Muslimah News, INTERNASIONAL — Arum Harjanti menyoroti kecaman Barat terhadap dekret Taliban yang mewajibkan burqa (burkak) bagi perempuan Afganistan. “Ini sungguh membuka mata kita akan tabiat Barat sesungguhnya bahwa Barat tidak sungguh-sungguh mengusung perang melawan islamofobia yang terjadi di berbagai tempat di seluruh dunia,” ucapnya pada MNews, Senin (16/05/2022).
Ia menyebutkan buktinya bahwa tidak ada penghormatan Barat atas penerapan burqa oleh Pemerintahan Taliban yang diyakini sebagai kewajiban agama yang dianutnya, “Hari Internasional Melawan Islamofobia hanyalah topeng kejahatan Barat,” tandasnya.
Nyatanya, ujar Arum, belum lama Majelis Umum PBB menetapkan 15 Maret sebagai The International Day to Combat Islamophobia atau Hari Internasional Melawan Islamofobia, tetapi anehnya mengecam Taliban yang menetapkan burqa.
“Padahal, Taliban melakukan itu sebagai wujud implementasi aturan syariat Islam yang diyakininya,” tuturnya.
Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres lantas mendesak agar Taliban bersedia menepati janji untuk memenuhi hak-hak perempuan dan tidak memaksakan kehendaknya.
Antonio Guterres meminta pemerintahan Taliban menepati janjinya untuk menghormati hak-hak perempuan Afganistan dan kewajiban mereka di bawah hukum HAM internasional melalui akun Twitter-nya, Minggu (8/5/2022).
Dewan Keamanan PBB pun akan membahas dekret tersebut. Negara-negara yang tergabung dalam Group of Seven (G7) mengutuk pembatasan yang makin ketat terhadap perempuan dan anak perempuan yang dilakukan Taliban di Afganistan (12/5/2022) dan menganggap Taliban makin mengasingkan diri dari komunitas internasional.
Standar Ganda
Kecaman atas burqa ini, lanjut Arum, lagi-lagi menelanjangi standar ganda yang diusung oleh Barat bila berhadapan dengan umat Islam, “Barat tidak menggunakan dalih hak asasi manusia untuk menilai sikap pemerintah India yang melarang penggunaan hijab bagi muslimah India,” ulasnya.
Bahkan, kata Arum, Barat membiarkan kekerasan dialami oleh muslimah India yang menjalankan perintah agamanya untuk menutup aurat, “Diamnya Barat atas kejahatan yang menimpa muslimah India jelas menunjukkan bahwa Barat tidak peduli dengan nilai yang dianut oleh kaum muslimin,” tegasnya.
Arum mengajak kita melihat realitas bahwa telah nyata kebencian Barat terhadap Islam. Bahkan, penetapan Hari Internasional Melawan Islamofobia pun sejatinya bukanlah membela hak-hak kaum muslimin, “Hal itu hanya demi kepentingan dirinya,” ungkapnya.
Jelaslah, menurutnya, hak ini menunjukkan kelemahan HAM sebagai standar untuk menilai sesuatu. Maka tidak layak HAM ini dijadikan sebagai standar dalam kehidupan, karena pasti akan menghasilkan benturan dan bahkan ketakadilan.
Bertolak Belakang
Arum mengatakan jika, Barat tentu saja tidak bisa menerimanya, karena Barat selalu menggunakan standarnya sendiri untuk menilai aturan Islam, “Padahal jelas, Islam berbeda dengan Barat, bahkan sangat bertolak belakang,” terangnya.
Arum memaparkan, dalam Islam, perempuan adalah kehormatan yang wajib dijaga, dan Negara wajib untuk mewujudkan perlindungan kemuliaan perempuan secara nyata, tentu sesuai dengan tuntunan Islam, “Tentu saja Islam memiliki tata cara sendiri sesuai dengan syariat Islam. Tidak ada hak Barat untuk turut campur di dalamnya,” jelasnya.
Kewajiban Taat
Arum menyebutkan pandangan yang menurutnya lebih aneh lagi, yaitu ketika menyatakan kewajiban burqa yang ditetapkan Taliban melanggar hak asasi para perempuan Afganistan, “Bagaimana mungkin bisa menyatakan demikian, padahal Taliban sudah menyatakan menerapkan Islam?” tanyanya retorik.
Arum menekankan bahwa adalah satu keharusan bagi suatu negara mewajibkan rakyatnya untuk taat kepada aturan yang dijadikan sebagai dasar negaranya, “Apalah salah ketika satu Negara menerapkan aturan yang bersumber dari aturan yang dijadikan sebagai dasar negaranya?” tanya Arum lagi.
Penjagaan untuk Melaksanakan Perintah Allah
Arum mengatakan Perempuan Islam akan senantiasa menjadi korban penerapan HAM ala Barat sepanjang masa. Ini sungguh berbeda dengan aturan Islam.
Islam mewajibkan setiap pemeluknya untuk terikat dengan aturan yang ditetapkan Allah Swt., “Negara Islam, yaitu Khilafah Islamiah akan menjaga kaum muslimin dalam melaksanakan perintah Allah,” pungkasnya.
Arum menyatakan, meski Khilafah melakukan dakwah Islam secara masif, namun membiarkan pemeluk agama lain untuk mengamalkan ajaran agamanya, “Inilah toleransi yang ditunjukkan oleh Islam, sesuai dengan firman Allah dan QS Al-Kafirun: 6, “Untukmu agamamu dan untukkulah agamaku,” sebutnya.
Ia menyimpulkan, “Sungguh umat manusia akan hidup aman tenteram, saling menghormati di bawah naungan Khilafah Islamiah,” tutupnya. [MNews/Novita]

Negara dgn standar ganda adalah teroris… !
Negara dgn standar ganda adalah teroris … !