Muslimah News, INTERNASIONAL — BNPT telah menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan Coordination Unit for Threat Analysis (CUTA) Belgia di Kantor Kementerian Dalam Negeri Belgia di Brussels, Belgia. MoU ini dianggap penting untuk meningkatkan kapasitas BNPT dalam upaya penanggulangan terorisme dan ekstremisme karena meningkatnya tantangan global, regional, dan berubahnya lanskap terorisme.
Namun, pengamat politik Fatma Sunardi menilai MoU ini hanya mengukuhkan program Barat penjajah memerangi Islam politik.
“MoU penanggulangan terorisme BNPT- CUTA Belgia hanya mengukuhkan program Barat penjajah memerangi Islam politik dan menutupi buruknya sistem kapitalisme,” tuturnya kepada MNews, Selasa (14/6/2022).
Fatma mengatakan, BNPT senantiasa melekatkan tuduhan ekstremis dan teroris pada kelompok dan individu muslim, termasuk stigmatisasi radikal bagi yang mengusung aspirasi penerapan syariat dan wacana Khilafah.
“MoU dengan CUTA Belgia makin menegaskan bahwa BNPT sangat serius memerangi Islam politik atas nama penanggulangan terorisme ektrimisme,” kritiknya.
Model Ideal?
Dalam buku Outlooks from Belgium to Combat Extremism and Terrorism (Februari 2020), lanjutnya, Pusat Studi dan Penelitian Al-Mesbar menyajikan tinjauan pengalaman panjang Belgia menemukan strategi manajemen terpadu untuk memerangi dan menghilangkan ekstremisme.
“Model ini dianggap paling ideal bagi lembaga pemerintah dan non pemerintah untuk bekerja sama dan berkoordinasi dalam upaya kontra-terorisme, meskipun Belgia masih menghadapi ekstrimisme sayap kanan dari kalangan rakyatnya sendiri (bukan muslim),” tambahnya mengutip dari situs Mesbar
Fatma menilai, BNPT sebagai perpanjangan tangan rezim negeri ini, senada dengan rezim-rezim di dunia Islam, begitu patuh dan sungguh-sungguh mendukung program kontra terorisme inisiatif Amerika Serikat (AS).
Agenda Politik AS
Fatma mengatakan, kontra terorisme adalah agenda politik AS untuk mendorong seluruh pemerintahan global, terutama dunia Islam, untuk ikut mengamankan tata dunia baru (kapitalisme) dari ancaman nilai-nilai dan tata aturan Islam yang senantiasa diperjuangkan oleh komunitas muslim global.
“Di waktu yang sama, program kontra terorisme menutupi fakta keburukan sistem kapitalisme dengan melabeli Islam politik sebagai ancaman negara. Padahal, ancaman negara datang dari kegagalan sistem kapitalisme dalam menyelesaikan berbagai persoalan bagi semua bangsa,” tambahnya.
Menurutnya, kapitalisme telah memunculkan persoalan di seluruh dunia, seperti kemiskinan dan kelaparan, krisis ekonomi, krisis pangan dan energi, berbagai konflik, perubahan iklim, dan ketidakadilan.
“Kapitalisme global adalah sumber masalah, dan ia akan tenggelam bersama dengan masalah itu. Semua upaya untuk mempertahankan sistem kapitalisme pasti akan sia-sia. Masyarakat global punya hak atas sistem terbaik, yakni Khilafah,” yakinnya.
Seharusnya, Fatma menegaskan, siapa pun rezim di dunia Islam memberi jalan bagi aspirasi politik, bahkan perjuangan politik menuju tegaknya Sistem Islam, yaitu Khilafah. “Khilafah bukan ancaman. Khilafah justru solusi bagi problem global dan tentunya persoalan negeri ini, maka berhentilah menghalangi fajar munculnya Khilafah,” imbaunya.
Ia menutup penuturan dengan menyampaikan QS Al-Anfal ayat 24, “Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah seruan Allah dan Rasul, apabila Rasul menyerumu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.” [MNews/IA]
Foto sampul: BNPT
