Kekayaan Berlipat, Kemiskinan Meningkat, Kapitalisme Sekarat?

Kekayaan Berlipat, Kemiskinan Meningkat, Kapitalisme Sekarat?

Ketimpangan sosial dan kesenjangan global membuktikan kapitalisme banyak kelemahan dan berdampak buruk bagi kehidupan. Kekayaan orang kaya berlipat bersamaan dengan kemiskinan meningkat. Mungkinkah kapitalisme sedang sekarat?

Penulis: Chusnatul Jannah


Muslimah News, OPINI — Adagium “Yang kaya makin kaya, yang miskin tambah miskin” bukan isapan jempol semata. Di tengah situasi pandemi yang berkepanjangan, rupanya membawa mujur bagi para konglomerat.

Melansir antaranews.com (17/1/2022), harta 10 orang terkaya di dunia meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi 1,5 triliunan dolar (Rp21,4 kuadriliun) selama pandemi—pada saat angka kemiskinan melambung tinggi.

Ketimpangan sosial dan kesenjangan global menjadi hal yang pasti terjadi di sistem kapitalisme. Kesenjangan inilah yang mengakibatkan sistem ini memiliki banyak kelemahan dan dampak buruk bagi kehidupan. Kekayaan orang kaya berlipat bersamaan dengan kemiskinan meningkat. Mungkinkah kapitalisme sedang sekarat?

Kesenjangan Global

Menurut laporan Oxfam, sepuluh orang terkaya di dunia bertambah kaya sebesar 15.000 dolar AS (Rp215 juta) per detik atau 1,3 miliar dolar AS (Rp18,6 triliun) per hari selama pandemi. Harta mereka melebihi harta 3,1 miliar penduduk miskin di dunia.

Akibat pandemi yang menyebabkan krisis kesehatan di dunia, lebih dari 160 juta orang diperkirakan jatuh miskin. Kesenjangan itu kian menganga selama pandemi berlangsung. Menurut Bank Dunia, negara-negara kaya akan memulihkan kondisinya lebih cepat dibanding negara berkembang. Pada 2023, pendapatan per kapita kemungkinan akan tetap di bawah level 2019 di 40 negara berkembang.

Kesenjangan  tersebut telah menyumbang 21.300 kematian per hari atau satu kematian per empat detik. Terdapat  sekitar 5,6 juta orang di negara-negara miskin meninggal tiap tahun karena keterbatasan akses layanan kesehatan. Ditambah, kematian akibat kelaparan telah membunuh lebih dari 2,1 juta penduduk per tahun.

Berdasarkan laporan Oxfam tersebut, rasio pasien Covid-19 yang meninggal di negara-negara berkembang diperkirakan dua kali lebih besar daripada di negara-negara kaya. Hanya 7% lebih penduduk di negara-negara miskin telah menerima satu dosis vaksin dibandingkan dengan lebih dari 75% penduduk di negara-negara kaya.

Perubahan iklim juga memberi sumbangsih bagi peningkatan kemiskinan di dunia. Di antaranya, 11% orang paling kaya di dunia membuang dua kali lebih banyak karbon dioksida dibanding 50% orang miskin. Menurut perkiraan Bank Dunia, jika perubahan iklim semakin tak terkendali, hal itu akan mendorong 132 juta orang ke jurang kemiskinan ekstrem pada 2030.

Itulah deretan data kesenjangan yang terjadi sepanjang pandemi melanda dunia. Dari data di atas, dapat kita simpulkan  bahwa sistem kapitalisme sesungguhnya telah gagal memberi solusi dalam segala aspek. Ia justru membawa dampak buruk berkepanjangan yang sulit direstorasi jika masih mempertahankan sistem ini.

Kegagalan Kapitalisme

Pandemi telah membuka borok kerusakan kapitalisme satu per satu. Fenomena orang kaya makin kaya dan orang miskin tambah miskin hampir melanda di negeri yang mengadopsi kapitalisme. Semisal Indonesia, orang-orang superkaya mengalami lonjakan kekayaan yang cukup signifikan selama pandemi Covid-19.

Berdasarkan data Forbes, orang terkaya di Indonesia, Budi Hartono, misalnya, pada 2021 ini kekayaannya melonjak lebih dari 50%. Pada 2020, bos Djarum tersebut tercatat memiliki kekayaan senilai 13,6 miliar dolar AS atau sekitar Rp195,84 triliun (kurs Rp14.400). Nilai kekayaan tersebut melonjak 50,73% menjadi 20,5 miliar dolar AS atau sekitar Rp295,2 triliun.

Padahal di sisi lain, jumlah penduduk miskin selama pandemi mengalami peningkatan. Per September 2020, BPS merilis persentase penduduk miskin menjadi 10,19%, naik 0,41% dari Maret 2020 dan meningkat 0,97% dari September 2019.

Secara keseluruhan, jumlah penduduk miskin pada September 2020 mencapai 27,55 juta orang, atau meningkat 1,12 juta dibandingkan Maret 2020, dan meningkat 2,76 juta orang dibandingkan September 2019. (kompas.com, 13/7/2021)

Ini baru satu aspek mengenai ketimpangan harta. Bagaimana aspek lainnya? Berikut rangkumannya.

Pertama, kegagalan dalam ekonomi.

Hal ini tampak dari ketimpangan sosial yang semakin menjadi serta kesenjangan ekonomi membentuk jurang yang dalam antara si kaya dan si miskin. Kekayaan berputar hanya pada segelintir elite.

Semua ini tidak terlepas dari prinsip kebebasan kepemilikan dalam sistem ekonomi kapitalis. Dengan prinsip ini, setiap individu yang memiliki modal besar dapat memiliki apa pun untuk merealisasikan kepentingannya demi mendapat keuntungan. Bahkan ia juga bebas berkuasa atas harta yang semestinya menjadi milik umum.

Dalam kacamata kapitalisme, kebebasan kepemilikan adalah hal yang sakral. Liberalisasi ekonomi adalah harga mati bagi ideologi ini. Selama bermodal, mereka berhak memiliki dan mengembangkan segala bidang usaha yang mendatangkan manfaat besar. Siapa yang bermodal? Tidak lain kapitalis sendiri.

Kedua, kegagalan dalam mewujudkan kesejahteraan.

Kesejahteraan di sistem kapitalisme bagai pungguk merindukan bulan. Kalaulah sejahtera, masyarakat kelas atas saja yang menikmatinya. Sementara rakyat bawah justru bergelayut dengan kemiskinan. Kemiskinan yang terjadi  sesungguhnya akibat sistem yang tidak manusiawi.

Potret “kelaparan” dan “kekenyangan” akan selalu tersaji dalam wadah kapitalisme. Bagaimana mungkin kesejahteraan merata sementara kekayaan harta hanya berputar di segelintir orang kaya?

Ketiga, kegagalan membangun sistem kesehatan.

Merebaknya pandemi yang berlangsung lama adalah indikatornya. Pandemi telah menelanjangi aib negara sekularisme-kapitalisme mana pun, atas ketakmampuan mereka melindungi kesehatan dan keselamatan nyawa rakyatnya.

Amerika yang dikenal sebagai negara adidaya, pada akhirnya “dipaksa” menyerah akibat hantaman pandemi. Laman washingtonpost.com menyatakan, “Wabah virus Corona yang sedang merebak di Amerika Serikat sedang menelanjangi kesenjangan yang serius pada kemampuan sistem kesehatan untuk merespons epidemi, kemampuan rumah sakit dan dokter untuk melakukan apa adanya perencanaan gawat darurat harian, bahkan mereka tetap ragu-ragu tentang bagaimana mengatasi krisis tempat tidur.”

Negara ini juga sempat memuncaki persebaran virus Covid-19 sepanjang 2020—2021, bersama negara Eropa, seperti Inggris, Jerman, Italia, dan lainnya. Semuanya adalah negara maju yang konon memiliki sistem dan fasilitas kesehatan terbaik di dunia, tetapi pada akhirnya kolaps juga menghadapi serangan makhluk tidak kasat mata ini.

Tidak berkutik dengan kebijakan lockdown, banyak negara maju lebih memilih opsi new normal untuk memulihkan ekonomi mereka yang porak-poranda akibat Covid-19. Alhasil, kebijakan tarik ulur ini menjadi salah satu sebab mutasi Covid-19 menjadi berlarut-larut. Muncullah kasus-kasus positif yang bergelombang seperti terjadi pada varian Delta yang menyebar ke hampir seluruh negara di dunia. Saat ini kita pun dibayangi peningkatan kasus dengan varian baru lagi, yaitu Omicron.

Vaksinasi pun menjadi rumus kunci negara kapitalis menghadapi pandemi. Tujuannya agar herd immunity segera terbentuk, berharap dapat segera mengakhiri pandemi Covid-19, dan pemulihan ekonomi lebih cepat tertangani.

Namun, lagi-lagi, mereka gagal menghalangi mutasi virus akibat salah fokus mengurus pandemi. Kalau negara maju sudah demikian kondisinya, apalagi di negara berkembang. Kegagapan melanda sejumlah negara berkembang, salah satunya Indonesia.

Keempat, kegagalan mengatasi perubahan iklim.

Keserakahan kapitalisme telah membawa efek domino kerusakan dan keseimbangan alam yang luar biasa. Aktivitas pembangunan hingga pertambangan tidak memperhatikan faktor lingkungan. Alhasil, ancaman ekologis terjadi di mana-mana. Lingkungan rusak, iklim berubah drastis, dan korban jiwa akibat bencana alam membayangi dunia.

Sistem Islam Penyelamat Kehidupan

Islam tegak atas prinsip-prinsip syariat  Islam. Dalam membangun institusi negara yang kokoh, sistem Islam harus berjalan di setiap aspek kehidupan. Mulai dari sistem politik, ekonomi, kesehatan, pendidikan, lingkungan hingga pertahanan dan keamanan.

Sistem politik Islam yang mengharuskan negara sebagai raa’in (pemelihara urusan masyarakat) dan junnah (pelindung dari segala kerusakan) tidak akan menetapkan kebijakan yang tidak berorientasi pada kemaslahatan rakyat. Sistem ekonomi Islam yang mengatur klasifikasi tiga kepemilikan harta tidak akan memperlakukan harta milik umum secara serampangan menjadi milik pribadi atau swasta.

Islam tidak mengenal konsep kebebasan kepemilikan. Distribusi harta juga akan terwujud adil dan merata. Bahkan Islam melarang harta berputar pada golongan tertentu. Dalam praktiknya, ada kewajiban syariat yang dibebankan kepada orang kaya untuk membantu golongan tak mampu, seperti kewajiban zakat dan dorongan berinfak, sedekah, atau wakaf.

Sistem politik dan ekonomi Islam adalah unsur utama pembentuk sistem kesehatan Islam, baik dari aspek fungsi negara, kurikulum pendidikan yang akan membentuk SDM terampil dan cerdas,  serta modal pembiayaan kesehatan yang bersifat mutlak untuk membangun infrastruktur kesehatan dan segala fasilitasnya. Begitu pula dalam menghambat penyebaran wabah, Islam akan memberlakukan penguncian wilayah tanpa terhalangi sekat negara bangsa dan aturan per negara.

Semua itu akan berjalan efektif dengan syarat sistem kapitalisme tidak lagi diterapkan. Kapitalisme sudah jelas gagal membawa kehidupan ini berjalan ke arah yang lebih baik. Dunia pasti lebih baik dengan penerapan sistem Islam secara kafah.

Mari buktikan dengan menegakkan dan menerapkan Khilafah yang sudah teruji secara empiris dan secara ideologis memiliki konsep lengkap dalam menyolusi setiap persoalan manusia. [MNews/Gz]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *