[Nafsiyah] Amalan Bernilai Pahala bagi Perempuan Haid Saat Ramadan (Bagian 1/2)

[Nafsiyah] Amalan Bernilai Pahala bagi Perempuan Haid Saat Ramadan (Bagian 1/2)

Penulis: Najmah Saiidah

Muslimah News, NAFSIYAH — Telah kita ketahui bersama bahwa puasa Ramadan hukumnya wajib bagi setiap muslim dan muslimah yang sudah balig dan berakal sehat.

Khusus bagi muslimah, ada beberapa ketentuan yang diperbolehkan berbuka (tidak saum) pada siang hari saat Ramadan, salah satunya yaitu ketika perempuan haid dan nifas.

Muslimah yang sedang kedatangan haid atau nifas saat Ramadan dilarang melaksanakan saum dan diwajibkan mengqadanya pada hari-hari lain. Kadang-kadang, keadaan ini menjadikan perempuan tidak melakukan aktivitas apa pun saat Ramadan.

Kaum perempuan yang sedang menstruasi ataupun nifas tentunya tidak bisa sebulan penuh menjalani saum Ramadan dan ibadah-ibadah tertentu, seperti salat, bahkan mengaji Al-Qur’an pun tidak diperbolehkan. Pada akhirnya, kita sebagai perempuan menjadi bersedih karena banyak amal saleh yang tidak bisa dilakukan.

—

Pada dasarnya, ini merupakan hal wajar, hal ini pun pernah dialami oleh Aisyah. Rasulullah saw. pernah menghibur Aisyah yang bersedih karena keburu datang bulan, padahal belum sempat menjalankan manasik haji.

Dari Aisyah ra. berkata, “Kami keluar (safar) bersama Nabi saw., dan tujuan kami hanyalah ibadah haji. Sampai ketika kami tiba di Sarif atau dekat dengannya, aku mengalami haid. Kemudian Nabi saw. masuk menemuiku sementara aku sedang menangis. Lalu beliau bertanya, ‘Apakah engkau mengalami nifas?’ (maksudnya adalah haid (menstruasi)). Aisyah berkata, “Aku jawab, ’Iya.’ Beliau saw. bersabda, ‘Sesungguhnya ini adalah sesuatu yang telah Allah tetapkan (takdirkan) bagi kaum wanita dari anak cucu Adam. Maka lakukanlah amalan-amalan haji, hanya saja janganlah engkau Tawaf di Kakbah sebelum engkau mandi (setelah suci dari haid).’ Aisyah berkata, ‘Kemudian Rasulullah saw. berkurban dengan menyembelih seekor sapi yang diniatkan untuk semua istrinya.’” (HR Bukhari Muslim)

Perempuan yang ketika masuk Ramadan sempat berpuasa Ramadan, kemudian mendapat siklus bulanan (haid), tidak perlu bersedih karena ini adalah ketetapan Allah Swt.. Lagi pula, ikhlas dan menjauhi larangan Allah juga termasuk ibadah.

Terlebih lagi, perempuan yang sedang haid atau nifas masih bisa melakukan berbagai aktivitas yang bernilai ibadah untuk meraih berkah Ramadan. Ini karena aktivitas bernilai pahala saat Ramadan tidak hanya salat dan membaca Al-Qur’an.

—

Sikap pertama yang wajib dibangun perempuan yang haid saat Ramadan adalah rida. Seorang hamba yang beriman memang tidak boleh bersikap selain rida dengan ketentuan-Nya.

Allah berfirman, “Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin apabila mereka diajak kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukumi (mengadili) di antara mereka ialah ucapan, “Kami mendengar, dan Kami patuh.” Dan mereka Itulah orang-orang yang beruntung.” (QS An-Nur: 51)

Kesedihan karena tidak bisa berpuasa, salat, tarawih, ataupun membaca Al-Qur’an karena haid adalah hal baik. Di antara ciri orang beriman adalah gembira ketika melakukan amal saleh dan susah ketika melakukan kemaksiatan.

Dari Ibnu Umar, Rasulullah saw. bersabda, “Barang siapa kebaikannya yang ia lakukan membuatnya bahagia dan keburukannya membuatnya susah, maka dia adalah seorang mukmin.” (HR At-Tirmidzi)

Patut pula dipahami oleh kaum perempuan bahwa ketika ia tidak saum Ramadan karena haid, hal itu bermakna ia sedang menjalankan perintah Allah karena Allah melarang perempuan haid berpuasa. Artinya, ia sedang beramal saleh sebagaimana yang berpuasa tanpa ada perbedaan.

Justru perempuan haid tersebut sedang menjalankan perintah Allah dengan cara yang lebih ringan daripada yang berpuasa yang harus menahan lapar dan dahaga.

Dalilnya adalah hadis dari Abu Sa’id Al Khudri ia berkata, 

“Rasulullah saw. pada hari raya Iduladha atau Idulfitri keluar menuju tempat salat, beliau melewati kaum perempuan seraya bersabda, ‘Wahai kaum perempuan! Hendaklah kalian bersedekahlah, sebab diperlihatkan kepadaku bahwa kalian adalah yang paling banyak menghuni neraka.’ 

Kami bertanya, ‘Apa sebabnya wahai Rasulullah?‘

Beliau menjawab, ‘Kalian banyak melaknat dan banyak kufur terhadap suami. Dan aku tidak pernah melihat makhluk yang kurang akal dan agamanya yang bisa mengalahkan lelaki yang kuat tekadnya selain kalian.’ 

Kami bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah, apa tanda dari kurangnya akal dan lemahnya agama?’ 

Beliau menjawab, ‘Bukankah persaksian seorang perempuan setengah dari persaksian laki-laki?’ 

Kami jawab, ‘Benar.’ 

Beliau berkata lagi, ‘Itulah kekurangan akalnya. Dan bukankah seorang perempuan bila dia sedang haid dia tidak salat dan puasa?’ 

Kami jawab, ‘Benar.’

Beliau berkata, ‘Itulah kekurangan agamanya.’” (HR Bukhari)

—

Lafaz “bukankah seorang perempuan bila ia sedang haid ia tidak salat dan puasa” menunjukkan bahwa pada zaman Rasulullah saw. sudah diketahui bahwa perempuan yang haid tidak berpuasa dan tidak salat.

Oleh karena salat lima waktu dan puasa Ramadan hukumnya wajib, sedangkan kaum perempuan pada zaman Rasulullah saw. malah tidak melakukannya, hal ini bermakna bahwa puasa dan salat memang terlarang bagi perempuan haid. Artinya, jika dilakukan, puasa dan salat tersebut tidak sah dan ia melakukan keharaman, malah melanggar perintah Allah dan berdosa.

Jadi, rida adalah sikap pertama yang harus dibangun. Sikap rida adalah bagian dari amal saleh, bahkan termasuk di antara amal saleh yang paling agung.

Lalu amal saleh apa yang bisa dilakukan oleh seorang perempuan ketika sedang haid saat Ramadan? [MNews]

(Bersambung ke Bagian 2/2)

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *