[Kabar] Ucapan Lâ Ilâha illallâh, Retno Sukmaningrum: Cukupkah  di Bibir Saja?

[Kabar] Ucapan Lâ Ilâha illallâh, Retno Sukmaningrum: Cukupkah di Bibir Saja?

Muslimah News, NASIONAL — Beberapa waktu lalu, Wapres Ma’ruf Amin menyebut kebanyakan penduduk atau penghuni surga adalah bangsa Indonesia. Pernyataan tersebut disampaikannya saat memberi sambutan dalam acara Zikir Kebangsaan di halaman Istana Merdeka, Senin (1/8/2022). Wapres menyandarkan ucapannya pada hadis, man qâla lâilâha illallâh dakholal jannah (siapa yang berkata lâ ilâha illallâh masuk surga).

Merespons hal di atas, pengamat kebijakan publik Retno Sukmaningrum, S.T., M.T. menyatakan, ucapan lâilâha illallâh cukupkah di bibir saja?

“Hadis yang disampaikan Wapres tidak salah. Namun, perlu dipahami juga makna lâ ilâha illallâh. Cukupkah sekadar terucap di bibir kemudian dijamin masuk surga?” ungkapnya kepada MNews, Selasa (9/8/2022).

Menyepelekan

Jika dipandang demikian, nilai Retno, sejatinya justru menyepelekan timbangan syahadat tersebut.

“Jika dengan sekadar berucap syahadat masuk surga, pastilah semua manusia akan masuk Islam. Nyatanya tidak, orang-orang kafir jahiliyah menolak tawaran Rasulullah saw untuk bersyahadat. Ini menunjukkan orang-orang kafir paham betul akan konsekuensi syahadat,” ucap Retno meyakinkan.

Hal ini, kata Retno, bisa dilihat dari respon orang kafir jahiliyah saat diminta mengucakan dua kalimat syahadat tersebut yang dilukiskan dalam Al-Quran surah Ash-Shaad ayat 5,

أَجَعَلَ الآلِهَةَ إِلَهًا وَاحِدًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ

Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan.

“Mereka sadar betul bahwa konsekuensi dari mengucapkan kalimat tersebut, harus meninggalkan sesembahan mereka, meninggalkan aturan kehidupan mereka yang berporos pada paganisme. Maka, sungguh lucu jika hari ini ada seorang muslim yang belum juga memahami makna syahadat tersebut,” ujarnya heran.               

Konsekuensi Syahadat

Retno menegaskan, syahadat adalah meyakini bahwa tidak ada pencipta, pemilik, penguasa di bumi ini kecuali Allah Swt.. Tidak ada yang layak diibadahi, dimintai pertolongan, dan perlindungan, kecuali Allah.

“Konsekuensi syahadat ini menuntut keyakinan yang melahirkan ketaatan yang utuh. Bukan hanya mengucapkan di bibir saja, tetapi meyakini bahwa tidak ada yang layak diibadahi kecuali Allah Swt.. Inilah yang melahirkan ketundukan totalitas terhadap semua aturan Allah,” bebernya.

Jika demikian, lanjut Retno, maka tak ada ruang bagi manusia untuk memilah-milah aturan Allah berdasarkan hawa nafsunya. “Yang dirasa cocok, dipakai. Merasa tak cocok, akan ia singkirkan,” sindirnya.

Begitu pula, tegas Retno, tidak ada sikap arogan mengungguli Allah dalam membuat aturan guna mengatur kehidupan. “Padahal, Allah—Sang Pemilik Kehidupan—pastinya tahu aturan yang terbaik bagi manusia sehingga manusia bisa menjalani kehidupan dengan baik dan selamat,” tandasnya seraya menyitir firman Allah dalam Al-Quran surah Al-Maidah ayat 5 yang artinya, “Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?”

Jujur

Retno mengajak melihat dengan jujur, negeri yang menganut sistem demokrasi hari ini, apakah menggunakan aturan Allah dalam mengatur kehidupan bermasyarakat dan bernegara?

“Bisa dikatakan, tidak, bahkan mustahil. Penyebabnya, demokrasi merupakan bagian dari sistem kapitalisme yang berlandaskan pemisahan agama dari kehidupan. Tuhan diakui, tetapi tidak dianggap mampu mengurusi dunia. Walhasil kedaulatan dalam membuat aturan ada di tangan manusia,” urai Retno.

Terlebih, ujarnya, halal haram tidak dikenal dalam sistem demokrasi, maka tidak heran jika ribawi menjadi sokoguru perekonomian di ruang hidup hari ini.

“Padahal, Allah telah melarangnya sebagaimana dalam Al-Qur’an surah Ali Imron 190 disebutkan, ‘Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung,’” ucap Retno.

Begitu pula dalam lingkup sosial, tambahnya, aturan Allah berupaya dipinggirkan.

“Seruan menutup aurat, melakukan amar makruf nahi munkar, justru dikriminalisasi. Sebaliknya, mengumbar aurat, interaksi bebas lawan jenis di ruang publik, justru diapresiasi. Begitu pula, tindak kriminal, prostitusi, judi, dan peredaran khamar, negara sengaja tidak menindak dengan tegas karena masih adanya kemanfaatan yang bisa diraih dari aktivitas dan barang haram tersebut,” kritiknya.

Konsep bernegara dalam Islam pun disingkirkan, jelas Retno, dianggap sebagai ide transnasional yang berpotensi memecah belah bangsa.

“Bahkan Wapres sendiri pernah menyampaikan penolakan terhadap konsep Khilafah dengan alasan tidak cocok di Indonesia. Padahal, Allah telah mensyariatkan Khilafah sebagai konsep pemerintahan dalam Islam,” terang Retno.

Retno lalu mempertanyakan, jika semua yang Allah syariatkan ditolak dan dipilih sesuai selera, apakah ini yang dinamakan taat? “Padahal menolak syariat adalah tindak maksiat. Begitu pula satu amal lepas dari syariat Allah, adalah maksiat,” cetusnya.

Harusnya, Retno melanjutkan, kita malu dengan apa yang disampaikan Imam Ibnul Jauziy ra. dalam kitabnya, At-Tabshirah (1/326), “Wahai engkau yang mengejar surga, sungguh bapak kalian, Adam as., telah dikeluarkan dari surga hanya karena satu dosa. Lalu pantaskah engkau berambisi masuk ke dalam surga dengan membawa banyak dosa yang tidak segera engkau tobati?” kutip Retno.

Taat

Oleh karena itu, menurutnya, yang perlu dipastikan sekarang adalah selalu menjaga diri menjadi orang baik yang selalu istikamah dalam melakukan ragam amal kebaikan dan ketaatan kepada Allah Swt. dan menjauhi berbagai laku ragam dosa dan maksiat kepada-Nya. “Tidak cukup dengan itu, lakukan dakwah ke tengah umat agar umat pun suka berlaku taat kepada Allah dan menjauhi tindak maksiat,” ajak Retno.

Retno mengingatkan, yang wajib pula terus dilakukan adalah menasehati penguasa agar mereka tunduk pada aturan Allah. “Campakkan demokrasi dan kapitalisme, terapkan syariat Allah secara kafah. Jika semua berlaku taat pada Allah, tinggal satu, lakukan segera. Jangan ditunda,” tegasnya.

Retno menutup dengan menyampaikan firman Allah dalam Al-Qur’an surat Ali-Imran ayat 133, “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” [MNews/IA]

Foto sampul: iStock

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *