[Dunia Remaja] Cara Sehat Menyalurkan Cinta

[Dunia Remaja] Cara Sehat Menyalurkan Cinta

Penulis: Nisa Utami

Muslimah News, REMAJA – Bagi sebagian orang, Februari, tepatnya 14 Februari, identik dengan hari istimewa, yaitu hari kasih sayang atau Valentine’s Day. Walau terdengar biasa, sebenarnya perayaan hari kasih sayang ini mengundang bahaya, lo, Sobat Muslimah.

Bahayanya adalah merebaknya “virus merah jambu”. Virus ini sudah ada lebih lama dari datangnya virus Corona, tetapi anehnya enggak hilang-hilang juga. Walaupun setiap mendekati tanggal 14 Februari sudah banyak yang menasihati, tetap saja masih banyak remaja yang terjangkiti.

Iya, ‘virus’ ini memang banyak menginfeksi para remaja, terutama yang belum paham Islam. Mereka dengan mudahnya ikut-ikutan merayakan. Padahal perayaan hari kasih sayang tidak ada dalam Islam dan pada pelaksanaannya banyak sekali terjadi pelanggaran syariat.

Gejala Infeksi ‘Virus Merah Jambu’

Konon katanya gejala terjangkiti ‘virus merah jambu’ itu adalah rasa deg-degan ketika bertemu gebetan. Tiba-tiba gak bisa ngomong kalau disapa si dia, dan perasaan bahagia sampai badan terasa terbang melayang jika ternyata perasaannya berbalas juga. Kalau sudah ada status ‘pacaran’ harus lebih berhati-hati lagi, karena itu merupakan komorbid terjadinya komplikasi yang lebih bahaya.

Hal yang paling berbahaya dari ‘virus merah jambu’ ini adalah bisa membuat seseorang ‘buta’. Iya, buta. Buta syariat, maksudnya…. Karena kalau sudah dimabuk kepayang oleh perasaan cinta pada si dia, apa pun akan dilakukan dan diberikan. Beberapa survei menyebutkan bahwa pada hari kasih sayang, banyak orang yang melakukan hubungan seksual di luar pernikahan.

Survei terbaru Kementerian Kebudayaan Thailand menyatakan bahwa sebanyak 83% remajanya berencana melakukan hubungan seks pada hari Valentine (jabar.tribunnews.com). Itu di Thailand, bagaimana dengan di Indonesia?

Survei yang dilakukan Tim Riset KaltimPost di Kota Samarinda menyebutkan bahwa 17% respondennya mengaku rutin melakukan hubungan intim saat Valentine. Bahkan salah satu responden yang berusia 18 tahun mengaku bahwa hal tersebut merupakan hal yang wajib dilakukan dengan pasangan saat Valentine (kompasiana.com). Di Samarinda aja begitu, bagaimana dengan kota-kota besar lainnya di Indonesia? Naudzubillah.

Modus Penularan yang Sama Setiap Tahunnya

Bulan Februari biasanya ramai diskon cokelat di minimarket. Hal ini terjadi karena Hari Valentine identik dengan memberikan kado cokelat. Namun yang lebih miris, mendekati hari Valentine angka penjualan kondom juga meningkat tajam, bahkan bisa mencapai 500% (news.okezone.com).

Modus pendekatannya pun hampir sama setiap tahunnya. Setelah diberikan cokelat atau diajak makan malam, biasanya remaja putri akan diajak ke suatu tempat untuk berhubungan seksual. Pejabat Kepolisian Thailand bahkan meningkatkan penjagaan di daerah rawan seperti klub malam atau tempat hiburan, untuk mengurangi fenomena free sex pada Hari Valentine (jabar.tribunnews.com).

Padahal selain dosa besar yang didapatkan, risiko penularan penyakit seksual serta terjadinya kehamilan di luar pernikahan tetap ada. Jika hal itu sudah terjadi, barulah menyesal dan tersadar bahwa “Cinta itu Buta”. Kalau dengar cerita kayak begini tuh, rasanya miris banget ya, Sobat?

Namun kenapa sih, seseorang yang jatuh cinta itu memang seolah ‘dibuat buta’ sehingga nekat melakukan hubungan seksual yang penuh risiko dan berdosa besar? Nah, ternyata memang ada penjelasannya secara ilmiah, Sobat. Simak penjelasan berikut, ya.

Yang Terjadi di Tubuhmu ketika Jatuh Cinta

Dilansir dari laman Harvard Medical School (www.sitn.hms.harvard.edu) gejala-gejala orang jatuh cinta seperti yang disebutkan sebelumnya itu timbul karena proses kimia dari hormon yang berlangsung di otak. Bukan hati atau jantung, seperti yang orang-orang kira selama ini. Makanya ada istilah “muncul chemistry” untuk bilang kalau seseorang memiliki ketertarikan sama orang lain.

Bagian otak yang berperan penting tersebut bernama hypothalamus yang menjadi ‘kantor pusat’ pengatur berbagai macam hormon tubuh, termasuk hormon yang berperan dalam mengatur perasaan cinta dan gejala-gejalanya.

Ketertarikan (attraction) diatur oleh hormon dopamine dan norepinephrine yang dikeluarkan hypothalamus tadi. Perasaan senang dan bahagia yang timbul ketika kita bertemu seseorang yang kita sukai, adalah kerja dari hormon dopamine. Ketika dada kita berdebar kencang hingga gugup tidak bisa berkata-kata, itu adalah pengaruh hormon norepinephrine.

Hypothalamus mengatur pengeluaran hormon testoterone dan estrogen di testis dan ovarium (alat reproduksi pria dan wanita), yang menyebabkan munculnya hasrat seksual (lust) untuk melakukan hubungan intim.

Yang perlu diwaspadai yaitu ketika hormon-hormon ini bekerja, ternyata dapat ‘menonaktifkan’ bagian prefrontal cortex otak yang berfungsi untuk bersikap rasional, self-awareness, dan pemikiran kritis. Jadi, jika seseorang sudah timbul ketertarikan dan rangsangan seksual, maka bagian ‘otak warasnya’ menjadi ‘terbutakan’. Itulah mengapa virus merah jambu ini berbahaya, karena dapat membuat seseorang yang jatuh cinta itu “buta”.

Hi, ngeri ya, Sobat! Nah, biar gak dibutakan cinta dan nafsu semata, bagaimana dong caranya menyalurkan cinta?

Cara Sehat Menyalurkan Cinta

Dari penjelasan di atas kita ketahui bahwa secara ilmiah, hasrat seksual adalah sesuatu yang alami muncul pada tubuh manusia. Hasrat bisa dibungkam, dibebaskan, atau diatur.

Dibungkam dengan tidak menikah sama sekali seperti pada praktik agama lain akan menzalimi tubuh. Dibebaskan penyalurannya seperti yang terjadi saat ini di era sekularisme liberal, juga menimbulkan banyak masalah. Yang benar adalah diatur dalam hal pemenuhannya seperti yang Islam terapkan. Inilah cara sehat menyalurkan cinta, agar naluri dapat terpenuhi dan tetap sesuai dengan tujuan penciptaan naluri tersebut, yaitu untuk melestarikan keturunan.

Hal yang kalian wajib banget tahu adalah memahami kedudukan naluri menurut Islam. Hasrat seksual adalah bagian dari naluri (gharizah nau’), bukan kebutuhan jasmani (hajah ‘udhuwiyyah). Kebutuhan jasmani jika tidak dipenuhi akan menyebabkan kebinasaan, sementara naluri jika tidak dipenuhi hanya akan menimbulkan kegelisahan.

Selain itu, baik naluri atau kebutuhan jasmani, keduanya akan muncul ketika ada rangsangan. Dorongan kebutuhan jasmani berasal dari internal tubuh, sementara hasrat seksual itu dorongannya berasal dari luar tubuh (eksternal).

Hal ini terbukti dengan penelitian di Rutgers University (www.harvard.edu), ketika diperlihatkan foto orang yang disukai, ternyata scan otak responden menunjukkan peningkatan aktivitas di area yang mengatur hormon-hormon hasrat seksual tadi.

Bagi seorang muslim yang belum menikah, dorongan eksternal inilah yang harus diatur. Sebab jika terbangkitkan, tetapi belum halal untuk dapat menyalurkan, perzinaan yang akan terjadi. Sementara Allah telah melarang kita untuk mendekati zina, seperti dalam firman-Nya, “Dan janganlah kamu mendekati zina, karena sesungguhnya zina adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS Al-Isra ayat 32)

Untuk menjaga hasrat seksual yang dapat menjurus pada zina, Islam memerintahkan untuk menundukkan pandangan (gadhdhul bashar) dan menjaga kemaluannya seperti dalam firman Allah: “…Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka…” (QS An-Nur ayat 30)

Inilah cara sehat menyalurkan cinta, yaitu dengan mengikuti syariat Islam. Syariat Islam berasal dari Allah, yang menciptakan manusia dengan seperangkat potensi diri, termasuk naluri mencintai dan kebutuhan jasmani. Jadi, sudah tentu segala pengaturan-Nya sesuai dengan fitrah manusia dan berfungsi untuk mencegah kemudaratan dalam kehidupan. Yuk kita tangkal virus merah jambu dengan memahami syariat Islam secara menyeluruh. [MMNews/Rgl]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *