[Kabar] Dr. Abdullah Robin: Kesetaraan Gender Membawa Kehancuran Gender

[Kabar] Dr. Abdullah Robin: Kesetaraan Gender Membawa Kehancuran Gender

Muslimah News, INTERNASIONAL — Diberitakan dari media setempat (11/6/2022), sebuah sekolah menengah di Devon, Inggris, mengeluarkan kebijakan pelarangan penggunaan rok bagi para muridnya sebagai bentuk penerapan aturan yang lebih netral gender. Dalam kebijakan tersebut, para murid hanya diperbolehkan mengenakan celana panjang.

Kebijakan ini pun dikritisi aktivis muslim Dr. Abdullah Robin. “Kesetaraan gender telah membawa kehancuran gender,” ungkapnya dalam sebuah media dakwah ideologis internasional, Sabtu (18/6/2022).

Ia menerangkan, gender secara biologis selalu menjadi penghambat diterapkannya sekularisme secara penuh. “Sebab, gender yang bersifat biner menghasilkan perbedaan nyata antara jenis kelamin yang selalu menghambat kesetaraan mutlak,” ujarnya .

Abdullah memaparkan, setelah mengadopsi sekularisme, Barat terus berjuang untuk kebebasan dan kesetaraan, salah satunya perjuangan mendapatkan kesetaraan jenis kelamin.

“Secara bertahap, perempuan di Barat memperoleh hak-hak yang telah lama diberikan Islam kepada perempuan, yang sebelumnya tidak diakui di Barat. Akhirnya, perempuan di Barat bisa memperoleh hak memilih, memiliki barang, dan mempelajari mata pelajaran yang sama dengan yang dapat dipelajari laki-laki di universitas. Namun, perbedaan fisik dan emosional antara laki-laki dan perempuan masih menghalangi perempuan untuk mencapai hal yang sama dengan laki-laki,” urainya.

Terus Berkembang

Ia mengatakan, pembahasan gender terus berkembang karena semua upaya untuk mencapai kesetaraan mutlak antara laki-laki dan perempuan telah gagal.

“Undang-undang yang memaksa majikan memberikan tunjangan cuti hamil telah membantu perempuan untuk menyeimbangkan kelahiran anak dan karir mereka. Hanya saja, perempuan  tetap dibayar rata-rata lebih rendah daripada laki-laki meskipun memiliki konsekuensi yang tidak terhindarkan, yakni berada jauh dari tempat kerja. Walaupun, mereka tidak hanya melahirkan, melainkan juga mengasuh anaknya,” jelasnya.

Akibatnya, ia menyatakan, ketika mendorong perempuan melakukan pekerjaan yang biasanya dilakukan laki-laki kemudian menetapkan kuota jumlah perempuan yang harus dipekerjakan dalam pekerjaan tersebut, telah meningkatkan pekerjaan perempuan di luar peran mereka sebelumnya yang lebih terbatas. “Biarpun begitu, dorongan untuk kebebasan mutlak dan kesetaraan, tidak berhenti di sana,” cetusnya.

Bermutasi

Selanjutnya, Abdullah mengulas, kesetaraan gender bermutasi menjadi netralitas gender ketika manipulator sosial Barat berusaha menghapus gender.

“Anak laki-laki didorong bermain peran menjadi ibu dengan membawa boneka. Di sisi lain, anak perempuan didorong bermain peran menjadi ayah. Bahkan saat ini, sekolah membuat anak laki-laki dan perempuan mengenakan pakaian yang sama atas nama netralitas gender. Ini bukanlah kebetulan bahwa sekolah berusaha mendapatkan dukungan terhadap kebijakan barunya dengan memainkan “kartu” netralitas gender yang makin kuat,” kritiknya.

Akhirnya, ia menyatakan, anak laki-laki dan perempuan makin bingung tentang siapa mereka karena gerakan sesat ini mendapatkan momentumnya.

Abdullah lantas menyampaikan laporan hasil survei Pew Research (7/6/2022) bahwa 5% para pemuda di AS mengatakan jenis kelamin mereka berbeda dari jenis kelamin saat lahir, dibandingkan dengan 0,3% dari para trans atau non-biner yang berusia 50 tahun ke atas.

“Terlebih, pada 24 Juni, akan mulai berlaku Undang-Undang Pengakuan Gender New York yang memungkinkan orang merekam jenis kelamin mereka sebagai “X” pada SIM, bukan laki-laki ataupun perempuan,” ungkapnya miris.

Ia menerangkan, pemerintahan New York berkomitmen untuk memastikan bahwa New York adalah tempat berharga dan menjadi milik anggota komunitas LGBTQ+. ”Banyak institusi telah mendirikan toilet netral gender, bahkan istilahnya diubah menjadi kurang diskriminatif gender,” ucapnya prihatin.

Penyimpangan

Meskipun demikian, Abdullah menyampaikan, tidak semua orang senang tentang hal ini. “Banyak atlet perempuan tidak mampu bersaing dengan atlet laki-laki yang lebih berotot—yang telah memilih menjadi perempuan atau transeksual—yang menuntut untuk diperlakukan “sama” dengan perempuan biologis. Kebingungan, penyimpangan, bahkan penyakit adalah akibat yang muncul. Kebahagiaan manusia pun tidak bertambah dengan penyimpangan-penyimpangan dari fitrah yang telah Allah ciptakan,” bebernya.

Untuk itu, ia mengingatkan bahwa Allah Yang Maha Mengetahui dan Maha Mengenal menuntut kita untuk berpikir tentang manusia, ciptaan-Nya, yaitu laki-laki dan perempuan.

“Sayangnya, terdapat pemikiran sesat yang berimajinasi bahwa mereka dapat berbuat lebih baik dengan merekayasa ulang jenis kelamin, sesuka mereka,” kecamnya.

Lalu ia mengutip firman Allah dalam surat Al-Hujurat ayat 13, “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” [MNews/Ruh]

Foto sampul: Viva

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *