Penulis: Nindira Aryudhani, S.Pi., M.Si.
Muslimah News, OPINI — Ramadan 1443 H baru saja berlalu. Namun, segala momen di dalamnya terasa istimewa. Begitu banyak terjadi peristiwa politik dan sosial yang menarasikan sekularisme akut dengan payung besar bernama Islamofobia.
Demikian halnya dengan derivat sekularisme seperti ide toleransi dan moderasi beragama yang dengan begitu gamblang di-endorse oleh para pejabat negara dalam wujud ucapan selamat hari raya agama selain Islam. Padahal Ramadan adalah bulan mulia, yang semestinya kaum muslim larut dalam kekhusyukan menuju derajat kaum yang bertakwa.
Indonesia Mengaji, Orang Liberal Nyinyir
Ironisnya, sikap mereka itu sangat berbanding terbalik ketika ada sejumlah kalangan kaum muslim menyelenggarakan aktivitas kolosal, yakni mengaji (membaca) Al-Quran di trotoar.
Berawal dari acara Jogja Mengaji pada awal Ramadan lalu, acara ini diikuti ribuan orang yang mengaji di Malioboro secara flashmob di sepanjang jalur pedestrian Malioboro Jogja. Tidak pelak, aktivitas ini pun menuai pro dan kontra. Namun, alih-alih mati dan berhenti, spirit Jogja Mengaji justru menjalar ke kota-kota lain. Sebut saja agenda-agenda serupa, Riau Mengaji, Jakarta Mengaji, Bandung Mengaji, Serang Mengaji, dan Bogor Mengaji. Pun kota-kota yang sebelumnya tidak disangka, seperti di Tasikmalaya, Temanggung, dan Kediri.
Meski bagai kebakaran jenggot, kaum liberal pun mendadak punya panggung untuk menyinyiri acara ngaji massal itu. Mereka menyebut peserta ngaji massal itu dengan beragam istilah yang mematikan karakter muslim, seperti radikal, kadrun, pamer, bahkan ada yang mengomentari acara tersebut dengan kalimat “ngaji kok di trotoar”, dsb. Padahal ngaji massal itu adalah salah satu wujud penghargaan pada bulan Ramadan, yang tidak lain adalah bulan turunnya Al-Quran.
Sekularisasi Arab
Sungguh, ungkapan nyinyir kaum liberal tidak bisa terlepas dari sekularisasi yang menguat di dunia Islam. Terlebih setelah sekularisasi itu menyelimuti negeri Arab, padahal itu adalah negerinya Rasulullah saw. Namun di tangan penguasa sekuler, identitas Islam di negeri tersebut kian terkikis.
Sebagaimana kita ketahui, Pangeran Mohammed bin Salman (MbS) banyak melakukan gebrakan baru usai menjadi Putra Mahkota Arab Saudi pada 2017. Kebijakan itu semakin membuat Saudi dalam 10 tahun terakhir semakin terbuka. Beragam aturan ia buat, mulai pelonggaran kekangan terhadap perempuan hingga festival di ruang terbuka, meski tetap masih ada batasan tertentu. MbS juga merevisi aturan-aturan keagamaan yang dianggap konservatif. Ini dalam rangka visi 2030 Saudi yang menuntut Kerajaan melakukan modernisasi guna menumbuhkan ekonomi dari sektor non-minyak. Selain itu, sektor hiburan dan pariwisata juga menjadi alternatif baru bagi pendapatan negara. (CNN Indonesia, 16/4/2022).
November 2021 lalu, publik gempar dengan pemberitaan salah satu wilayah di Arab Saudi yang disebut melonggarkan aturan bebas memakai bikini di salah satu resor pantai tertentu. Kebijakan MbS lainnya yakni pelonggaran aturan terhadap perempuan di antaranya perempuan boleh hidup sendiri tanpa wali, perempuan boleh mengganti nama tanpa izin wali, perempuan boleh menyetir mobil, dan perempuan boleh masuk militer. MbS juga mengizinkan penjualan miras, bioskop beroperasi, dan gelaran konser atau festival di negara itu.
Masalahnya, MbS adalah salah satu pemimpin negara di dunia yang cukup populer di RI. Ini terbukti dengan hasil survei yang dirilis badan think tank asal Australia, Lowy Institute, awal April lalu. Lowy Institute, menggelar jajak pendapat yang diikuti oleh 3.000 koresponden RI yang berusia 17 hingga 65 tahun. MbS mengantongi 57% kepercayaan masyarakat Indonesia. Angka ini bahkan melebihi persentase Presiden RI, Joko Widodo. Dari angka 57% tersebut MbS menempati posisi pertama sebagai pemimpin dunia paling dipercaya responden Indonesia. Tidak heran, sedikit banyak kebijakan-kebijakan sekular MbS pun mewarnai cara pandang sebagian kalangan warga muslim Indonesia.
Mengisi Hari Kemenangan, Memelihara Al-Quran
Kini telah tiba Hari Kemenangan, yakni hari yang layak diperoleh kaum muslim yang berhasil meraih derajat takwa setelah berpuasa sebulan lamanya di bulan Ramadan. Hendaknya seluruh kebiasaan baik yang memfasilitasi jalan menuju takwa itu tetap berjalan sebagaimana selama Ramadan, diantaranya mengaji Al-Quran tadi.
Sungguh, Al-Quran yang mulia adalah firman Allah Ta’ala. Al-Quran adalah kitab yang dijaga dengan penjagaan Allah sendiri. Al-Quran adalah kitab yang mampu menghidupkan jiwa dan menentramkan hati.
Al-Quran adalah sebaik-baik bekal bagi setiap muslim, terlebih bagi pengemban dakwah. Dengan Al-Quran hati menjadi hidup. Para pengembannya pun akan seperti gunung yang kokoh sehingga dunia terasa kecil baginya. Ia akan senantiasa mengatakan yang hak serta tidak takut terhadap celaan orang-orang yang suka mencela, semata-mata karena Allah.
Demikian pulalah para sahabat Rasulullah saw mengarungi kehidupan. Mereka tidak ubahnya Al-Quran yang berjalan. Jiwa mereka tergetar oleh ayat-ayat adzab, dan hati mereka senang karena ayat-ayat rahmat. Air mata mereka bercucuran karena tunduk terhadap kemukjizatan dan keagungannya, serta patuh terhadap hukum-hukum dan hikmahnya. Tidak heran, mereka menjadi manusia-manusia mulia dan menjadi para pemimpin, juga menjadi orang-orang yang berbahagia dan beruntung.
Sepeninggal Rasulullah saw
Setelah Rasulullah saw wafat, hendaklah kaum muslim konsisten memelihara Al-Quran. Para penghafal Al-Quran selayaknya menjadi barisan terdepan dalam rangka melaksanakan amar makruf nahi mungkar, berikut dalam segala kebaikan dan menghadapi rintangan di jalan Allah.
Bagi seluruh kaum muslim, Al-Quran semestinya menjadi penyiram hati sekaligus penyerta yang setia mengiringi amal saleh. Al-Quran adalah pembimbing dalam meraih semua kebaikan dan mengangkat kedudukan mereka lebih tinggi lagi. Sudah seharusnya kaum muslim menelaah Al-Quran serta mengamalkannya kapan dan di mana pun; di rumah maupun di luar rumah.
Rasulullah saw bersabda, “Peliharalah (hafalan) Al-Quran! Sebab demi Zat yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, sesungguhnya Al-Quran lebih cepat lepasnya (dari ingatan) daripada lepasnya unta dari tambatannya.” (HR Bukhari dan Muslim dari Abu Musa Al-Asy’ari ra).
Beliau saw juga bersabda, “Aku tinggalkan kepada kamu dua perkara, kamu tidak akan tersesat selamanya selama kamu berpegang dengan kedua duanya, yaitu kitab Allah (Alquran) dan Sunahku.” (HR Al-Hakim).
Secara lugas, manthuq hadis di atas menerangkan bahwa Rasulullah Saw. mewariskan pada umatnya dua hal yaitu kitabullah (Al-Quran) dan Sunah. Semua umat Muhammad bisa menjadikan keduanya sebagai petunjuk agar tidak tersesat selamanya, dengan syarat mereka ber-tamassuk pada keduanya. Lafaz at-tamassuk semakna dengan al-i’tisham yakni berpegang teguh dan mengenggam kuat agar tidak terlepas.
Khatimah
Dengan izin Allah, Al-Quran bisa mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya. Maka siapa saja yang berkata menggunakan Al-Quran, pasti akan terpercaya. Siapa saja yang mengamalkannya, pasti akan beruntung. Siapa saja yang memutuskan hukum dengannya, pasti akan adil. Dan siapa saja yang mendakwahkannya, pasti akan mendapatkan hidayah ke jalan yang lurus.
Membaca Al-Quran hukumnya sunnah, tetapi menerapkan Al-Quran adalah wajib. Maka penistaan Al-Quran yang sesungguhnya adalah ketika aturan Allah di dalam Al-Quran tidak diterapkan, yakni ketika manusia lebih memilih untuk menerapkan aturan selain dari Al-Quran. Na’udzu billaahi min dzaalik.
Ingatlah bahwa Allah SWT telah berfirman, “Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS Al-Maidah [5] : 50).[]
