Penulis: Najmah Saiidah
Muslimah News, KELUARGA – “Mintalah oleh kalian kepada Allah ampunan dan kesehatan. Sesungguhnya setelah nikmat keimanan, tak ada nikmat yang lebih baik yang diberikan kepada seseorang selain nikmat sehat.” (HR Hakim)
Hadis ini telah memberikan penjelasan kepada kita bahwa Islam memberikan perhatian yang sangat luar biasa terhadap kesehatan. Hal ini tampak ketika Islam mempersandingkan kesehatan dengan keimanan, nikmat keimanan dan nikmat kesehatan.
Rasulullah saw. bersabda yang artinya, “Orang mukmin yang kuat itu lebih baik dan disukai Allah daripada mukmin yang lemah.” (HR Muslim)
Salah satu hal penting terkait dengan kesehatan adalah makanan. Membuat dan menyediakan makanan yang sehat, bergizi, dan tetap enak untuk dinikmati, serta sesuai dengan standar pola hidup sehat merupakan amalan yang disukai Allah. Apalagi jika dalam anggota keluarga tersebut terdapat anak kecil atau orang tua yang membutuhkan makanan khusus sesuai dengan umur dan kondisi tubuh mereka.
Allah Swt. berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada Allah kamu menyembah.” (QS Al–Baqarah: 172)
Perintah Islam agar Mengonsumsi hanya Makanan yang Halal dan Tayib
Allah Swt. telah mewajibkan kepada kita agar memakan makanan yang halal dan tayib, sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 168,
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ كُلُواْ مِمَّا فِي ٱلۡأَرۡضِ حَلَٰلٗا طَيِّبٗا وَلَا تَتَّبِعُواْ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِۚ إِنَّهُۥ لَكُمۡ عَدُوّٞ مُّبِينٌ
“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan; karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu.”
Imam Ali ash-Shabuni dalam Mukhtashar Ibn Katsir menjelaskan bahwa maksud dari makanan tayib adalah makanan atau minuman yang baik untuk dirinya dan sehat, tidak memberi bahaya pada badan dan akalnya. Sedangkan, makanan yang halal adalah selain makanan yang diharamkan Allah, sebagaimana tercantum dalam QS Al-Maidah ayat 3 dan Al-Baqarah ayat 173, yaitu “bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, dan (hewan yang mati) tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu sembelih, dan (diharamkan juga bagimu) yang disembelih untuk berhala.”
Sebagai muslim, tentu kita harus menyadari serta menghayati kewajiban ini. Kita harus terus berusaha mengonsumsi makanan yang halal, sesuai dengan perintah Allah.
Kalau orang mengaku muslim, tetapi tidak peduli dengan kehalalan dalam konsumsi, berarti dia melanggar perintah Allah yang telah mewajibkan hal ini. Dan kalau melanggar kewajiban Allah, berarti dianggap melakukan perbuatan yang berdosa, dengan dampak niscaya hidupnya pun akan jauh dari keberkahan, dunia apalagi akhirat.
Dahsyatnya Pengaruh Makanan bagi Muslim
Tidak sedikit umat Islam yang kadang mengabaikan pentingnya asupan yang masuk ke dalam tubuhnya. Seringkali yang dipikirkan dalam benak hanya terkait dengan kecukupan gizi dari makanan semata. Padahal, Islam telah memerintahkan kita agar memilih dan mengonsumsi makanan yang halal dan juga tayib.
Sesungguhnya banyak nas-nas yang menjelaskan tentang bagaimana pengaruh asupan makanan yang dikonsumsi terhadap diri kita. Tidak sekadar berpengaruh kepada kesehatan kita atau keadaan fisik tubuh kita, akan tetapi berpengaruh besar pula dalam kehidupan dunia dan akhirat kita. Masyaallah, luar biasa.
Dampak makanan dan minuman yang haram akan menjadikan hati manusia keras sehingga lebih cenderung berbuat maksiat, susah memperoleh ilmu yang bermanfaat, dan doanya tidak dikabulkan oleh Allah.
Dari Ibnu Abbas, Rasulullah saw. bersabda, “Maka Sa’ad bin Abi Waqash berkata, ‘Wahai Rasulullah berdoalah kepada Allah agar menjadikanku orang yang doanya terkabul.’ Maka Rasulullah bersabda, ‘Ya Sa’ad jagalah makananmu, niscaya kamu menjadi seorang yang mustajab doamu, demi Allah yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, sesungguhnya ada kalanya seseorang memasukkan makanan yang haram dalam perutnya, lalu tidak diterima amalnya selama 40 hari. Dan setiap orang yang dagingnya tumbuh dari makanan yang haram atau riba, maka neraka lebih tepat menjadi tempatnya.’”(Imam Ali ash-Shabuni, Mukhtashar Ibn Katsir, QS Al-Baqarah: 168)
Hadis dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah itu suci dan tidak menerima kecuali yang suci. Dan Allah memerintahkan orang mukmin sebagaimana memerintahkan kepada para rasul dalam firman, ‘Wahai para rasul, makanlah yang baik-baik dan lakukanlah kesalehan.‘ Dan Allah berfirman, ‘Wahai orang yang beriman, makanlah dari rezeki yang kami berikan yang baik-baik.’ Kemudian Rasulullah saw. menyebut seseorang yang melakukan perjalanan panjang hingga rambutnya kusut dan berdebu, sambil menadahkan tangannya ke langit menyeru, ‘Ya Tuhan. Ya Tuhan.” Sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan diberi makan dengan yang haram. Bagaimana doanya bisa dikabulkan?” (HR Bukhari)
Dalam sebuah hadis dijelaskan, “Setiap tubuh yang tumbuh dari (makanan) yang haram, maka api neraka lebih utama baginya (lebih layak membakarnya).” (HR Ath-Thabrani).[MNews/Rgl]
Sumber foto: iStock

