Dulu “Aminah”, Sekarang “Mia”, Dulu Salihah, Sekarang kok Salah?

Dulu “Aminah”, Sekarang “Mia”, Dulu Salihah, Sekarang kok Salah?

Penulis: Shezan A. Gerung

Muslimah News, DUNIA REMAJA — Sobat sekalian, beberapa waktu belakangan tren “dulu Aminah, sekarang Mia” lumayan ramai di media sosial. Tren yang mengungkap perbedaan seseorang pada masa lalu dan masa kini. Mirisnya, tren ini fokus mengungkap perubahan seseorang yang sebelumnya adalah sosok salihah dengan ciri khas seorang ukhti, kini berubah penampilan, baik dari sisi pakaian maupun wataknya.

Tentu saja, tren ini menuai pro kontra. Pihak yang pro beralasan bahwa segala pilihan manusia itu baik, toh, itu untuk dirinya sendiri. Lagian, hanya Allah saja, kok, yang berwenang menilai perbuatan hamba. Rasanya humanis banget saat ada warganet yang menuliskan komentar “be your self” atau kalimat-kalimat sejenis yang mendukung sang kreator untuk kembali ke masa jahiliahnya. Parahnya, komentar tersebut ditanggapi sang kreator dengan ucapan terima kasih pula.

Adapun pihak yang kontra juga banyak berkomentar. Singkatnya tentu enggak jauh dari realitas syariat dan sejenisnya. Sebagai pembanding, ada juga yang membuat konten bertema “dulu Mia, sekarang Aminah”. Kebalikannya, tren ini mengisahkan perjalanan hijrah seseorang yang dahulu jauh dari agama, kini berubah mendalaminya. Hem, lantas, bagaimana kita sebaiknya bersikap atas fenomena ini?

Butuh Pemahaman

Menjalankan syariat memang membutuhkan pemahaman. Tren hijab yang ikut mewarnai fenomena hijrah hari ini pun jelas membutuhkan pemahaman yang jernih. Mengapa? Ini karena pemahaman adalah fondasi yang akan mengukuhkan pilihan dan keputusan seorang hamba. Dengan pemahaman, seseorang akan memiliki prinsip hidup. Dengan pemahaman pula, pilihan manusia yang terstandardisasi syariat enggak akan mudah goyah oleh apa pun.

Nah, bisa jadi mereka yang dahulu “Aminah” sekarang berubah menjadi “Mia” ini belum kukuh pemahamannya. Boleh jadi pula pemahaman itu ada, hanya saja lingkungan begitu kuat memengaruhinya. Akhirnya di titik tertentu, ia menyerah dan kembali tewarnai.

Perjalanan seseorang yang tengah menuju ke arah yang lebih baik tentu berliku-liku. Saat berniat menjadi individu yang lebih baik, ujian akan datang. Masalah bermunculan sehingga pemahaman yang belum utuh itu pun goyah. Pertimbangan baik dan buruk pun mulai terguncang. Bisikan-bisikan setan hadir menggelayuti pikiran. 

Ia menjadi sensitif, bahkan saat mendapat nasihat. Apalagi jika posisinya sedang kecewa dengan circle taatnya. Sesungguhnya dikecewakan manusia enggak ada hubungannya, lo, dengan keharusan kita untuk tetap taat kepada Allah Taala. Alhasil, di titik terendah, seseorang akan mencari justifikasi agar mandek dalam prosesnya untuk menjadi lebih baik. Ya, bersembunyi di balik kata-kata yang humanis, ia mulai berani meninggalkan syariat.

Ada yang beralasan “Be yourself“, bahagia dengan pilihanmu, dan sejumlah alasan lainnya pun bermunculan. Apa iya menjadi diri sendiri adalah dengan meninggalkan syariat Allah? Apa iya syariat Islam jauh dari karakter humanis? Jangan-jangan hati dan pikiran mulai buta karena bisikan-bisikan setan? Parahnya, ia sudah berubah kian bebal terhadap nasihat. Bahkan, nasihat diterimanya dengan sinis. Menyedihkan!

Dalih pemungkasnya, baik atau tidaknya seorang hamba enggak bisa diukur dari pakaiannya. Memang terdengar benar, sih, tetapi sejatinya logikanya salah. Banyak, lo, standar baik dan terpuji dalam Islam. Masalah pengaturan pakaian hanyalah salah satunya. Hanya saja, Allah memerintahkan manusia untuk menaati seluruh aturan-Nya tanpa alasan apa pun sehingga kita tidak bisa berdalih belum baik atau sejenisnya.

Seharusnya, kalau kita paham bahwa amal manusia tuh, enggak diketahui mana yang bakal Allah terima, ya berarti jalan terbaiknya kita harus melaksanakan seluruh perintah-Nya dengan maksimal. Bukannya gambling dan memilih perbuatan yang harus terstandardisasi syariat dengan berbagai dalih. Betul, enggak?

Istikamah itu Sulit

Ya, istikamah itu sulit. Hanya saja bagi mereka yang memahami bahwa ujian kehidupan adalah untuk menguji keistikamahan, ya enggak ada pilihan terbaik selain tetap istikamah. Bahkan, mereka yang ujiannya berat adalah orang yang beriman.

Allah Swt. berfirman, “Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan (hanya dengan) berkata, ‘Kami telah beriman,‘ sedangkan mereka tidak diuji?“ (QS Al-Ankabut: 2).

Ujian itu beragam jenisnya. Ada orang yang diuji-Nya dari sisi kesempitan harta, disisihkan dari keluarga, mendapat pandangan negatif dari lingkungan, atau mungkin mulai dijauhi sahabat karib. Bahkan, boleh jadi ujian itu hadir di tengah circle taat kita. Entah karena perbedaan karakter, perbedaan sudut pandang, atau sejenis itu.

Meski demikian, semuanya enggak boleh mereduksi keharusan kita untuk taat terhadap Allah. Atas dasar ini, kekecewaan terhadap makhluk jangan membuat kita mundur dari ketaatan terhadap Allah Taala, ya. Bukankah niat untuk berbuat sesuatu semata karena Allah?

So, jangan bangga saat menggumbar sesuatu yang enggak sesuai perintah Allah Taala. Terlebih hal itu bisa memengaruhi mereka yang sedang berproses menjadi pribadi yang lebih baik. Kalimat-kalimat netral yang terdengar humanis seperti “pilihan ada di tangan masing-masing, kok” sama sekali bukan pilihan.

Bahkan, kalimat-kalimat semacam ini bisa mengaburkan syariat Islam yang agung. Mereka yang bersembunyi di belakang kata-kata humanis pada dasarnya enggan berprinsip benar. Mereka hidup sesuai kehendaknya, yakni kehendak individu, serta menghindari spirit saling menasihati. Sayang banget, padahal Islam sangat mengedepankan amar makruf nahi mungkar.

Bagi Sobat yang sedang gigih berjuang dalam proses taat, jangan lelah, ya. Dunia memang tempat berjuang, bukan tempat beristirahat. Istirahat mah nanti, setelah ajal menjemput. Konsekuensi ketaatan kepada Allah menuntut kita memaksimalkan upaya. Memilih mundur dari ketaatan tentu bukanlah pilihan para pejuang.

Sobat, jika lelah menyapa, ingat, kembali bahwa Allah Swt. adalah sebaik-baik pemberi balasan. Enggak ada, kok, yang bakal terlewat dari hisab Allah, termasuk proses dan upaya kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Yuk, berbenah! Jika hari ini kalian sudah baik, besok harus lebih baik lagi. Bukan justru putar arah kembali bermaksiat kepada Allah. Itu, sih, tergolong pribadi yang merugi. Saya sih, enggak mau. Kalau kalian gimana? Tulis di kolom komentar, ya! [MNews/YG]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *