Muslimah News, KISAH INSPIRATIF – Banyak kisah shahabiyah (sahabat perempuan di masa Rasulullah) yang patut diteladani perempuan muslimah masa kini. Tidak hanya dari akhlak, perilaku, atau keseharian mereka, tetapi juga peran yang bisa menjadi contoh.
Salah satunya adalah Safanah binti Hatim at-Tha’i. Ia merupakan salah satu shahabiyah yang dikenal akan kesantunannya dalam berperilaku dan berbicara. Mengutip dari buku Perempuan-perempuan Mulia di Sekitar Rasulullah karya Muhammad Ibrahim Salim, berikut kisah hidup Safanah terhimpun.
Latar Belakang Keluarga
Safanah lahir dari keluarga pembesar suku Tha’i. Garis keturunannya dikenal dengan keluarga ningrat. Ia memiliki nama lengkap Safanah binti Hatim bin Abdullah bin Sa’ad bin al Hasyraj bin Imri’ al-Qais bin Addi bin Akhzam bin Rabiah bin Jarwal bin Tsa’al bin Amar bin al-Ghauts bin Tha’ at-Tha’i.
Lahir di lingkungan yang berlimpah harta dan kebahagian tidak membuatnya tumbuh sebagai sosok angkuh dan sombong. Ini tidak terlepas dari keteladanan yang ayahnya berikan untuknya. Hatim, sang ayah tersohor dengan kedermawanannya. Namanya bahkan disebut-sebut sebagai ikon filantropi ketika itu.
Dalam hal kedermawanan, Hatimlah jagonya. Ia kerap memberikan nasihat kebaikan hingga ia menjadi tokoh representatif bagi masyarakat. “Akrim min Hatim”, berbuatlah kemuliaan lebih baik dari Hatim.
Pandai Berdiplomasi
Safanah adalah figur panutan. Parasnya cantik dan berkulit putih. Postur tubuhnya tinggi. Gaya bicaranya lugas, fasih, santun, dan komunikatif. Kepercayaan dirinya tinggi dan bangga berbagi derma.
Dalam satu kisah, ia kerap mengawasi delegasi yang hendak pergi ke Madinah seraya berharap kelak ia akan kembali ke sana. Perannya sebagai muslimah santun terekam dalam sejarah saat peristiwa penawanan suku Tha’i. Safanah tampil ke hadapan Rasulullah berdiplomasi agar ia dilepaskan.
Ibnu Ishaq menceritakan ketika Rasulullah saw. menawan Safanah dan beberapa tawanan Tha’i yang lain, Safanah bersikap sangat diplomatis. Safanah meminta dibebaskan untuk mencari saudaranya, Adi bin Hatim, yang terlebih dahulu lolos dari tawanan. Safanah berkata, “Wahai Rasulullah, telah meninggal dunia seorang bapak (Hatim at-Tha’i) dan telah kabur seorang utusan.” Rasulullah bertanya, “Siapakah utusan tersebut?” Safanah menjawab, “Adi bin Hatim.” Rasulullah kembali bertanya, “Bukankah dia yang kabur dari Allah dan Rasul-Nya?”
Dialog tadi terulang sampai tiga kali hingga salah seorang dari balik Rasulullah berkata dengan tidak sabar, “Wahai (putri) kaumku, katakan kepadanya apa yang kamu mau!” Tanpa gentar, Safanah kemudian menjawab, “Wahai Rasulullah, telah meninggal seorang bapak dan seorang utusan kabur. Berikan kepadaku apa yang Allah berikan kepadamu.”
Lantas Rasulullah menjawab, “Sesungguhnya saya telah membebaskanmu, untuk menyusul saudaramu, tetapi saya belum menemukan orang yang bisa dipercaya untuk mengantarkanmu kembali ke negerimu. Nanti akan tiba saatnya.”
Dengan demikian, hati Safanah menjadi tenang dan lega. Ia akan segera bertemu kembali dengan saudaranya. Walau sebagai tawanan, tetapi kaum muslim memperlakukan Safanah dengan baik.
Safanah menceritakan bahwa Rasulullah menjaga dan merawatnya dengan memberikan makanan dan pakaian hingga tiba saatnya ia menemui saudaranya. Ketika akhirnya kedua saudara itu bertemu, Adi bin Hatim bertanya, “Bagaimana kesanmu terhadap laki-laki itu?” Lantas Safanah menjawab, “Saya berharap kamu bisa menemuinya.”
Riwayat yang lain menceritakan bahwa Safanah menemui Adi bin Hatim di Dumatul Janda. Setelah dibebaskan, Safanah berkata kepada Adi bin Hatim, “Wahai saudaraku, datangilah laki-laki tersebut (Rasulullah) sebelum dia datang menangkapmu. Sesungguhnya saya melihat perkataan yang jujur dan santun akan mengalahkan kaumnya yang menang. Dan saya telah menyaksikan begitu mulia sifat-sifat Rasulullah. Ia adalah orang yang mencintai fakir miskin, membebaskan tawanan, menyayangi yang lebih kecil, dan menghormati yang lebih besar. Saya tidak pernah menjumpai orang seramah dan semulia dia. Seandainya dia seorang Nabi, mudah-mudahan kamu mendapat keutamaannya dan seandainya dia seorang malaikat, dia masih berada pada kemuliaannya.”
Sungguh, perkataan saudarinya telah menyentuh hati Adi. Ia mempercayai Safanah sebagaimana telah terlihat dari kesantunan ia berbicara. Lantas Adi berkata, “Demi Allah, benarkah apa yang engkau katakan?”
Saat itu juga, Adi berangkat menemui Rasulullah untuk menyatakan keislamannya. Adi bin Hatim menjadi muslim bersama Safanah yang kemudian beganti nama menjadi Hazimah. Peristiwa ini merupakan momen terpenting dalam sejarah sukunya.
Cerita Safanah tentang Muhammad membawa hidayah bagi saudara dan segenap kaumnya. Dialah penyampai hidayah Islam dengan diplomasi yang santun. Wallahualam. [MNews/Chs-Has]
Sumber: sindonews

