Muslimah News, NASIONAL — Di hadapan ratusan remaja, aktivis dakwah Dra. Iffah Ainur Rochmah menyatakan bahwa POV (Point of View) seorang muslimah adalah meraih kebahagiaan akhirat. “Kalau kita kepengen kebahagiaan, Allah menyatakan yang harus dikejar itu adalah kebahagiaan negeri akhirat,” tuturnya dalam sebuah acara remaja di Jakarta pada awal November 2026.
Ia menyandarkan pernyataannya pada firman Allah Taala yang artinya, ”Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi…” (TQS Al-Qasas [26]: 77).
Menurutnya, kebahagiaan di akhirat bisa dikejar dengan modal kenikmatan dunia yang sudah diberikan Allah berupa akal dan umur. “Allah kasih banyak sekali kenikmatan dunia, Allah izinkan itu dinikmati, tetapi jangan lupa semuanya adalah modal untuk digunakan meraih kebahagiaan akhirat,” tandasnya.
Manusia Dibekali Naluri
Iffah menjelaskan, Allah Taala juga membekali manusia dengan naluri-naluri, seperti naluri mempertahankan diri, naluri beragama, dan naluri kasih sayang. Naluri-naluri itu, sambungnya, bersifat netral yang berfungsi menjaga manusia agar tidak terjatuh pada bahaya, merasa kecil di hadapan Allah, dan peduli terhadap sesama.
Namun ia menyesalkan, saat manusia hidup dalam habitat sistem sekularisme, naluri-naluri tadi banyak terseret kepada hal-hal negatif. ”Kalau ada orang yang berprestasi, kita enggak terlalu kepingin mengikuti, tetapi kalau ada orang pacaran, pencapaian cuan-nya besar, itu kayaknya kita ambisi banget. Kenapa? Karena kita sebagai muslimah ibarat ikan yang harusnya hidup di air laut ternyata kita ditempatkan di akuarium air tawar. Jadi kita tidak berada di habitat yang semestinya untuk kita, yaitu Islam, tetapi sekularisme kapitalisme,” bebernya.
Ia mengajak kepada para remaja agar memiliki POV yang benar, yaitu POV Islam sehingga dalam memenuhi naluri-naluri tadi sesuai arahan Islam, tidak terseret pada gerak (move) yang salah. Ia mencontohkan, dengan POV Islam saat melihat penderitaan Palestina bukan hanya simpati yang diwujudkan dalam pengumpulan donasi, posting di media sosial, tetapi harus sampai pada tataran mencintai mereka seperti mencintai diri sendiri. ”Rasulullah saw. bersabda, ’Tidaklah iman seseorang di antara kalian sempurna hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.’,” ucapnya membacakan hadis dari Anas ra.
Bergerak Bersama
Ia menjelaskan, POV dan move yang tidak sesuai Islam ini bukan hanya menimpa remaja, tetapi juga orang tua, masyarakat, bahkan negara. “Kalau kita ingin menghentikan POV dan move yang enggak sesuai Islam, kalian semua harus bergerak. Kami para orang tua pasti akan mendukung kalian, bergerak bersama-sama untuk menghentikan POV dan move yang tidak sesuai Islam,” tandasnya.
Pergerakan itu, lanjutnya, bukan sekadar mengganti orang, tetapi harus menggantikan ketatanegaraan yang tidak sesuai dengan Islam menjadi ketatanegaraan seperti yang dicontohkan Rasulullah saw. “Kalau hari ini kita ngomong support system, maka support system yang terbesar adalah negara yang seharusnya berdasarkan Islam. Inilah yang harus kita kenali, kemudian bergerak bersama-sama dalam satu rel yang sama menuju tegaknya Islam kafah,” urainya.
Ia merasa prihatin, Islam kafah hari ini bukan saja tidak dipraktikkan, tetapi dimusuhi, ditolak. “Kalau kita ngomong Islam yang dipraktikkan oleh negara, di dalam kitab-kitab fikih itu disebut sistem Khilafah,” imbuhnya.
Meski demikian, ia menilai, banyak umat yang belum paham tentang ini. “Oleh karena itu, untuk memahami right POV dan right move, antunna (kalian) harus action nyata untuk mengenal Islam kafah, lebih khusus lagi mengenal Islam dalam urusan politik dan pemerintahan. Ini semua butuh proses,” pungkasnya. [MNews/Irianti]
