Muslimah News, NASIONAL — Berbagai problem teknis yang muncul terkait dengan pemberangkatan jamaah haji ditanggapi oleh cendekiawan muslim Ustaz Ismail Yusanto (UIY). Menurutnya, jemaah haji itu tamu Allah, selayaknya diurus dengan sebaik-baiknya.
“Jemaah haji disebut sebagai tamu Allah yang datang ke sana memenuhi panggilan Allah. Karena itu sudah selayaknya tamu Allah diurus dengan sebaik-baiknya dengan penuh amanah,” ungkapnya dalam acara Fokus UIY Official: “Haji dan Politik”, Ahad (26/6/2022) melalui kanal UIY Official Chanel
UIY menegaskan, bila bisa dipermudah jangan dipersulit, bila bisa diringankan jangan diberatkan, bila bisa murah jangan dimahalkan. “Ini amanah. Saya kira pahalanya sangat besar jikalau kita membantu orang untuk beribadah menghadap Allah Swt.,” tegasnya.
Dosa Besar
Disamping pahalanya besar, UIY juga mengatakan bahwa dosanya juga sangat besar. “Ada keterangan dalam hadis, banyak sekali fadilah ibadah di tanah suci, di masjidil haram, tetapi dosanya juga dilipat-lipatkan di sana. Jadi, bukan hanya pahala kebaikan, tetapi dosa keburukan itu dilipat-lipatkan. Karena itu saya kira ini penting untuk mengingatkan bagaimana pentingnya penyelenggaraan ibadah haji itu berlangsung sebaik-baiknya,” ingat UIY.
Ia mengatakan sangat tidak layak kalau dana jemaah haji dikorupsi sebagaimana berapa kali terjadi. “Ini kan tragis bagaimana bisa dana ibadah haji itu alih-alih ditunaikan dengan sebaik-baiknya, malah dikorupsi,” ucapnya.
Spirit Utama
UIY menjelaskan, penting untuk menangkap dua spririt utama ibadah haji. “Pertama, tauhid. Kedua, ukhuwah Islamiah,” sebutnya.
Menurutnya, ibadah haji itu tapak tilas Nabi Ibrahim a.s. yang Allah Swt. menyebutnya sebagai uswatun hasanah. “Sungguh bagi kalian itu ada uswatun hasanah pada diri Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya (istri dan anaknya). Teladan tentang apa? Teladan tentang bagaimana menjadi seorang hamba Allah sejati yang memiliki spirit tauhid luar biasa,” ungkapnya.
“Jadi, kalau mau diringkas apa sebenarnya hikmah haji itu? Ya tauhid yang tercermin pada ketaatan Nabiyullah Ibrahim a.s. dan keluarganya kepada segenap perintah dan larangan Allah Swt.,” tandasnya.
UIY lalu mengatakan mestinya seorang muslim menarik hikmah saat pulang dari tanah suci untuk lebih taat kepada Allah karena hidup ini sebenarnya dialektika antara taat kepada Allah dengan taat kepada setan.
Hamba Setan
UIY menyayangkan fakta yang terjadi tidak demikian. “Sepulang ke tanah air alih-alih melawan setan, malah berkawan dan menjadi hamba setan,” sesalnya.
Ia lalu memberikan contoh pemimpin yang memimpin secara sekuler, pemimpin partai sekuler, koruptor, dan mereka sudah haji, bahkan mungkin hajinya sudah bolak balik. “Jadi, ternyata memang tidak otomatis ada efek. Ini yang saya kira menjadi persoalan besar. Karena jikalau kita bawa pesan-pesan utama dari haji, tauhid mestinya menggema di negeri ini,” ucapnya.
Malah, imbuhnya, sekarang yang terjadi sesuatu yang sebenarnya bukan cerminan dari tauhid. “Dakwah, syariah, Khilafah itu malah dipersekusi oleh mereka-mereka yang juga berangkat haji,” sesalnya.
UIY mengatakan, ada hubungan yang sangat erat antara spirit haji dengan realitas kehidupan individu, masyarakat, dan negara. “Jadi, kalau ini hari kita menghadapi suatu masalah besar, korupsi, ketidakadilan dibidang ekonomi, ketidakadilan di bidang politik, ketidakadilan di bidang hukum, itu kan berpangkal dari rapuhnya jiwa tauhid tadi,” ungkapnya.
“Saya kira ini problem sangat besar karena menjadi seolah ibadah itu tidak punya efek apa-apa dalam realitas kehidupan sehari-hari baik kehidupan pribadi, keluarga terlebih dalam kehidupan masyarakat dan negara,” tegasnya.
Ukhuwah Islamiah
Spirit haji berikutnya menurut UIY adalah ukhuwah Islamiah. “Ini semacam kongres umat Islam dunia karena tiga juta umat Islam dari berbagai wilayah, dari berbagai belahan dunia datang ke sana. Kalau ada gambaran persatuan universal, itulah haji,” tandasnya.
Menurutnya, tidak ada persaudaraan yang begitu melintas batas melebihi persaudaraan Islam. Namun, ia menyayangkan persatuan yang ada saat ini sebatas spiritual. “Jadi, begitu selesai haji selesai sudah. Seolah olah umat Islam itu nafsi nafsi (sendiri-sendiri) yang membuat akhirnya tantangan-tantangan yang bersifat global itu tak tersentuh oleh kekuatan umat,” ungkapnya sedih.
“Penghinaan, pelecehan, penistaan terhadap agama dan terhadap Nabi itu terus berjalan sampai ini hari. Kita seperti orang yang tidak punya daya padahal kita punya saudara universal yang jumlahnya 1,7 miliar,” tandasnya.
Menepis Sekat
UIY mengajak umat Islam agar menepis sekat-sekat yang menghalangi persaudaraan universal. “Tidak boleh lagi ada pandangan bahwa umat Islam Indonesia misalnya itu kepentingannya sebatas Indonesia. Kepentingannya itu dunia islam. Disitulah sebenarnya kekuatan kita,” jelasnya.
Menurutnya, musuh-musuh Islam memang berusaha untuk melemahkan umat dengan politik belah bambu yang sekarang disebut nasionalisme, sebuah paham yang menyatakan bahwa pengabdian tertinggi seseorang kepada bangsa dan tanah air.
“Padahal, pengabdian tertinggi bagi seorang muslim hanya kepada Allah Swt.. Perintah Allah itu nilai paling tinggi di atas apa pun. Jangan sampai perintah Allah di bawah sesuatu yang lain.,” tegasnya.
Jadi, lanjutnya, perintah Allah itu mengatur bukan diatur. “Nah, ini hari ada kecenderungan perintah Allah ini diatur, bukan mengatur. Apa buktinya? Buktinya, misalnya, kita ini boleh Islam, tetapi Islam yang moderat jangan radikal,” ujarnya memberikan contoh.
Padahal, ia mengingatkan, Islam itu hadir untuk mengatur, menjadi muslim sejati yang taat pada Allah setaat-taatnya sebagaimana dicintohkan Nabi Ibrahim dan keluarganya. “Itulah takwa sebenarnya, itulah muslim yang kafah,” pungkasnya. [MNews/IA]
Foto sampul: Dok. MNews
