[Kabar] Santri Menguatkan Negeri, Mubaligah: Perlu Muhasabah yang Jujur

[Kabar] Santri Menguatkan Negeri, Mubaligah: Perlu Muhasabah yang Jujur

Muslimah News, NASIONAL — Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 bertema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas” mendapat perhatian mubaligah Nurul Husna. Kepada MNews, Ahad (15-10-2026), ia berharap ada muhasabah asasi, muhasabah yang jujur terhadap peran santri yang sesungguhnya. “Benarkah santri telah mendapatkan ruang untuk mengoptimasi peran strategisnya sebagai calon ulama waratsatul anbiya’? Karena nyatanya, saat santri diarahkan menguatkan negeri, masih ada pertanyaan kritis yang mesti dijawab, akan menguatkan negeri dengan apa?” ungkapnya.

Ia memandang, jika yang hendak dikuatkan adalah negeri yang masih ramah terhadap sistem hidup selain wahyu; menormalisasi riba, judi, dan kemaksiatan lainnya; mengadopsi kurikulum sekuler; dan masih alergi pada syariat kafah, maka sejatinya santri hanya diperankan sebagai subjek tambal sulam, bukan arsitek peradaban Islam.

“Kita tidak boleh lupa bahwa santri adalah kader ulama. Dalam sejarah negeri ini, santri dan ulama adalah pelaku perubahan, pembebas dari penjajahan dan kezaliman. Bukan penjaga dan pengukuh penjajahan di segala bentuknya,” ucapnya.

Kader Ulama

Peringatan HSN pun, jelas Nurul, mestinya menjadi momentum untuk mengukuhkan kembali identitas santri sebagai kader ulama waratsatul anbiya’ yang peka dan peduli pada negeri dan persoalan umat, juga selalu di garda terdepan untuk membebaskan negeri dari penjajahan dan kezaliman.

“Apalagi realitasnya, dunia dan negeri ini masih dalam cengkeraman penjajahan gaya baru. Perang pemikiran (ghazwul fiqr) dan perang kebudayaan (ghazwut tsaqafi) yang dijalankan imperialis sekuler kapitalisme terus mencari jalan untuk memengaruhi semua aspek kehidupan umat. Pesantren pun tidak benar-benar aman dari pengaruh proyek penjajahan tersebut,” ulasnya.

Salah satu bentuknya, ia menyebutkan, melalui penderasan ide moderasi beragama. “Ide yang tidak lahir dari akidah Islam itu terus melemahkan pemahaman agama dan mendistorsi keteguhan sikap muslim terhadap syariat atas nama promosi ide toleransi, kebangsaan, dan penerimaan kearifan lokal. Padahal sejatinya, moderasi beragama adalah wajah lain dari sekulerisme yang fasad,” kritiknya.

Sebagai kader ulama, jelas Nurul, santri seharusnya diingatkan dengan ketetapan syariat bahwa definisi ulama bukanlah sebagai gelar yang disandang, melainkan disifati sebagai sosok yang punya rasa takut (khasyyah) kepada Allah Swt. sebagaimana tertuang dalam QS Fathir ayat 28, “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama.”

Oleh karenanya, ia menegaskan, penting bagi santri untuk memahami bahwa wibawa ulama tidak lahir karena dekat dengan kekuasaan, tetapi karena rasa takutnya pada Allah Swt. “Rasa khasyyah inilah yang menjadikan ulama tidak pernah menyembunyikan kebenaran Islam dan selalu terdepan dalam muhāsabah lil hukkam (mengoreksi penguasa),” jelasnya.

Sebagai pewaris nabi, sambungnya, ulama hanya mewarisi ilmu Islam yang bersumber dari Al Qur’an dan hadis sebagaimana sabda Rasulullah saw., “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi. Para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, mereka hanya mewariskan ilmu.” (HR Abu Dawud No. 3641, Tirmidzi No. 2682, Ibnu Majah No. 223 – Hadis Hasan)

Berani Menyampaikan Kebenaran

Ia menerangkan, nabi hanya mewariskan ilmu dan keberanian menyampaikan kebenaran, meskipun pahit. “Termasuk di dalamnya, keberanian ulama dalam muhāsabah lil hukkam. Tujuannya agar penguasa mengurusi urusan rakyatnya dengan amanah dan selalu memimpin dengan dasar hukum syarak,” imbuhnya.

Selain itu, ia berpesan, santri juga harus memahami bahwa ulama waratsatul anbiya’ tidak akan terbeli oleh dunia. “Ulama selalu hadir sebagai rujukan umat dalam urusan agama (marja’ ad-dīn) dan solusi urusan kehidupan (marja’ as-siyāsiy). Ulama mesti siap mendidik umat dengan Islam kafah, meski kadang berbeda dengan keinginan penguasa,” ujarnya.

Ia mengutip nasihat Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin agar santri dan ulama tidak teperdaya oleh kenikmatan dunia yang akan melemahkan militansi dakwahnya atau mengunci lisannya dari kebenaran, “Rusaknya rakyat karena rusaknya penguasa, rusaknya penguasa karena rusaknya ulama, dan rusaknya ulama karena cinta dunia.”

Untuk itu, ia mengingatkan, santri sebagai kader ulama tidak akan merasa puas hanya menjadi “penguat negeri”. “Santri akan memastikan bahwa negerinya akan kuat jika berjalan dengan panduan syariat Islam kafah. Jalan yang akan menghantarkan negeri pada keberkahan dan rida Allah Swt. Jalan yang akan membawa negeri pada kebangkitan peradaban emas yang hakiki, peradaban yang berasas Islam kafah,” tuturnya.

Menurutnya, inilah jalan perjuangan santri dan ulama yang sebenarnya, yakni menguatkan negeri dengan Islam kafah, membawa negeri pada kebangkitannya yang hakiki, serta menjadi peradaban yang tinggi dan mulia dengan Islam kafah.

“Tugas santri sebagai kader ulama, bukan dengan menguatkan yang fasad, tetapi mengoreksi yang salah karena tidak berdasarkan wahyu agar benar-benar kuat di atas kebenaran Islam. Dalam hal ini, tugas strategis tersebut hanya dapat terwujud dengan Islam kafah,” pungkasnya. [MNews/Ruruh]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *