[Kabar] Pemerhati Pendidikan: Perlu POV Islam untuk Menjaga Arah Generasi Muda

[Kabar] Pemerhati Pendidikan: Perlu POV Islam untuk Menjaga Arah Generasi Muda

Muslimah News, NASIONAL — Pemerhati pendidikan dan remaja Diansyah Novi Susanti, S.Pt. menerangkan, perlu point of view (POV) atau cara pandang Islam untuk menjaga arah generasi muda di era transformasi digital. “Cara pandang ini akan menentukan pola pikir, membentuk nilai yang diyakini, serta mengarahkan setiap tindakan dan keputusan hidupnya,” ujarnya dalam acara Ngomong Politik: “Islamic POV, Our POV, Our Movement”, Sabtu (24-10-2026).

Sayangnya, ia menilai, fenomena saat ini, mayoritas remaja tumbuh di bawah kendali algoritma sosial dan pencapaian yang didikte oleh sesuatu yang sedang viral sehingga ada dorongan untuk selalu menyelaraskan diri dengan hal tersebut. “Kondisi psikologis ini tercatat secara resmi dalam Indonesia National Adolescent Mental Health Survey Tahun 2022 bahwa satu dari tiga remaja Indonesia atau sekitar 15,5 juta remaja mengalami masalah kesehatan mental dengan tekanan interaksi digital sebagai faktor utama,” urainya.

Implikasinya, ia mengatakan, terjadi peningkatan kecemasan atau anxiety, krisis identitas, adiksi media digital, hingga pola hidup konsumtif demi meraih validasi semu di dunia maya. “Mereka terjebak dalam pencarian kebahagiaan yang bersifat destruktif dan pengakuan publik atau popularitas digital diperlukan seolah-olah sebagai tujuan akhir. Padahal, seluruhnya adalah ilusi yang meninggalkan kehampaan iman dan intelektual,” paparnya.

Cara Pandang Islam

Untuk itu, ia menawarkan cara pandang Islam yang membawa kerangka berpikir yang kukuh dan solutif. “Allah Swt. mengingatkan dalam QS Al-An’am  ayat 153 bahwa jalan-Nya adalah jalan yang yang lurus yang wajib kita ikuti dan kita dilarang mengikuti jalan-jalan lain yang justru memecah belah dan menyesatkan kita dari petunjuk-Nya. Juga dipertegas oleh Rasulullah saw. dalam riwayat Malik bahwa kita tidak akan tersesat selama berpegang pada Al-Qur’an dan Sunah,” ucapnya.

Atas dasar ini, ungkapnya, Islam melakukan reorientasi terhadap cara pandang hidup manusia. “Pertama, tolok ukur perbuatan manusia berbasis hukum syarak, yaitu halal haram, bukan pada suara mayoritas, tren yang sedang berlaku, atau standar komersial media. Remaja muslim pun akan memiliki imunitas moral sehingga tidak mudah goyah oleh arus zaman,” jelasnya.

Kedua, hakikat kebahagiaan tidak diukur dari akumulasi materi, jumlah pengikut, atau pencitraan visual. “Kebahagiaan sejati muncul dari ketenangan batin atas diperolehnya rida Allah Swt. sehingga remaja akan menyadari kedudukan hakikinya sebagai hamba Allah sekaligus pengelola bumi yang mengemban misi peradaban,” tuturnya.

Oleh karenanya, ia memandang, perlu sinergi antara sistem pendidikan Islam dan peran negara. Sistem pendidikan Islam, lanjutnya, merupakan pondasi pembentukan karakter atau kepribadian Islam yang memadukan keunggulan pola pikir dan kematangan pola sikap.

“Pendidikan Islam membekali remaja dengan kemampuan berpikir kritis agar mampu memfilter setiap informasi sekaligus menanamkan visi hidup yang berorientasi jangka panjang, dunia dan akhirat,” terangnya.

Negara dalam tata kelola pemerintahan Islam, jelasnya, memegang posisi strategis sebagai raa’in (pengurus) dan junnah (pelindung) yang bertanggung jawab penuh dalam menjaga tatanan moral dan pemikiran masyarakat. “Negara akan membentengi ruang publik dari konten yang merusak moral atau melemahkan karakter generasi muda, menyediakan akses pendidikan berbasis akidah Islam yang berkualitas secara merata, serta menjamin tumbuhnya lingkungan sosial yang mendukung amar makruf nahi mungkar,” bebernya.

Ini karena, ujarnya, generasi muda adalah aset peradaban yang terlalu berharga jika hanya dijadikan objek atau konsumen algoritma dan tren yang tidak terarah. Dunia ini, tegasnya, butuh generasi yang memiliki prinsip, tangguh, dan memiliki kepastian arah dalam melangkah.

“Sudah seharusnya kita mendorong perubahan cara pandang ini, yakni dari mengejar pengakuan manusia yang fana menuju pencapaian rida Allah Swt. yang abadi. Sudah saatnya pula, kita mengambil peran sebagai pembentuk masa depan generasi muda yang sesungguhnya dengan menjadikan POV Islam sebagai penuntun arah,” pungkasnya. [MNews/Ruruh]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *