Penulis: Nabila Ummu Anas
Muslimah News, TARIKH KHULAFA — Setelah dibaiat, Ali bin Thalib ra. segera mengambil berbagai langkah untuk menyatukan umat yang telah terpecah. Khalifah Ali ra. melihat bahwa sumber fitnah pada masa Khalifah Utsman ra. lebih karena kelemahan para wali dalam mengawasi dan mengontrol daerahnya.
Akhirnya, banyak kegiatan para pemberontak yang berakhir dengan terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan ra. sehingga Khalifah Ali ra. mengambil kebijakan untuk mengganti para wali.
Akan tetapi, reshuffle ini tidak semata bertujuan mengganti pejabat yang dinilai haus kekuasaan dan kekuatan, melainkan untuk memulihkan situasi keamanan dan stabilitas dalam negeri yang sebelumnya diguncang prahara besar dalam sejarah Islam.
Penggantian para Wali untuk Stabilitas Dalam Negeri
Khalifah Ali ra. memandang para wali tidak bisa melakukan pengawasan secara langsung terhadap kegiatan pengikut Saba’ sehingga mereka muncul ke permukaan dan tidak pernah mendapat teguran. Selain itu, Khalifah juga menilai kebanyakan dari para wali tidak layak menduduki jabatan tersebut. Oleh karena itu, beliau menggantinya dengan orang yang lebih baik dan kemampuannya dapat diandalkan.
Lebih dari itu, penggantian para wali dalam kondisi seperti ini diharapkan dapat membuat rakyat tenang dan memunculkan harapan terhadap pemerintahan yang baru. Pada saat yang sama, penggantian ini juga dimaksudkan menumbuhkan kembali kepercayaan rakyat terhadap pemerintah. Oleh karena itu, langkah penggantian para wali ditempuh agar pemerintahan kembali stabil, keamanan tercipta, dan masyarakat tenang.
Khalifah Ali ra. segera melaksanakan niatnya mengganti para wali. Beliau mengirim dan menugaskan wali baru ke beberapa wilayah. Utsman bin Hanif ke Bashrah menggantikan Abdullah bin Amir, Imarah bin Syihab ke Kufah menggantikan Abu Musa al Asy’ari, Ubaidillah bin Abbas ke Yaman menggantikan Ya’la bin Maniyyah, Qais bin Sa’ad bin Ubadah ke Mesir menggantikan Abdullah bin Sa’ad, dan Sahal bin Hanif ke Syam menggantikan Mu’awiyah bin Abi Sufyan.
Tidak Semua Penggantian para Wali Berjalan Mulus
Ketika Utsman bin Hanif tiba di Bashrah, ia tidak mendapatkan perlawanan dari siapa pun, termasuk Abdullah bin Amir. Wali yang lama melepaskan jabatannya secara baik-baik lalu pergi ke Makkah. Namun, masyarakat Bashrah terpecah menjadi dua golongan, yaitu mereka yang menentang terhadap pembunuhan Khalifah Utsman ra. dan golongan pemberontak yang berusaha membela diri.
Saat mendekati Kufah, Imarah bin Syihab diadang oleh Thulaihah bin Khuwailid yang berkata kepadanya, “Pulanglah, masyarakat di sini tidak ada yang ingin pemimpinnya diganti.” Ternyata, mereka tetap ingin dengan wali lama, yaitu Abu Musa al Asy’ari. Imarah menurutinya dan kembali ke Madinah kemudian segera melaporkan penolakan tersebut kepada Khalifah.
Penolakan penduduk Kufah memaksa Khalifah Ali ra. membuat surat yang isinya meminta wilayah Kufah pimpinan Abu Musa al-Asy’ari untuk setia kepada kekhalifahan. Khalifah kemudian mengutus utusan untuk menemui Wali Kufah. Abu Musa al Asy’ari menanggapi permintaan Khalifah Ali ra. dengan tetap memberikan kesetiaan terhadap Kekhalifahan Ali ra. dan akhirnya wilayah Kufah tetap dipimpin Abu Musa al Asy’ari.
Ubaidillah bin Abbas, ketika hampir sampai di Yaman, Ya’la bin Maniyyah meninggalkan wilayah itu menuju Makkah. Sedangkan Qais bin Sa’ad bin Ubadah ketika sampai di Mesir diterima dengan baik dan menggantikan wali yang lama. Namun, setelah menjabat sebagai wali, penduduk Mesir terpecah menjadi tiga golongan. Golongan pertama adalah mereka yang mau menerima dan bersikap netral; kedua adalah mereka yang menerima, tetapi menuntut agar para pembunuh Utsman ra. diberi hukuman terlebih dahulu; sementara golongan ketiga adalah sebagian besar pengikut Saba’ yang terlibat pemberontakan yang meminta agar para pembunuh tidak harus dihukum.
Ketika Sahal bin Hanif sampai di Tabuk, ia pun diadang sekelompok penunggang kuda dari Syam dan memintanya untuk kembali ke Madinah. Sahal pun kembali ke Madinah dan melaporkan kejadian yang ia alami kepada Khalifah Ali ra..
Dengan penggantian para wali, maka wilayah tersebut tunduk dan patuh pada pemerintahan Ali bin Abi Thalib ra., kecuali wilayah Syam pimpinan Mu’awiyah bin Abi Sufyan.
Ketika melihat umat Islam berbeda sikap terhadapnya, khususnya penduduk Syam, Khalifah Ali ra. meninggalkan Madinah menuju Kufah. Beliau menjadikan Kufah sebagai ibu kota kekhalifahan. Wallahualam. [MNews/Has]
Sumber: Prof. Dr. Ibrahim al-Quraibi. Tarikh Khulafa. Qisthi Press; Budi Yuwono. Hikayah Empat Khalifah. Khairul Bayaan.
Sumber foto: iStock

reshuffle dlm Islam tidak semata bertujuan mengganti pejabat yang dinilai haus kekuasaan dan kekuatan, melainkan untuk memulihkan situasi keamanan dan stabilitas dalam negeri yang sebelumnya diguncang prahara besar
Subhanalloh..tidak mudH memimpin unat sepeninggal Rasululloh Saw
Tapi..itu adalah amanah yg hrs tetap dilaksanakan oleh para pemimpin umat..agar Islam tetap diterapkan secara kaaffah