Pendidikan adalah pilar peradaban. Jika ingin melihat masa depan suatu bangsa, lihatlah sistem pendidikannya. Untuk kesekian kalinya, potret buram sistem pendidikan sekuler kembali tersaji. Konflik sosial remaja seperti tawuran berulang terjadi. Ada apa dengan sistem pendidikan di negeri ini?
Penulis: Chusnatul Jannah
Muslimah News, OPINI — Melansir detik.com (27/2/2022), Tim Patroli Perintis Presisi Polres Metro Depok menangkap tujuh anak muda yang hendak tawuran. Para ABG itu diketahui tengah siaran langsung di media sosialnya untuk mencari lawan tawuran.
Kasus yang sama terjadi di Desa Asinan, Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang. Polres Semarang mengamankan delapan siswa SMP beserta sejumlah senjata tajam yang akan mereka pakai untuk tawuran.
Potret Buram Pendidikan
Jika tawuran sudah terjadi berkali-kali, fenomena tersebut bukan lagi kebetulan atau kesalahan individu, melainkan kesalahan sistemis yang harus ketemu akar permasalahannya. KPAI mencatat, terdapat 17 kasus kekerasan melibatkan peserta didik dan pendidik. Kasus yang terbanyak ialah tawuran antarpelajar.
Bukan hanya itu, permasalahan lain menambah daftar panjang buramnya pendidikan di negeri ini. Pergaulan bebas remaja dan tawuran adalah satu contoh kegagalan sistem pendidikan sekuler. Generasi mengalami dekadensi moral, kehilangan jati diri, dan berkepribadian yang labil.
Sebetulnya, ada dua aturan yang memberi panduan pencegahan dan penanganan tindakan kekerasan di lingkungan pendidikan, yaitu Permendikbud 82/2015 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Tindak Kekerasan di Satuan Pendidikan; serta Permendikbudristek 30/2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Lingkungan Perguruan Tinggi.
Pada 20/12/2021 lalu, pemerintah juga membentuk Kelompok Kerja (Pokja) Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Bidang Pendidikan yang diresmikan pada 20/12/2021. Namun, ternyata regulasi tersebut tidak cukup mampu menangkal kenakalan remaja yang kian meresahkan.
Dari beberapa kasus, tawuran antarpelajar sampai menimbulkan korban jiwa. Tawuran terjadi biasanya bermula dari hal sepele, seperti saling mengolok di media sosial, tidak terima ditegur sebaya, hingga adu mulut dan unjuk kekuatan antarpelajar. Dari konflik kecil, membesarlah menjadi ketegangan kelompok.
Pertanyaannya, apa yang sesungguhnya terjadi pada remaja kita? Mengapa dari tahun ke tahun kerusakan generasi makin tidak terkendali? Apalah ini mengindikasikan perlu adanya koreksi total penerapan sistem pendidikan yang berjalan? Berulang kali ganti kurikulum dan ganti menteri pula, output generasi tidak kunjung mengalami perubahan berarti.
Koreksi Total
Tidak ada sebab tanpa akibat. Tawuran pelajar hanyalah akibat dari sebab. Penyebabnya ada dua, yaitu faktor internal dan eksternal.
Faktor internal adalah hilangnya identitas hakiki diri remaja. Sistem kehidupan sekuler telah mengikis identitas dan jati diri remaja sebagai hamba Allah. Mereka memandang kehidupan seakan sekadar tempat bersenang-senang.
Akidah sekuler yang menjauhkan remaja dari aturan agama menjadikan mereka terombang-ambing dan terbawa arus. Jadilah remaja kita nirakhlak, gemar bermaksiat, dan berperangai buruk.
Akidah sekuler pula yang mengeliminasi peran mereka sebagai pemuda. Generasi muda hanya tahu tentang eksistensi diri untuk meraih kepuasan materi. Jiwanya teracuni pemikiran sekuler, batinnya kosong dengan nilai Islam.
Alhasil, remaja kita mudah frustrasi, gampang gundah, emosi tidak stabil, nirempati, hingga merasa insecure. Tidak ayal, banyak di antara remaja mengalami depresi hingga berakhir bunuh diri. Seperti kasus NWS yang sempat viral beberapa waktu lalu.
Adapun faktor eksternal terbagi menjadi tiga aspek, yaitu keluarga, lingkungan, dan negara. Faktor keluarga ialah paradigma kedua orang tua dalam mendidik anak-anak mereka. Jika paradigmanya adalah sekuler kapitalistik, anak-anak akan tumbuh menjadi generasi sekuler yang hanya berorientasi pada kesuksesan duniawi.
Memang, masa remaja adalah masa paling krusial. Mereka mengalami transisi dari fase anak-anak menuju dewasa. Pada masa inilah peran orang tua sangat mereka butuhkan untuk membimbing dan membina mereka menjadi berkepribadian mulia. Ini agar para remaja tidak mudah terbawa arus sekularisasi dan liberalisasi yang tengah gencar menyasar generasi.
Faktor lingkungan juga sangat memengaruhi pembentukan kepribadian generasi. Rumah dan sekolah merupakan lingkungan tempat generasi menjalani kehidupan sosial mereka. Jika kedua lingkungan ini tidak mendukung, bisa menyebabkan berbagai pengaruh negatif pada perkembangan anak-anak.
Lingkungan adalah tempat anak-anak tumbuh dan berkembang. Jika masyarakat hidup dalam lingkungan sekuler, agama tidak lagi menjadu pedoman hidup secara mutlak. Islam tidak lagi menjadi standar dalam menilai perbuatan. Akibatnya, pergaulan remaja menjadi bebas nilai. Gaya hidup liberal dan hedonis telah merusak kehidupan remaja. Bahkan, bisa merenggut masa depan mereka, seperti zina, hamil di luar nikah, hingga aborsi.
Sedangkan faktor negara ialah penerapan kurikulum dan sistem pendidikan. Tugas negara adalah menciptakan suasana takwa pada setiap individu. Negara berkewajiban melindungi generasi dari paparan ideologi sekuler kapitalisme yang merusak kepribadian mereka.
Negara juga berkewajiban menyaring dan mencegah tontonan yang tidak mendidik. Salah satu penyebab remaja kita mengalami krisis moral juga karena tontonan yang tidak menuntun, seperti konten porno atau tayangan yang mengajarkan nilai-nilai liberal.
Oleh karenanya, untuk menghasilkan generasi unggul, cerdas, dan bertakwa, tidak cukup mengurai masalah cabang saja. Sementara, akar masalahnya—kapitalisme—masih diterapkan dan menjadi pedoman dalam menyusun kerangka kurikulum dan kebijakan pendidikan.
Negeri ini harus mengevaluasi, mengoreksi, serta merevolusi total sistem pendidikan agar tawuran antarpelajar dan problem remaja lainnya dapat terselesaikan secara tuntas.
Pendidikan Berbasis Sistem Islam
Dalam buku Menggagas Sistem Pendidikan Islam tertulis bahwa pendidikan Islam terlahir dari sebuah paradigma Islam berupa pemikiran menyeluruh tentang alam semesta, manusia, dan kehidupan dunia; sebelum dunia dan kehidupan setelahnya; serta kaitan antara kehidupan dunia dengan kehidupan sebelum dan sesudahnya. Paradigma pendidikan Islam tidak bisa dilepaskan dari paradigma Islam.
Pendidikan dalam Islam merupakan upaya sadar dan terstruktur, serta sistematis untuk menyukseskan misi penciptaan manusia sebagai abdullah dan khalifah Allah di muka bumi. Itulah tujuan pendidikan Islam.
Asasnya adalah akidah Islam. Asas ini berpengaruh dalam penyusunan kurikulum pendidikan, sistem belajar mengajar, kualifikasi guru, pengembangan budaya, dan interaksi di antara semua komponen penyelenggara pendidikan.
Pendidikan berbasis sistem Islam memadukan tiga peran sentral yang berpengaruh pada proses perkembangan generasi. Pertama, keluarga. Dalam hal ini, orang tua adalah ujung tombak lahirnya bibit unggul generasi. Keluarga adalah sekolah pertama bagi anak-anak.
Setiap keluarga yang menginginkan anak-anaknya cerdas dan bertakwa wajib menjadikan akidah Islam sebagai basis dalam mendidik dan membentuk kepribadian anak. Setiap anak harus dibekali keimanan dan kecintaan yang tinggi kepada Allah dan Rasul-Nya. Dengan bekal iman inilah akan terbentuk ketakwaan dalam diri mereka yang dapat mencegahnya dari berbuat maksiat.
Kedua, masyarakat. Dalam sistem Islam, perilaku masyarakat akan selalu kondusif. Jika masyarakatnya bertakwa, amar makruf nahi mungkar akan berjalan secara efektif. Dengan lingkungan masyarakat yang senantiasa mengajak pada ketaatan, suasana tersebut akan berdampak positif pada anak-anak. Tabiat dasar anak adalah meniru dan mencontoh yang mereka lihat di lingkungan masyarakat. Jika masyarakatnya baik, individu pun ikut baik.
Ketiga, negara. Tugas negara adalah menyelenggarakan pendidikan secara komprehensif. Negara wajib menyediakan fasilitas pendidikan yang memadai, mulai dari kurikulum berbasis akidah Islam, sarana dan prasarana, pembiayaan pendidikan, tenaga pengajar profesional, hingga sistem gaji guru yang menyejahterakan.
Negara juga melakukan kontrol sosial dengan melakukan pengawasan atas penyelenggaraan sistem Islam kafah. Negara menegakkan sanksi bagi para pelanggar syariat, seperti pelaku tawuran, pezina, atau pelaku maksiat lainnya.
Pada masa Khilafah Islam, telah banyak lahir generasi cemerlang yang unggul. Tidak hanya unggul dalam ilmu saintek, mereka pun sukses menjadi ulama yang faqih fiddin. Keseimbangan ilmu ini terjadi karena menjadikan Islam sebagai asas dan sistem yang mengatur dunia pendidikan.
Dalam lintas sejarah Islam, pendidikan Islam mengalami kejayaan dan kegemilangan yang diakui dunia internasional. Lembaga pendidikan tumbuh subur, majelis-majelis ilmu di selasar masjid yang membahas berbagai ilmu pengetahuan pun bertaburan.
Tidakkah kita berharap mengulang kembali kejayaan tersebut? Insyaallah masa depan generasi negeri ini bisa dan hanya terwujud dengan Islam. Wallahualam. [MNews/Gz]
