Muslimah News, NAFSIYAH — Kita tentu sering menemukan kesalahan pada diri sendiri ketika berinteraksi dengan sesama manusia. Baik sikap maupun tutur kata yang mungkin pernah menorehkan luka di hati mereka, disengaja ataupun tidak.
Inilah yang harus seorang muslim perhatikan ketika berinteraksi dengan sesama manusia, yakni menjaga lisannya dari perkara yang bisa membinasakan dan menjerumuskannya ke dalam neraka. Allah Swt. berfirman, “Tidak ada suatu kata yang diucapkannya, melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).” (QS Qaf: 18)
Ada beberapa hal yang harus kita hindari lewat lisan kita. Pertama, membicarakan sesuatu yang bukan menjadi urusan kita. Sabda Nabi saw., “Sesungguhnya di antara kebaikan seorang Muslim ialah meninggalkan apa yang tidak menjadi urusannya.” (HR Tirmidzi)
Kedua, mengutuk, mengeluarkan kata-kata yang mengutuk atau melaknat yang justru menjauhkan diri dari rahmat Allah Taala.
Seorang muslim hendaknya tidak membiasakan lisannya mengucapkan kata-kata yang mengutuk. Nabi saw. bersabda, “Seorang mukmin bukanlah orang yang suka mencela, melaknat, berperangai buruk, dan mengeluarkan ucapan yang kotor.” (HR Tirmidzi)
Ketiga, melebih-lebihkan atau mengulang perkataan tanpa ada manfaat. Hendaknya berbicara secukupnya sesuai kebutuhan. Nabi saw. bersabda, “Beruntunglah mereka yang mampu menahan lidahnya dari berbicara yang melebihi porsinya dan mau membelanjakan kelebihan dari harya yang dimilikinya di jalan Allah.” (HR Tirmidzi)
Keempat, gibah, yakni menyebut-nyebut kesalahan seseorang tanpa sepengetahuannya. Kelima, adu domba (namimah), pembicaraan di antara orang-orang, yakni satu pihak mengungkapkan sesuatu yang dibencinya atau kabar yang didapatkan dari orang lain, termasuk pula membocorkan rahasia.
Nabi saw. mengingatkan kita, “Tidak akan masuk surga orang-orang yang melakukan namimah atau adu domba.”
Keenam, debat kusir, perdebatan yang menjadikan seseorang bermusuhan dengan sesama saudaranya. Saling memenangkan pendapat masing-masing tanpa menyandarkan pada hakikat kebenaran yang datangnya dari Allah dan Rasul-Nya.
Nabi saw. kembali mengingatkan, “Janganlah kamu mendebat saudaramu, janganlah kamu bercanda dengannya (dengan canda yang dapat menyinggungnya), dan janganlah kamu menjanjikannya suatu janji lalu kamu mengingkarinya.” (HR Tirmidzi)
Ketujuh, berkata kasar untuk menyakiti orang lain dengan tujuan menghancurkan lawannya. Nabi saw. bersabda, “Orang yang paling aku benci dan paling jauh tempat duduknya dariku pada Hari Kiamat adalah ats-tsartsarun (orang yang banyak bicara secara dibuat-buat hingga keluar dari kebenaran), al-mutasyaddiqun (orang yang memperpanjang bicaranya sampai memperolok manusia) dan al- mutafaihiqun (orang yang memperpanjang bicaranya dengan kesombongan).” (HR Tirmidzi)
Kedelapan, berbohong dalam ucapan dan sumpah. Semestinya kita berhati-hati dalam berbicara. Wajib memperhatikan setiap kalimat yang kita keluarkan karena kalimat yang telah terlontar pada orang lain apalagi hal itu menyakiti hatinya akan menyebabkan kita tergelincir pada dosa. Sebagaimana yang diperingatkan Nabi saw..
Dari Abu Hurairah ra. ia berkata bahwa dikatakan pada Rasulullah saw., “Wahai Rasulullah, sesungguhnya fulanah (seorang wanita) rajin mendirikan salat malam, gemar puasa di siang hari, mengerjakan (kebaikan) dan bersedekah, tetapi sering menyakiti tetangganya dengan lisannya.” Rasulullah saw. berkata, “Tidak ada kebaikan padanya, ia termasuk penghuni neraka.” (HR Ahmad)
“Sesungguhnya, ada seorang hamba yang berbicara dengan suatu perkataan yang tidak dipikirkan bahayanya terlebih dahulu sehingga membuatnya terlempar ke neraka dengan jarak yang lebih jauh daripada jarak antara timur dan barat.” (HR Bukhari dan Muslim)
“Barang siapa yang menjamin bagiku terjaganya sesuatu yang berada di antara dua tulang rahangnya (lidahnya) ada sesuatu yang berada berada di antara dua kaki kemaluannya aku menjamin surga baginya.” (HR Bukhari)
Masih banyak lagi dalil yang menunjukkan pada kita untuk berhati-hati dengan lisan sendiri. Semoga kita menjadi bagian dari orang-orang yang menjaga lisan, hanya mengucapkan perkataan yang bermakna, dan menunjukkan orang lain pada kebaikan dengan berdakwah.
Ini karena Allah akan memberikan pahala atasnya dan Nabi saw. telah bersabda, “Barang siapa yang menunjuki kepada kebaikan, ia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” (HR Muslim No 1893) [MNews/Rindy]
