Muslimah News, INTERNASIONAL — Konflik di Palestina masih terus berlanjut. Pekan ini, untuk kedua kalinya Israel melakukan serangan udara di Jalur Gaza. Bahkan, serangan keduanya pada Kamis (21/4/2022) dibarengi dengan tindak kekerasan lagi terhadap kaum muslim yang sedang beribadah di Masjidilaqsa. Berdasarkan laporan dari tim Global Humanity Network (GHN) ACT, hingga kini banyak dari para jemaah yang mendapatkan perlakuan yang tidak pantas. Para perempuan dan pemuda di Masjidilaqsa menjadi korban intimidasi dan kekerasan,
Diberitakan Al Jazeera (21/4/2022), serangan pertama terjadi setelah sebuah roket ditembakkan dari Jalur Gaza di tengah meningkatnya ketegangan atas Masjidilaqsa di Yerusalem Timur yang diduduki. Namun, tidak ada faksi Palestina yang mengaku bertanggung jawab atas peluncuran roket tersebut.
Tidak hanya itu, pada Sabtu (Al Jazeera, 23/4/2022) Israel juga menutup satu-satunya penyeberangan bagi pekerja Palestina yang datang dari Jalur Gaza. Langkah ini dikecam karena dinilai sebagai “hukuman kolektif” untuk dua juta penduduk Palestina di wilayah miskin yang telah hidup di bawah blokade Israel-Mesir selama hampir 15 tahun.
Kebisuan
Salah satu media dakwah ideologis di Palestina juga menuliskan adanya serangan pesawat-pesawat tempur Israel ke beberapa lokasi di Jalur Gaza pada Kamis (21/4/2022). Bahkan, selama lima hari berturut-turut, pasukan Israel juga terus menekan jemaah di Masjidilaqsa dengan bom, peluru karet dan gas air mata, serta mengusir jamaah yang hadir di alun-alun.
Media ini menilai kebisuan yang ada di tengah para penguasa muslim telah menjadikan entitas Israel yang mengerikan ini tetap bertahan dalam arogansi, pemaksaan, dan agresinya terhadap rakyat Palestina dan kesuciannya.
Terlebih, sindirnya, berlanjutnya normalisasi dan peningkatan hubungan diplomatik (antarnegara) dengan Israel, ternyata menjadi cara menjaga “kesucian” itu.
“Beberapa dari mereka (penguasa muslim –red.) berupaya untuk meredakan krisis demi menjaga keamanan Israel dan ‘kursi bengkok mereka’. Ini adalah penghinaan, sampai tingkat mana penghinaan ini mau dicapai,” tegas media ini.
Bukan Hanya Tanggung Jawab Palestina
Media ini menyatakan Yerusalem dan kesuciannya bukan hanya tanggung jawab penduduknya yang tidak berdaya atau penduduk Gaza atau orang-orang dari Tanah yang Diberkati (Palestina). “Namun, itu adalah tanggung jawab bangsa dan tentara yang ironinya ditempatkan di barak-barak untuk mengawasi apa yang dilakukan penjajah,” cetusnya.
Hanya saja, media ini mengulas upaya eksklusif yang menghubungkan pembelaaan terhadap Yerusalem dengan Gaza menjadi tujuan menyesatkan yang dapat melepaskan tanggung jawab bangsa muslim dan tentaranya dari kebutuhan mendukung Tanah yang Diberkati (Palestina), termasuk membebaskannya.
Selanjutnya, media ini menyeru tentara-tentara muslim, terutama di bulan kemuliaan dan kemenangan ini.
“Wahai tentara muslim, Anda adalah cucu Umar, Khalid, Salahuddin, dan Qutuz . Kapan Anda akan menyadari bahwa Anda dapat membalikkan keadaan dan mengakhiri pengaruh penjajah dan bergerak untuk membebaskan Palestina? Kapan Anda akan menyadari bahwa Anda bukan tentara bayaran, melainkan kekuatan bangsa, sampai Anda menanggalkan pakaian penghinaan yang telah dikenakan penguasa boneka kepada Anda, kemudian bergerak untuk mendukung saudara-saudara Anda yang lemah? Kapan Anda akan menjawab panggilan Tuhan Anda, Pencipta dan Pengasih, dan siapa yang lebih dekat dengan Anda daripada urat leher Anda, saat Dia menyapa Anda?” ungkapnya lugas.
Media ini pun menutup dengan firman Allah,
“Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa apabila dikatakan kepada kamu, ’Berangkatlah (untuk berperang) di jalan Allah,’ kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu lebih menyenangi kehidupan di dunia daripada kehidupan di akhirat? Jika kamu tidak berangkat (untuk berperang), niscaya Allah akan menghukum kamu dengan azab yang pedih dan menggantikan kamu dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan merugikan-Nya sedikit pun. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS At-Taubah: 38-39) [MNews/Ruh]
Sumber foto: reuters
