[Dunia Remaja] Memilih Jalan Terbaik

[Dunia Remaja] Memilih Jalan Terbaik

Muslimah News, DUNIA REMAJA — Pernah enggak kamu ngerasain, setelah salat Subuh masih merasa ngantuk, padahal bangunnya sudah agak siang? Untuk itu, kita punya pilihan, lanjut “bertamasya” ke alam mimpi atau bergegas mandi dan siap-siap berangkat ke sekolah.

Mungkin pernah juga pada waktu istirahat pertama sebelum break salat Zuhur. Biasanya kita ada pilihan memanfaatkan waktu untuk menunaikan salat Duha atau bergegas ke kantin nyari camilan guna meredakan cacing dalam perut yang tengah demo minta jatah makannya.

Dalam banyak hal di keseharian, kita sering dihadapkan pada berbagai pilihan. Dari bangun tidur, sampai tidur lagi, kegiatan kita banyak banget pilihan bergandanya. Sudah kayak soal ujian aja. Ada pilihan yang baik, kurang baik, atau tidak baik. So, kita kerap mendengar quote bijak tentang hidup. Life is choice, and your choice is your future. Et dah, sudah kayak motivator kelas dunia aja ini mah.

Ternyata, Allah Swt. juga sudah mengingatkan kita dalam firman-Nya, “Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan.” (QS Al-Balad: 10). Jalan apa yang dimaksud?

Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud tentang firman-Nya tersebut, “Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan, yaitu jalan kebaikan dan keburukan.”

Masalahnya, bagaimana kita tahu ini jalan kebaikan atau keburukan? Sementara itu, kita sebagai manusia sering berlagak sok pintar. Kita berani menilai hal yang dilakukan sebagai kebaikan atau keburukan sesuai keinginan kita, padahal yang terjadi justru sering salah prediksi.

Allah Swt. mengingatkan juga dalam firman-Nya, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.” (QS Al Baqarah: 216). Tuh, kan!

What You Do is What You Get

Kamu akan mendapatkan sesuatu sesuai upaya yang kamu lakukan. Hal ini sering dilupakan ketika memilih aktivitas yang mau kita kerjakan. Setiap pilihan pasti menuntut pengorbanan, maka setiap pengorbanan akan dibayar dengan manfaat atau keutamaan yang kita dapatkan. Misalnya, setiap 9 Zulhijah ada anjuran untuk menunaikan puasa sunah Arafah dengan keutamaan yang luar biasa.

“Puasa hari Arafah dapat menghapuskan dosa dua tahun yang telah lepas dan akan datang, dan puasa Asyura (10 Muharam) menghapuskan dosa setahun yang lepas.” (HR Muslim).

Kalau 9 Zulhijah lalu kita memilih berpuasa, artinya kita “mengorbankan” kebiasaan sarapan, ngemil, ngeteh, atau wisata kuliner food street. Namun jangan khawatir, rasa haus dan lapar sejak fajar hingga Magrib yang kita rasakan dan dibayar dengan pengampunan dosa oleh-Nya. Amazing!

Sebaliknya, kalau memilih enggak puasa, artinya kita mengorbankan peluang pengampunan dosa yang bisa jadi enggak akan didapatkan lagi kesempatannya pada tahun berikutnya. Rugi!

Begitu juga ketika akan menghadapi ujian di sekolah. Kita punya pilihan untuk belajar mati-matian atau kasak-kusuk nyari sontekan. Masing-masing pilihan ada konsekuensinya. Begitu pula hasil yang kita peroleh biasanya berbanding lurus dengan usaha yang kita lakukan. So, pilihlah jalan terbaikmu. Utamakan yang bernilai lebih mulia. Ingatlah, what you do is what you get!

Belajar dari Nabi Ibrahim as.

Ngomong-ngomong soal pilihan hidup, kita diingatkan dengan kisah inspiratif seorang Abul Anbiya alias bapaknya para nabi.

Apa jadinya kalau hari gini ada berita seorang ayah dengan tega akan menyembelih anaknya yang semata wayang? Pasti jadi viral di dunia maya dan dunia nyata. Apalagi kalau perilaku sang ayah didorong oleh keyakinan beragama. Tuntunan syariat. Bisa-bisa pasukan buzzer pembenci Islam bakal “menggorengnya” untuk menyudutkan Islam. Untungnya, kejadian yang menimpa Nabi Ismail as. enggak seekstrim itu.

Yup, Khalilullah Nabi Ibrahim, ayahanda Nabi Ismail mendapat perintah dari Allah Swt. untuk menyembelih putra yang sangat dicintainya. Pilihan super berat. Gimana enggak, Ismail adalah putra yang sangat dinanti-nanti kehadirannya. Giliran sudah besar, eh Allah Swt. ingin “memintanya” kembali. Meski galau, Nabi Ibrahim menyampaikan perintah ini kepada putranya.

Ibrahim berkata, “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah, apa pendapatmu?” Ia menjawab, “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insyaallah, kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS Ash-Shaaffaat: 102).

Saat mata pisau baru menempel di leher Ismail, turunlah wahyu Allah untuk mencegahnya. Rupanya, perintah Allah untuk menyembelih Ismail itu sekadar ujian keimanan kepada keduanya untuk mengetahui sejauh mana kepatuhan dan ketaatan mereka dalam melaksanakan perintah Allah Taala. Mereka berhasil melaluinya dengan gemilang sehingga akhirnya Allah mengganti objek penyembelihan itu dengan seekor domba. Allah Swt. berfirman, “Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS Ash-Shâffat [37]: 107). Hmm, hampir saja!

Pengorbanan Kita, untuk Pilihan Terbaik

Sebuah pengorbanan untuk pilihan terbaik yang kita ambil enggak akan muncul tanpa dilandasi rasa cinta, baik cinta kepada sebuah barang, orang, atau hobi. Kalau sudah cinta, orang enggak peduli lagi dengan banyaknya waktu, tenaga, pikiran, atau harta yang dikeluarkan demi memuaskan dahaga cintanya. Dengan melihat kepada apa atau siapa yang dicintainya, kita bisa ngukur kualitas pengorbanan yang ia lakukan. Sekadar luapan emosi atau ekspresi dari cinta sejati.

Ekspresi cinta sejati, ditunjukkan oleh Rasul dan para sahabat yang mengorbankan hidupnya untuk Islam. Ini bukan sekadar luapan emosi, lantaran semangat pengorbanannya tetap menyala selama hayat dikandung badan.

Kamu kenal Khalid bin Walid yang berjuluk “Singa Allah”? Ia adalah panglima perang yang selalu siap pasang badan di medan jihad. Ia berkata, ”Aku lebih menyukai malam yang sangat dingin dan bersalju, di tengah-tengah pasukan yang akan menyerang musuh pada pagi hari, daripada menikmati indahnya malam pengantin bersama wanita yang aku cintai atau aku dikabari dengan kelahiran anak laki-laki.” (HR Al-Mubarak dan Abu Nu’aim).

Ada juga Umair bin Abi Waqash yang ngeyel pengin ikut perang badar dengan diam-diam menyelinap ke barisan pasukan kaum muslim, padahal usianya baru 16 tahun. Kalau ketahuan Rasul pasti enggak boleh, tuh. Akan tetapi ternyata, setelah Rasul tahu keinginan dan semangatnya yang menggebu-gebu, beliau mengizinkannya. Umair pun dengan gembira segera merangsek ke medan perang hingga terbunuh sebagai syahid. (HR Al-Hakim dan Ibn Sa’ad).

Pengorbanan Nabi Ismail dan para sahabat, serta ketaatan Nabi Ibrahim, patut kita teladani. Dalam urusan ketaatan terhadap perintah Allah, kita enggak punya pilihan kalau pengin surga menjadi tempat kembali kelak. Inilah pilihan terbaik dan nilai hidup yang mulia.

Termasuk berkorban untuk Islam adalah kalau kita meluangkan waktu untuk mengkaji Islam, mau mikirin urusan kaum muslim di seluruh dunia, menyumbangkan tenaga dalam menyebarkan dakwah Islam, membelanjakan harta di jalan Allah, serta memasang badan kita demi membela Islam dan kaum muslim.

Ikuti saja meski berat ngejalaninnya. Kerjakan saja meski banyak yang mem-bully. Enggak pacaran bukan berarti kita anti pergaulan. Berbusana syar’i bukan untuk mencari sensasi. Kita aktif berdakwah bukan untuk menuai masalah. Insyaallah, kesabaran kita akan berbuah kebaikan di dunia dan akhirat. Ada jaminan surga dari Allah Swt. untuk hamba-Nya yang taat. Kalau ngerasa belum siap, segera persiapkan diri kita dengan ikut ngaji. Enggak pake tarsok, entar, besok. Kuy! [MNews/YG]

Sumber: Buletin Teman Surga, edisi 250.

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *