Muslimah News, NAFSIYAH — Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah saw. menggambarkan pengadilan akhirat dalam hadisnya yang telah diriwayatkan oleh Imam Muslim, An-Nasa’i, Imam Ahmad, dan Baihaqi. Ada tiga orang yang merasa bahwa mereka menjadi calon penghuni surga, tetapi ternyata berakhir di neraka. Mengapa mereka sampai diseret menuju api neraka yang membara?
Orang pertama dipanggil Allah Swt., ia adalah seorang lelaki yang mati syahid. Lelaki itu mengakui banyak nikmat yang telah Allah berikan kepadanya. Allah lalu bertanya, “Apa yang telah kau perbuat dengan berbagai nikmat tersebut?”
Ia menjawab, “Saya telah berperang karena-Mu hingga mendapatkan syahid.” Namun, Allah menyangkalnya, “Kau telah berdusta, karena kau berperang agar namamu disebut manusia sebagai orang yang pemberani. Kamu pun telah disebut-sebut demikian,” firman-Nya. Kemudian, wajahnya diseret dan dilemparkan ke neraka jahanam.
Selanjutnya, orang kedua dipanggil Allah Swt., ia adalah seorang alim ulama yang mengajarkan Al-Qur’an pada manusia. Allah pun bertanya hal yang sama, “Apa yang telah engkau perbuat dengan berbagai nikmat itu?”
Sang ulama pun menjawab, “Saya membaca, mempelajari, dan mengajarkan Al-Qur’an karena Engkau.” Namun Allah Swt. berfirman, “Kamu berdusta, kamu mempelajari ilmu agar disebut seorang yang alim dan kamu membaca Al-Qur’an agar disebut sebagai qari.” Lantas Allah mengadilinya dengan melemparkan dirinya ke neraka yang apinya menjilat-jilat.
Orang ketiga dipanggil Allah Swt, ia sosok yang sangat dermawan karena dianugerahi Allah harta yang melimpah. Allah menanyakan tanggung jawabnya atas nikmat yang diberikan padanya. “Apa yang telah engkau perbuat dengan berbagai nikmat-Ku?” firman-Nya.
Lalu ia menjawab, “Saya tidak pernah meninggalkan sedekah dan infak di jalan yang Engkau cintai melainkan aku pasti melakukannya semata-mata karena Engkau.” Namun nasibnya tidak jauh beda dengan dua orang sebelumnya, Allah berfirman, “Kau berdusta, kau melakukannya karena ingin disebut sebagai seorang dermawan. Begitulah yang dikatakan orang-orang tentang dirimu.” Kemudian ia diseret menuju neraka bergabung dengan dua temannya yang menyimpan sifat riya pamer di hati mereka.
Subhanallah, ternyata mereka hanya saleh di pandangan manusia, tetapi tidak menauhidkan Allah dalam niat amal mereka. Manusia memandang mereka taat beribadah dan meyakini akan menjadi penduduk surga. Namun, Allah mengetahui segala isi hati hamba-Nya bahwa ketiganya tidak pernah mengikhlaskan amal untuk Allah melainkan pujian manusia.
Mereka berakhir di neraka dan menjadi penghuni pertama neraka. Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya ada di antara kalian yang beramal dengan amalan ahli surga menurut pandangan manusia, padahal sebenarnya ia penduduk neraka.” (HR Muslim no. 112)
Syekh ‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan maksud hadis di atas, “Amalan ahli surga yang ia amalkan hanya sebatas pandangan manusia. Padahal, amalan ahli surga yang sebenarnya menurut Allah belumlah ia amalkan.” (Syarah Hadis Arbain)
Oleh sebab itu, penting bagi kita memahami bahwa seorang hamba yang melaksanakan amalan ahli surga adalah ia yang melakukannya dengan jujur dan penuh keikhlasan. Tentu Allah tidak akan menelantarkannya. Allah akan memuliakan mereka yang beribadah kepada-Nya.
Akan tetapi, harus kita sadari bahwa perkara hati adalah sesuatu yang mudah berbolak-balik. Kita terus berharap-harap cemas atas setiap amal kita, apakah Allah menerimanya atau menolaknya? Apakah kita telah beramal dengan amalan ahli surga? Ataukah malah beramal dengan amalan ahli neraka?
Sungguh, begitu penting untuk meluruskan niat karena-Nya dan berbuat sesuai aturan-Nya. Semoga Allah melindungi kita dari berbagai penyakit hati, menjadikan kita hamba yang ikhlas beramal, serta menjadikan akhir kehidupan yang baik untuk kita (husnulkhatimah). Amin. [MNews/Rindy]
