[Kabar] Ketidaksetaraan Gender Penyebab Kerawanan Pangan pada Perempuan, Arum Harjanti: Narasi Sesat!

[Kabar] Ketidaksetaraan Gender Penyebab Kerawanan Pangan pada Perempuan, Arum Harjanti: Narasi Sesat!

Muslimah News, INTERNASIONAL — Pengamat masalah perempuan, anak, dan generasi dr. Arum Harjanti menyatakan narasi ketidaksetaraan gender menjadi penyebab kerawanan pangan pada perempuan adalah narasi sesat.

“Ketidaksetaraan gender selalu jadi kambing hitam semua persoalan dunia, terlebih apabila terkait perempuan, seperti dalam hal kerawanan pangan saat ini. Hanya saja, narasi ketidaksetaraan gender menjadi penyebab kerawanan pangan perempuan adalah narasi sesat,” jelasnya kepada MNews, Selasa (9/8/2022).

Hal ini diuraikannya merespons laporan CARE International tentang Keamanan Pangan dan Kesetaraan Gender (4/8) yang menyebutkan bahwa dibandingkan 2018, saat ini perempuan delapan kali lebih banyak mengalami kekurangan pangan daripada laki-laki atau 150 juta lebih banyak. Laporan ini menyebutkan bahwa pria masih bisa mendapatkan porsi yang lebih kecil sementara perempuan tidak mendapatkan makanan sama sekali. Perempuan yang tidak memiliki penghasilan dan tidak mendapatkan bantuan dari laki-laki dalam urusan rumah tangga, lebih besar kemungkinannya mengalami kerawanan pangan dan makanan yang tidak sehat. Laporan ini menyimpulkan bahwa ketimpangan gender bertalian erat dengan kerawanan pangan.

Memang, ujar Arum, hal ini jelas akan terus dinarasikan karena dunia memang mengampanyekan kesetaraan gender sebagai solusi atas persoalan perempuan, bahkan dianggap sebagai satu-satunya solusi.

“Narasi ini sebenarnya menjadi bentuk serangan atas beberapa hukum Islam yang dalam pandangan Barat dianggap mendiskriminasi perempuan,” kritiknya.

Lemahnya Kesadaran Politik Islam

Apalagi, Arum menilai, lemahnya kesadaran politik Islam membuat kaum muslim dan perempuan terpedaya dengan narasi sesat Barat ini yang sebenarnya merupakan strategi Barat untuk melanggengkan penjajahan atas negeri muslim.

“Padahal, kerawanan pangan yang dirasakan perempuan, sejatinya akibat sistem yanag diberlakukan saat ini, yaitu sistem kapitalisme,” cetusnya.

Sistem ini, lanjutnya, menjadikan setiap individu bertanggungjawab atas nasibnya sendiri. “Dengan mekanisme pasar yang menjadi jargon kapitalisme, maka jelas yang kuat yang menang. Apalagi, adanya individualisme yang menjadi salah satu nilainya, mengakibatkan kesenjangan makin terasa,” ungkapnya.

Arum juga menyatakan, tidak adanya kewajiban kepala keluarga menanggung nafkah istri dan anak menyebabkan perempuan harus menanggung dirinya sendiri.

“Belum lagi, sistem ini telah menghilangkan peran Negara, kecuali hanya sebagai fasilitator—yang merumuskan undang-undang untuk kepentingan para pengusaha yang menjadi penguasa,” tukasnya.

Oleh karena itu, ia menjelaskan, wajar kalau perempuan dalam sistem kapitalisme dikatakan lebih banyak yang menderita kerawanan pangan. “Sejatinya ini menunjukkan kejamnya sistem kapitalisme karena membiarkan perempuan bertanggungjawab atas nafkah hidupnya sendiri, sedangkan ia juga harus menjalankan peran sebagai istri, pengurus rumah tangga, dan ibu generasi,” kupasnya.

Sebaliknya, Arum menegaskan, sungguh berbeda dengan Islam yang mewajibkan laki-laki untuk menafkahi keluarganya.

“Islam juga menetapkan negara bertanggungjawab menjamin nafkah perempuan yang hidup sendirian, atau laki-laki yang memiliki keterbatasan untuk mencari nafkah. Negara mampu menjamin itu semua karena memiliki sistem yang berbeda sistem kapitalisme dalam semua aspeknya,” pungkasnya. [MNews/Ruh]

Foto ilustrasi: iStock

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *