Muslimah News, NASIONAL — Ketua Komnas Perlindungan Anak (Komnas PA), Arist Merdeka Sirait, menyebut fenomena banyaknya anak yang tewas akibat nekat membuat konten untuk media sosial dengan menghentikan mobil truk, sebagai pola salah asuh anak dari orang tua atau keluarga sendiri sebagai orang pertama.
Namun, pengamat masalah perempuan, keluarga, dan generasi dr. Arum Harjanti menyatakan, “Negara pemilik tanggung jawab terbesar atas anak, bukan hanya keluarga,” tuturnya kepada MNews, Ahad, (12/6/2022).
Arum menyampaikan bahwa fenomena baru ini jelas sangat memprihatinkan mengingat sudah banyak anak yang menjadi korban. “Namun adalah kurang tepat bila meletakkan tanggung jawab pendidikan anak hanya pada keluarga,” nilainya.
Arum tidak menampik bahwa keluarga memang menjadi lingkungan yang paling dekat dengan anak, dan juga menjadi tempat pendidikan yang pertama dan utama. “Pendidikan dalam keluarga memang meletakkan dasar yang kuat pada anak,” tegasnya.
Akan tetapi dalam perjalanannya, lanjut Arum, anak akan berinteraksi dengan sekolah dan lingkungan di luar rumah lainnya. Anak akan dibentuk oleh kurikulum yang diterapkan di sekolah. Selain itu, anak juga akan belajar dari lingkungan sekitar, bahkan lingkungan global.
“Tata nilai dan pandangan kehidupan yang mendasari semuanya, baik kurikulum maupun tata kehidupan jelas akan memberikan pengaruh kepada anak. Dan ketika kurikulum sekolah berbasis sekularisme sebagaimana kehidupan saat ini, maka nilai-nilai sekularisme lambat laun akan membentuk dirinya,”ungkapnya.
Apalagi, lanjutnya, ketika liberalisme dan kapitalisme juga menjadi acuan dasar dalam kehidupan bernegara dan berbangsa.
Arus Sekularisme
Arum menilai, derasnya arus globalisasi yang juga membawa semangat sekularisme, liberalisme dan kapitalisme jelas mempengaruhi kepribadian anak. Dasar-dasar keimanan dan kebaikan yang ditanamkan dalam keluarga perlahan terkikis karena kuatnya arus sekularisme.
“Bahkan keluarga pun terkena imbasnya. Derasnya arus kesetaraan gender membuat para ibu juga bekerja, dan kewajiban sebagai ibu generasi menjadi terabaikan,” tukasnya.
Arum menyesalkan kencangnya arus moderasi membuat agama hanya sekadar aturan ibadah sehari-hari. Beratnya kehidupan membuat orangtua sibuk bekerja, dan mengabaikan kebutuhan anak akan kasih sayang dan perhatian.
Menjajah
Arum menegaskan, bahwa sekularisme telah menjajah seluruh aspek kehidupan, baik di dalam keluarga, sekolah maupun lingkungan luar. “Jadilah anak tumbuh tanpa arahan yang benar, mencari eksistensi diri dengan cara yang salah dan membahayakan,” ungkapnya prihatin.
Dunia menjadi orientasi hidupnya, lanjutnya. “Apa pun akan ditempuh yang penting hati senang dan tenar, sehingga hilanglah jati dirinya sebagai muslim yang harus terikat pada aturan Allah, dan produktif menghasilkan karya yang bermanfaat untuk umat,” tambahnya.
Kesalahan Terbesar Penerapan Sekularisme
Arum berkesimpulan bahwa derasnya imbas buruk sekularisme dalam diri anak, menyalahkan orang tua saja bukanlah hal yang bijaksana, mengingat akar permasalahan adalah pada cara pandang terhadap kehidupan yang diemban negara.
“Sejatinya kesalahan terbesar adalah penerapan sekularisme oleh negara. Hal ini menjadikan manusia kehilangan kendali atas dirinya, karena dikuasai oleh hawa nafsunya,” simpul Arum.
Ia melanjutkan, negara seharusnya berperan utama dalam menjaga keimanan sebagai landasan dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk dalam kurikulum pendidikan dan keluarga, juga dalam interaksi di tengah masyarakat dan regulasi yang disahkannya. Karena sejatinya negara adalah perisai bagi rakyatnya, sebagaimana yang diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya.
“Oleh karena itu, untuk menyelamatkan generasi dari mati sia-sia, negara harus membuang sekularisme, menjadikan keimanan kepada Allah sebagai asasnya dan menerapkan aturan Allah secara kafah dalam seluruh aspek kehidupan,” harapnya menutup penuturan. [MNews/IA)
Foto sampul: Apahabar
