Ketegasan Khalifah Abdul Malik bin Marwan terhadap Pejabatnya

Ketegasan Khalifah Abdul Malik bin Marwan terhadap Pejabatnya

Penulis: Nabila Ummu Anas

Muslimah News, TARIKH KHULAFA — Khalifah Abdul Malik bin Marwan tidak hanya menunjukkan keberanian, kemampuan, dan kepiawaian dalam menumpas lawan-lawan politiknya, melainkan juga ia sangat mahir dalam mengelola dan mengatur negara. Ia memilih orang-orang kompeten di bidangnya masing-masing untuk mengisi jabatan penting dalam mengelola administrasi dan kebijakan politik negara. Namun, jika menemui kesalahan atau ketidaktepatan pejabatnya dalam menjalankan tugas, Khalifah Abdul Malik akan bertindak tegas terhadap mereka.

Mengangkat Pejabat yang Kompeten

Al-Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqofi adalah di antara orang yang mendapat kepercayaan penuh dalam mengendalikan pemerintahan di Irak dan bagian timur negara. Baik sangka dan kepercayaan Abdul Malik padanya, Al-Hajjaj tulus mencurahkan segenap potensi dan kemampuannya dalam menjalankan tugas demi memperkuat sendi-sendi negara.

Di samping Al Hajjaj, Abdul Malik bin Marwan juga memercayakan tugas-tugas penting negara kepada Abdul Aziz, Muhammad Bisyr, dan lainnya. Khalifah akan senantiasa mendukung mereka sehingga para pejabat ini termotivasi untuk menjalankan amanah mereka dengan sebaik-baiknya.

Tegas terhadap Pejabat yang Lalai atau Berbuat Salah

Dalam menjalankan berbagai tugas kenegaraan, Khalifah Abdul Malik mengawasi dan mengontrol seluruh persoalan rakyat dan negara secara langsung. Ia tidak henti-hentinya melakukan pengawasan terhadap semua pejabatnya. Abdul Malik bin Marwan tidak segan menjatuhkan hukuman terhadap mereka, setinggi apa pun jabatan mereka.

Al-Hajjaj sendiri yang berkedudukan sangat penting, tidak lepas dari teguran dan sanksi dari khalifah. Abdul Malik tidak bisa menerima kesewenang-wenangan yang dilakukan pejabatnya sendiri terhadap orang-orang saleh.

Anas bin Malik pernah mengadukan Al-Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqofi kepada Khalifah Abdul Malik bin Marwan. Anas mengirim surat kepada khalifah yang isinya sangat menyentuh perasaan khalifah.

Al ‘Amasy bertutur, “Muhammad bin Az-Zubair bercerita kepadaku bahwa Anas bin Malik berkirim surat kepada Abdul Malik bin Marwan yang mengadukan Al-Hajjaj.”

Isi surat Anas bin Malik adalah, “Andaikan seseorang pernah menjadi pelayan Isa bin Maryam atau melihatnya atau menemaninya, lantas umat Kristen mengenalnya atau mengetahui kedudukannya itu, tentulah raja-raja mereka rela pindah untuk mendekatinya dan pastilah ia memiliki kedudukan yang mulia di hati mereka.”

Andaikan, seseorang pernah menjadi pelayan Musa atau melihatnya atau menemaninya, lantas umat Yahudi mengenalnya, tentulah mereka memperlakukannya dengan baik serta penuh cinta, dan lain-lain sesuai kesanggupan mereka.

Aku ini adalah pelayan Rasulullah saw. sekaligus sahabatnya. Aku pernah melihat beliau dan makan bersama beliau. Aku masuk ke rumahnya, keluar dari rumahnya, dan berjuang bersamanya melawan musuh-musuhnya. Namun, Al-Hajjaj telah merugikanku dan melakukan begini dan begitu.”

Lebih lanjut, Muhammad bin Az-Zubair bercerita, “Orang yang menyaksikan memberitahuku bahwa Abdul Malik membaca surat tersebut sambil menangis. Khalifah lantas marah besar dan mengirim surat berisi teguran keras terhadap Al-Hajjaj.

Sesampainya surat itu, Al-Hajjaj segera membacanya dan mukanya memucat. Kepada si pembawa surat, Al-Hajjaj berkata, “Marilah ikut bersama kami untuk menemui Anas dan membuatnya senang.”

Menjaga Kebersihan para Pejabat

Selain itu, Abdul Malik bin Marwan sangat sadar dan serius dalam memastikan kebersihan para pejabatnya dari tindak korupsi, meluruskan perilaku mereka dan menjauhkan mereka dari segala syubhat.

Khalifah Abdul Malik selalu berusaha menjadi orang pertama dalam mengetahui kabar para pejabatnya, mengungkap segala penyimpangan dan mengevaluasi pelakunya.

Al-Mas’udi meriwayatkan Abdul Malik mendapatkan informasi bahwa salah seorang pejabatnya menerima hadiah. Ia pun segera memanggilnya guna melakukan klarifikasi.

“Apakah engkau menerima hadiah sejak pengangkatanmu?”

Si pejabat menjawab, “ Wahai Amirulmukminin, negerimu makmur, hartanya melimpah, dan rakyatmu dalam kondisi yang paling baik,” Abdul Malik menukas, “Jawablah pertanyaanku tadi! Apakah engkau menerima suatu hadiah sejak pengangkatanmu?”

“Ya,” si pejabat mengaku.

Abdul malik berkata, “Jika engkau menerimanya tanpa memberikan kompensasi (ganti) apa-apa, berarti engkau bermoral rendah. Jika engkau memberi si pemberi hadiah sesuatu yang bukan hartamu sendiri, atau engkau memberinya sesuatu yang nilainya tidak sepadan, berarti engkau berkhianat lagi zalim. Engkau diberi jabatan apapun pasti itu tidak bebas dari kejelekan moral, pengkhianatan, atau kebodohanmu yang dibuat-buat.”

Kemudian Abdul Malik memecat pejabat tersebut.

Abdul malik bin Marwan tidak membiarkan seorangpun menjilatnya, mencari muka di hadapannya dan bersikap munafik. Abdul Malik pernah berkata kepada seseorang, “Waspadalah tiga hal dalam kata-katamu, jangan sampai engkau memerdayaiku karena aku lebih mengenal diriku daripada engkau. Ataupun membohongiku karena pembohong tidak berhak berpendapat. Atau berupaya memengaruhiku untuk menghukum seorang rakyat karena mereka lebih dekat dengan keadilan dan kemaafanku daripada dengan kesewenang-wenangan dan kezalimanku.”

Sumber: Prof. Dr. Abdusysyafi Muhammad Abdul Lathif. Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Bani Umayyah. Pustaka Al-Kautsar

Foto sampul: Gana Islamika

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *