[Nafsiyah] Amalan Bernilai Pahala bagi Perempuan Haid Saat Ramadan (Bagian 2/2)

[Nafsiyah] Amalan Bernilai Pahala bagi Perempuan Haid Saat Ramadan (Bagian 2/2)

Penulis: Najmah Saiidah

Sambungan dari Bagian 1/2

Muslimah News, NAFSIYAH — Banyak sekali aktivitas Ramadan yang bernilai pahala yang bisa dilakukan oleh perempuan yang sedang haid. Berikut adalah petikan khotbah Rasulullah ketika akan memasuki Ramadan. Rasulullah saw. bersabda,

“Wahai manusia! sesungguhnya kamu akan dinaungi oleh bulan yang senantiasa besar lagi penuh keberkahan, yaitu bulan yang di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan; Bulan yang Allah telah menjadikan puasanya suatu fardu, dan qiyam di malam harinya suatu tathawwu’. Barang siapa mendekatkan diri kepada Allah dengan suatu pekerjaan kebajikan di dalamnya, samalah dia dengan orang yang menunaikan suatu fardu di dalam bulan yang lain.”

“Ramadan itu adalah bulan sabar, sedangkan sabar itu adalah pahalanya surga. Ramadan itu adalah bulan memberi pertolongan (syahrul muwasah) dan bulan Allah memberikan rizki kepada mukmin di dalamnya.”

“Barang siapa memberikan makanan berbuka seseorang yang berpuasa, adalah yang demikian itu merupakan pengampunan bagi dosanya dan kemerdekaan dirinya dari neraka. Orang yang memberikan makanan itu memperoleh pahala seperti orang yang berpuasa tanpa sedikitpun berkurang.”

Para sahabat berkata, “Ya Rasulullah, tidaklah semua kami memiliki makanan berbuka puasa untuk orang lain yang berpuasa. Maka bersabdalah Rasulullah saw., “Allah memberikan pahala kepada orang yang memberi sebutir kurma, atau seteguk air, atau sehirup susu.”

“Dialah bulan yang permulaannya rahmat, pertengahannya ampunan, dan akhirnya pembebasan dari neraka. Barang siapa meringankan beban dari budak sahaya (termasuk di sini para pembantu rumah) niscaya Allah mengampuni dosanya dan memerdekakannya dari neraka. Oleh karena itu perbanyaklah empat perkara saat Ramadan; dua perkara untuk mendatangkan keridaan Tuhanmu, dan dua perkara lagi kamu sangat menghajatinya.”

“Dua perkara yang pertama ialah mengakui dengan sesungguhnya bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan mohon ampun kepada-Nya . Dua perkara yang kamu sangat memerlukannya ialah mohon surga dan perlindungan dari neraka.”

“Barang siapa memberi minum kepada orang yang berbuka puasa, niscaya Allah memberi minum kepadanya dari air kolam-Ku dengan suatu minuman yang dia tidak merasakan haus lagi sesudahnya, sehingga dia masuk ke dalam surga.” (HR Ibnu Huzaimah)

—

Dari khotbah Rasulullah ini, kita akan dapati setidaknya empat amalan yang bisa dilakukan oleh perempuan yang sedang haid, yaitu

  1. melakukan kebajikan saat Ramadan sama dengan menunaikan suatu fardu pada bulan yang lain;
  2. memberikan makanan kepada yang berpuasa memperoleh pahala seperti orang yang berpuasa tanpa sedikit pun berkurang, bahkan hanya memberi sebutir kurma, seteguk air, atau sehirup susu;
  3. meringankan beban budak sahayanya atau para pegawainya, niscaya Allah mengampuni dosanya dan memerdekakannya dari neraka; dan
  4. memberi minum kepada orang yang berbuka puasa, maka Allah memberi minum kepadanya dengan suatu minuman yang dia tidak merasakan haus lagi sesudahnya, sehingga dia masuk ke dalam surga.

Selain itu banyak lagi aktivitas lainnya yang dijelaskan dalam ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis-hadis Rasulullah, yaitu sebagai berikut:

Pertama: Melakukan khidmat (pelayanan/membantu) orang lain, terutama orang yang berpuasa.

Sesungguhnya khidmat, seremeh apa pun adalah amal saleh. Dari Jabir bin Abdullah ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Setiap kebaikan adalah sedekah. Dan di antara bentuk kebaikan adalah kamu menjumpai saudaramu dengan wajah yang menyenangkan. Dan kamu menuangkan air dari embermu ke dalam bejana milik saudaramu.” (HR At-Tirmidzi)

Menuangkan air pada bejana saudara adalah jenis pelayanan. Rasulullah saw. menyebutnya termasuk makruf sebagaimana berwajah ramah juga disebut makruf.

Sesuatu yang disebut makruf adalah amal saleh, sehingga bisa dikatakan khidmat adalah amal saleh. Lebih utama lagi jika yang dilayani adalah orang yang berpuasa, karena melayani orang yang berpuasa dan meringankan mereka bisa membuat yang melayani mendapatkan ganjaran sebagaimana orang yang berpuasa.

—

Kedua: Mendorong orang lain beramal saleh.

Hal ini termasuk amal saleh dan membuat pelakunya mendapatkan pahala sebagaimana orang yang beramal saleh tersebut.

Dari Abu Mas’ud Al Anshari dia berkata, seorang laki-laki datang kepada Nabi saw. seraya berkata, “Wahai Rasulullah, jalan kami telah terputus karena hewan tungganganku telah mati, oleh karena itu bawalah saya dengan hewan tunggangan yang lain.” Maka beliau bersabda, “Saya tidak memilikinya.” Tiba-tiba ada seorang laki-laki yang berkata, “Wahai Rasulullah, saya dapat menunjukkan seseorang yang dapat membawanya (memperoleh penggantinya).” Maka beliau bersabda, “Barang siapa dapat menunjukkan suatu kebaikan, maka dia akan mendapatkan pahala seperti orang yang melakukannya.” (HR Muslim)

As-Shon’ani menjelaskan “menunjukkan” bisa dilakukan dengan cara memberi saran kepada orang lain untuk melakukan kebaikan, atau memberitahu orang yang ingin melakukan kebaikan untuk mendatangi orang tertentu, atau memberi nasihat, memberi peringatan”. (Subul As-Salam vol.4 hlm 170).

Oleh karena itu, wanita haid yang membangunkan orang lain untuk sahur dan berpuasa maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang sahur dan berpuasa.

—

Ketiga: Memperbanyak istigfar dan sedekah.

Secara khusus Rasulullah saw. merekomendasikan agar memperbanyak istigfar dan sedekah karena beliau diperlihatkan bahwa kaum perempuan adalah penghuni neraka yang paling banyak.

Saran Rasulullah saw. ini hendaknya mendapat perhatian lebih kaum perempuan karena Rasulullah saw. adalah insan yang paling tahu sesuatu yang paling menyelamatkan umatnya di akhirat.

Istighfar dan sedekah lebih layak diperhatikan saat Ramadan karena bulan ini adalah bulan yang paling mulia di antara seluruh bulan.

—

Keempat: Memperbanyak zikir.

Kaum perempuan yang haid ketika Ramadan dianjurkan memperbanyak zikir baik dengan lisan maupun dengan hatinya.

Di antara dalil yang menunjukkan keutamaan zikir adalah firman Allah yang artinya: “Ingatlah Aku, niscaya aku akan mengingatmu” (Al-Baqarah: 152)

Di antara lafaz zikir yang bisa diistikamahkan adalah lafaz yang diajarkan Rasulullah saw., dalam hadis dari Abu Hurairah menuturkan; Rasulullah saw. bersabda, “Ada dua kalimat yang ringan di lisan, berat di timbangan, dan disukai Ar-Rahman, yaitu subhanallah wabihamdihi dan subhaanallahul ‘azhiim.” (HR Bukhari)

Kelima: Memperbanyak doa.

Doa adalah ibadah. Ibadah termasuk amal saleh. Seorang perempuan bisa memperbanyak doa saat Ramadan ini.

Dari An-Nu’man bin Basyir dari nabi saw., beliau bersabda, “Doa adalah ibadah.” (HR Abu Dawud).

Terutama sekali berdoa pada sepertiga malam terakhir dan waktu antara azan dengan iqomah (ikamat) karena waktu tersebut adalah waktu mustajab.

Keenam, Tholabul ‘Ilmi.

Mencari ilmu termasuk amal saleh yang bisa dilakukan perempuan haid saat Ramadan baik dilakukan dengan mendatangi majelis ilmu maupun mempelajari isi buku ataupun dari medsos.

Banyak nas yang menunjukkan keutamaan mencari ilmu. Saat Ramadan biasanya bertaburan majelis ilmu. Tentu saja kita memilih kajian yang paling bermanfaat bagi din dan mulailah mempelajari ilmu-ilmu islam yang fardu ain terlebih dahulu.

Allah berfirman, yang artinya: “Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya, mereka Itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka Itulah orang-orang yang mempunyai akal.” (QS Az-Zumar: 18)

—

Telah sangat jelas bahwa ketika seorang perempuan sedang haid, walaupun tidak berpuasa, tetap banyak amal saleh yang bisa ia kerjakan. Oleh karenanya, tidak perlu bersedih ataupun kecewa karena tetap banyak ladang pahala yang bisa dilakukan. Wallahualam. [MNews]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *