[Kabar] Krisis Identitas Remaja, Pemerhati: Berakar dari Pendidikan Sekuler

[Kabar] Krisis Identitas Remaja, Pemerhati: Berakar dari Pendidikan Sekuler

Muslimah News, NASIONAL — Pemerhati pendidikan dan remaja Diansyah Novi Susanti, S.Pt., menegaskan, akar masalah dari krisis identitas para remaja sejatinya tidak bisa dilepaskan dari cengkeraman sistem pendidikan sekuler.

“Akar dari seluruh problematika ini sejatinya tidak bisa dilepaskan dari cengkeraman sistem pendidikan sekuler,” ujarnya kepada MNews, Sabtu (26-9-2026).

Ia menyatakan, kurikulum yang diterapkan hari ini terjebak dalam orientasi kapitalistik, yakni mereduksi pendidikan sekadar sebagai mesin pencetak angka rapor, pemenuhan standar pasar kerja, dan mengejar validasi akademik.

“Akibat sekularisasi ini, agama dipinggirkan dan dipisahkan dari bangunan sains serta pembentukan pola pikir serta pola sikap remaja,” ucapnya.

Bahkan, jelasnya, remaja dipaksa berlari mengejar prestasi, tetapi dibiarkan berjalan tanpa panduan yang jelas dan terarah.

“Ketika standar sukses diukur dari materi dan validasi artifisial (pengakuan yang dibuat-buat), wajar jika remaja hari ini mudah terjerembab dalam kecemasan (insecure), kehampaan eksistensi, kehilangan arah, serta tujuan hidup,” terangnya.

Profil Ideal Remaja Muslim

Diansyah mengatakan, dalam lembaran sejarah Islam, pemuda selalu menjadi motor penggerak perubahan peradaban.

“Al-Qur’an mengabadikan kisah ashabulkahfi, sekelompok pemuda yang dengan tegas menolak arus zaman yang rusak demi mempertahankan prinsip keimanan mereka, sebagaimana yang disebutkan dalam surah Al-Kahfi ayat 13,” ujarnya.

Ayat ini, ungkapnya, membuktikan bahwa anak muda punya kapasitas luar biasa untuk menjadi visioner yang kuat, bukan sosok yang gampang diombang-ambingkan oleh tren atau dieksploitasi oleh kepentingan industri kapitalis.

Rasulullah saw., sebutnya, juga menegaskan dalam hadis riwayat Muslim bahwa kualitas diri seorang muslim diukur dari kekuatan prinsip, mental, dan orientasi hidupnya. Rasulullah saw. Bersabda, “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah.”

“Kata “al-qawiy” (kuat) di sini bukan sekadar fisik, tetapi mencakup ketahanan mental, ketajaman berpikir (akal), dan kekukuhan prinsip menghadapi arus dunia,” jelasnya.

Profil ideal seorang remaja muslim, sebutnya, tecermin dalam pembentukan syahsiah islamiah (kepribadian Islam), yang dibangun atas dua pilar utama. “Pertama, pola pikir islami (akliahislamiah).  Segala ilmu pengetahuan, informasi, dan fenomena kehidupan disaring menggunakan standar akidah Islam, halal dan haram, bukan sekadar logika materialistis atau tren semata. Mereka adalah generasi yang memiliki pemahaman Islam yang kuat, cerdas secara intelektual, serta mampu berpikir kritis demi kemaslahatan umat,” bebernya.

Kedua, terangnya, pola sikap islami (nafsiah islamiah). “Dorongan perbuatan, rasa cinta, marah, dan ridanya dikendalikan oleh aturan syariat. Remaja muslim tidak mudah galau atau insecure karena mereka memahami prinsip hidup yang ditegaskan Allah Swt. dalam QS ayat 13, ‘Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu.’, ” terangnya.

Jadi, tegasnya, standar kemuliaan mereka diukur dari ketaatan, bukan dari validasi buatan manusia atau popularitas di media sosial.

Solusi Sistemis

Diansyah menjelaskan, memulihkan mental dan moral generasi tentu tidak cukup diselesaikan dengan imbauan motivasi atau bimbingan konseling yang parsial. “Dibutuhkan perubahan fundamental pada level sistemis, yakni negara harus hadir sebagai raa’in (penanggung jawab) dan junnah (perisai) pelindung umat,” tuturnya.

Ia pun menyitir hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, “Imam (pemimpin/negara) adalah penanggung jawab dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang dipimpinnya.”

Berdasarkan fungsi pengasuhan dan penjagaan tersebut, lanjutnya, sistem pendidikan Islam yang diterapkan oleh negara mengandalkan tiga pilar strategis.

“Pertama, negara wajib menerapkan kurikulum berbasis akidah Islam, dengan ilmu pengetahuan umum dan sains dijiwai oleh nilai-nilai agama, bukan dipisahkan darinya. Pendidikan difokuskan untuk mencetak generasi yang cerdas sekaligus bertakwa,” sebutnya.

Kedua, tambahnya, negara melakukan kontrol ketat terhadap arus informasi publik dan media digital, memblokir seluruh konten destruktif yang merusak akal dan moral, serta menggantinya dengan suplai informasi yang menguatkan keimanan.

“Ketiga, negara menegakkan sistem sanksi yang tegas (zawajir dan jawabir) untuk memutus rantai kerusakan moral dan memberikan efek jera yang nyata sebagaimana firman Allah Swt. dalam QS An-Nur ayat 2 agar hukum-hukum Allah disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman sebagai bentuk penjagaan masyarakat,” jelasnya.

Untuk itu, ia menekankan, sudah saatnya umat menyadari bahwa kegagalan menjaga generasi adalah ancaman nyata bagi masa depan bangsa. “Mengembalikan ruh Islam ke dalam sistem pendidikan dan kehidupan bernegara di bawah naungan aturan Islam terbukti menjadi solusi hakiki untuk mengatasi krisis identitas sekaligus mengantar remaja menuju jati diri mereka yang mulia,” pungkasnya. [MNews/Aisyah]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *