumsi oleh rakyatnya,” ujarnya dalam sebuah podcast, Sabtu (24/09/2022)
Ini karena, jelasnya, ketika pemenuhan karbohidrat bisa dicukupi, tetapi zat gizi kurang dipenuhi dan berlangsung dalam hitungan bertahun-tahun, maka taruhannya adalah kualitas generasi.
“Fakta ini sebenarnya menunjukkan ketahanan pangan di negeri kita ini tidak bisa dikatakan sedang baik. Kalau pun kuantitas pangan makro diklaim pemerintah tersedia secara cukup, riilnya belumlah terpenuhi secara merata,” katanya.
Apalagi, tuturnya, hasil penelitian ini menunjukkan kualitas pangan yang dikonsumsi mayoritas masyarakat kita masih sangat jauh dari standar.
“Apabila kondisi ini terjadi pada ibu-ibu tentu resikonya bukan hanya kepada mereka, tetapi juga akan berdampak terhadap anak-anak yang akan mereka lahirkan, serta tumbuh kembangnya. Inilah yang akan terus menimbulkan kondisi kurang gizi atau gizi buruk di negeri kita ini,” bebernya.
Kemiskinan
Menurut Emilda, dari hasil penelitian ini diketahui pula pemicu utama ketidakterpenuhinya ini karena kemiskinan, walaupun memang tidak dinafikan ada kondisi pola makan yang tidak benar atau pengetahuan masyarakat yang kurang.
“Namun, bisa dikatakan pemicu terbesar atau kontributor terbesar terhadap kurangnya kualitas pangan yang dikonsumsi oleh masyarakat kita adalah kemiskinan yang sangat terkait dengan stunting,” ungkapnya.
Untuk itu, paparnya, solusinya tentu tidak bisa dengan kebijakan yang hanya bersifat praktis ataupun teknis, misalnya membagikan makanan fortifikasi, atau pembagian vitamin pada bulan-bulan tertentu, atau suplemen makanan tambahan, dan langkah-langkah teknis lainnya.
Emilda mengulas, dari analisa tadi bisa diketahui bahwa akar persoalan yang sesungguhnya adalah ketimpangan ekonomi yang diciptakan sistem ekonomi kapitalisme yang dijalankan hari ini
“Sistem ini makin hari makin menambah angka kemiskinan, bahkan memperlebar jurang ketimpangan yang ada di masyarakat. Ditambah pula konsep pengaturan pangan yang dilakukan di negara ini masih jauh dari konsep pengaturan yang seharusnya,” kritiknya.
Ia menyayangkan, pengaturan pangan mulai dari produksi, distribusi, hingga konsumsi diserahkan kepada swasta atau korporasi sehingga yang beredar di masyarakat bukanlah pangan yang dipastikan bernilai gizi dan dibutuhkan rakyat.
“Pangan yang diproduksi oleh korporasi lebih mengedepankan aspek kepentingan bisnis,” tukasnya.
Konsep Islam
Oleh karena itu, Emilda menyarankan, untuk menghentikan angka kelaparan tersembunyi haruslah dengan penerapan konsep Islam.
“Semua perangkat sistemnya, baik ekonomi ataupun politiknya benar-benar akan mampu mewujudkan pemenuhan pangan rakyat secara memadai dan berkualitas. Negara dalam Islam sajalah yang benar-benar akan hadir untuk memuliakan, juga memberikan kesejahteraan kepada rakyatnya. Negara Islam juga yang sangat berkepentingan untuk melahirkan generasi berkualitas,” ujarnya menekankan.
Ia juga menyatakan, negara Islam bertanggung jawab terhadap kualitas konsumsi pangan yang dikonsumsi rakyatnya. “Dalam Islam, ada standar tersendiri dalam pemenuhan pangan, yaitu standar kelayakan pemenuhan pangan bagi suatu masyarakat tertentu dengan memperhatikan bukan hanya kuantitas tetapi juga kualitasnya,” tuturnya.
Emilda mengingatkan, Allah telah memerintahkan kepada kita untuk memakan makanan yang tayib, yakni makanan yang memenuhi kualitas yang layak sesuai dengan kebutuhan gizi masyarakat. “Akan tetapi, sistem Islam yang kafah ini hanya bisa terlaksana di bawah institusi politik Islam berlandaskan akidah Islam, yakni Khilafah Islamiah,” tandasnya. [MNews/Ruh]
Foto sampul: Linisehat
