Mematikan “Serigala Politik” dengan Berbagai Tipu Daya AS, Memelihara Konflik Palestina

Mematikan “Serigala Politik” dengan Berbagai Tipu Daya AS, Memelihara Konflik Palestina

Penulis: Rindyanti Septiana, S.H.I.

Muslimah News, OPINI — AS dan sekutu terbaiknya, yakni Israel masih terus memerangi rakyat Palestina dengan masif dan secara berkala. Publik dapat melihat begitu nyata keberpihakan Amerika Serikat terhadap Israel. Amerika menggunakan 39 kali veto untuk melindungi Israel dari resolusi Dewan Keamanan PBB yang mengutuk juga mengecam tindakan serta sikap Israel yang tidak memedulikan hak asasi rakyat Palestina. 

Ditambah lagi, pemukiman Yahudi di tepi Barat dan Yerusalem Timur yang didukung AS menjadi rentetan panjang keberpihakan AS pada Israel. Menurut Peace Now, kelompok anti-pemukiman Israel, saat ini terdapat 385 pemukiman Yahudi yang didirikan dengan izin pemerintah Israel dan 97 bangunan atau pemukiman “liar”.

Di Yerusalem Timur, terdapat 12 pemukiman baru dengan sekitar 200 ribu orang pemukim yang hidup dengan senjata api dan pengawalan tentara Israel. AS juga memberikan bantuan senilai $1—4miliar per tahun pada Israel untuk membeli persenjataan produk-produk AS.

Tampak sangat besar kepentingan AS atas penguasaan Timur Tengah raya dan Afrika Utara sehingga memelihara konflik panjang di Palestina. AS menilai bahwa Palestina merupakan jantung Islam di Timur Tengah hingga tidak akan membiarkan Palestina juga negara lain di Timur Tengah dalam kondisi aman.

AS memahami dengan baik potensi muslim, Islam Palestina, dan wilayah di sekitarnya. Menurut Kissinger, Palestina merupakan serigala politik bagi AS. Palestian akan selalu dibuat tidak tenang agar potensi agama (ideologi) dan pemeluknya tidak mengganggu kepentingan AS.

Upaya Mematikan “Serigala Politik”

Hubungan Palestina dan Israel kembali memanas. Konflik sudah terjadi sejak 22 Maret 2022 lalu. Pun, telah menewaskan 14 orang warga Palestina di kawasan Israel. Sementara, pada awal tahun 2022, 36 warga Palestina telah meregang nyawa karena serangan tentara Israel.

Mengutip Al Jazeera, ketakutan  rakyat Palestina di Jalur Gaza makin meningkat. Bahkan, beberapa tahun terakhir, ketegangan Palestina-Israel kerap terjadi pada Ramadan. Tahun lalun misalnya, konflik terjadi pasca pasukan keamanan Israel menyerang Masjid Al-Aqsa. (CNBC Indonesia, 15/4/2022).

AS memang tidak pernah mengenal waktu untuk memerangi musuhnya yakni umat Islam dan negeri muslim yang berpotensi menjadi cikal bakal kebangkitan Islam. Bahkan, seorang tentara angkatan udara AS, Chuk Wald mengatakan, “Kita harus memberikan Israel bantuan uang tanpa syarat. Itu untuk menyelamatkan darah kita yang berharga, yaitu Amerika Serikat.”

Berbagai upaya dan tipu daya akan terus digencarkan AS demi mematikan “serigala politik” yakni Palestina. Sebab, AS selalu dibayang-bayangi kembalinya Islam. Kebangkitan itu sendiri menjadi sebuah kekuatan besar yang bisa menghancurkan hegemoni AS di seluruh negeri muslim. Meski bergelar sebagai negara pelaku pelanggaran hak asasi manusia kelas berat, tetapi tidak membuat AS menghentikan berbagai manuver politik serta sengaja memelihara konflik di Palestina.

Pernyataan juru bicara hak asasi manusia PBB Rupert Colville pun dianggap angin lalu oleh AS. Padahal, Rupert telah menekankan bahwa Yerusalem Timur tetap menjadi bagian dari wilayah Palestina yang diduduki Israel. Memindahkan penduduk sipil ke wilayah pendudukan adalah ilegal di bawah hukum internasional dan merupakan kejahatan perang. (Republika, 10/5/2021).

Kejahatan Perang AS pada Palestina

Tidak sedikit media yang seolah-olah ingin memberi pesan bahwa konflik Palestina merupakan konflik biasa, bukan kejahatan perang. Padahal, organisasi Human Rights Watch (HRW) telah menyampaikan hasil penyelidikan terhadap serangan Israel pada Palestina. Pertama, pada peristiwa Beit Hanoun (10/5/2021), sebuah rudal yang dikendalikan Israel jatuh di dekat empat rumah warga sipil Palestina.

Kedua, pada peristiwa kamp pengungsi Shati (15/5/2021), sebuah bom menghancurkan bangunan tiga lantai, menewaskan 10 warga sipil Palestina. Ketiga, peristiwa di kota Gaza (16/5/2021), rangkaian serangan udara di sepanjang Jalan al-Wahda menyebabkan beberapa bangunan  bertingkat rubuh menewaskan 44 warga sipil Palestina.

Ketiga peristiwa di atas merupakan serangan Israel yang mengakibatkan korban jiwa dari warga sipil dalam jumlah besar. Hal itu menjadi hasil penyelidikan HRW bahwa Israel melakukan tindakan kejahatan perang pada Palestina.

Tampak pula, AS mati-matian membela Israel lewat Menlu AS Antony Blinken yang mengatakan dengan tegas bahwa Paman Sam menentang keputusan Mahkamah Pidana Internasional  (ICC) untuk menggelar penyelidikan kejahatan perang di wilayah pendudukan Palestina. Ia pun mengungkapkan bahwa, “AS akan melanjutkan komitmen tak tergoyahkan kami pada Israel dan keamanannya, termasuk menentang aksi yang mengincar Israel secara tidak adil.” (Republika, 15/3/2021).

Sementara itu, ketika AS sibuk menyoroti sejumlah dugaan pelanggaran hak asasi manusia oleh pemerintah Indonesia, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan HAM, Mahfud MD meresponsnya dengan mengatakan, “Catatan AS justru lebih banyak dilaporkan Special Procedures Mandate Holders (SPMH). Pada kurun waktu 2018-2021, Indonesia dilaporkan melanggar HAM 19 kali oleh beberapa elemen masyarakat, sedangkan AS pada waktu yang sama dilaporkan sebanyak 76 kali melakukan pelanggaran HAM.” (CNN Indonesia, 18/4/2022).

Perangi dan Usir Israel

Allah Swt. berfirman, “Perangilah mereka, niscaya Allah akan menghancurkan mereka dengan (perantaraan) tangan-tangan kalian, menghinakan mereka serta akan menolong kalian atas mereka sekaligus melegakan hati kaum mukmin.” (QS At-Taubah:14)

Di samping itu, Allah pun berfirman, “Usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kalian.” (QS Al-Baqarah: 191).

Keberadaan Israel telah menjadi benalu berbahaya bagi rakyat Palestina. Israel hanya mengerti kata perang, bukan perjanjian damai atau dialog. Oleh sebab itu, Israel harus diperangi dan diusir dari Palestina.

Hal itu hanya bisa dilakukan oleh pemimpin Islam yang berani dan dukungan negara kuat. Negara adidaya yang menghimpun seluruh negeri-negeri muslim yakni Khilafah. Khilafah dengan kekuatan militer yang dimiliki mampu melakukan jihad menjaga wilayah kaum muslim termasuk Palestina.

Mengakhiri kejahatan perang AS pada jantung Islam di Timur Tengah adalah dengan menyegerakan tegaknya Khilafah. Khilafahlah satu-satunya harapan bagi Palestina dan satu-satunya pelindung umat yang hakiki.

Kemenangan umat Islam sejatinya ketika Islam terterapkan secara kafah di muka bumi. Rakyat Palestina dan negeri-negeri muslim yang terjajah pun baru bisa  merasakan kebahagiaan Idulfitri hanya dalam naungan Khilafah. Wallahualam. [MNews/Has]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *