[Kabar] Pemerhati: Sesak Melihat Rakyat Menghirup Asap

[Kabar] Pemerhati: Sesak Melihat Rakyat Menghirup Asap

Muslimah News, NASIONAL— Menyikapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berulang dan makin meluas, pemerhati kebijakan kesehatan dr. Arum Harjanti mengaku prihatin. “Sungguh membuat sesak melihat rakyat terpaksa kembali menghirup asap akibat karhutla. Mirisnya, negara abai terhadap kesehatan rakyat,” ucapnya kepada MNews, Jumat (28-8-2026).

Negara, ucapnya, selayaknya aktif melakukan mitigasi dan antisipasi sejak dini, apalagi karhutla berdampak serius terhadap kesehatan rakyat dan generasi. “Kasus ini menunjukkan bahwa persoalan kesehatan rakyat dapat terjadi akibat kesalahan tata kelola negara di luar sektor kesehatan, dalam hal ini adalah tata kelola hutan. Hal ini seyogianya menjadi perhatian negara, apalagi dalam kesehatan, mencegah lebih baik daripada mengobati,” paparnya.

Tindakan pencegahan, lanjutnya, semestinya bisa dilakukan secara proaktif oleh negara, apalagi di tengah fenomena El-Nino “Godzilla” yang sudah diprediksi sejak April 2026. “Lebih-lebih BMKG juga mencatat peningkatan signifikan jumlah hotspot (titik panas) sejak awal 2026. Akibatnya, asap makin tebal, kasus ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) meningkat hingga ratusan per hari. Hal ini tentu sangat membahayakan kesehatan rakyat terlebih kelompok rentan, yaitu anak-anak, ibu hamil dan lansia,” tegasnya.

Menurutnya, inilah akibat dari penerapan sistem kapitalisme. “Negara memberikan konsesi hutan yang merupakan milik semua rakyat kepada segelintir orang atau perusahaan. Individu dan perusahaan hanya berpikir tentang keuntungan yang diraih, tak peduli adanya bahaya yang mengancam rakyat,” bebernya.

Di sisi lain, ungkapnya, negara tidak menerapkan sistem sanksi yang tegas. “Berulangnya karhutla adalah bukti mandulnya sistem sanksi bagi para pelanggar. Ini terjadi karena dalam sistem kapitalisme, negara bukan pengurus rakyat. Peran negara diminimalisir hanya membuat regulasi yang menguntungkan pemilik modal,” terangnya.

Butuh Raa’in dan Junnah

Arum menegaskan, rakyat sangat membutuhkan penguasa yang berperan sebagai raa’in (pengurus) dan junnah (pelindung) rakyat karena sesungguhnya Islam memerintahkan demikian. Ia mengutip sabda Rasulullah saw., “Seorang imam (pemimpin) adalah pengurus rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Ia menambahkan lagi dengan sabda Nabi Muhammad, “Sesungguhnya Imam/Khalifah adalah perisai orang-orang berperang di belakangnya dan menjadikannya pelindung.” (HR Muslim).

Rakyat, ungkapnya, membutuhkan negara yang peduli pada kesehatan rakyat sehingga akan melakukan semua upaya untuk mencegah terjadinya kondisi yang membahayakan rakyat. “Tidak hanya dari sektor kesehatan, tetapi juga sektor lain seperti dalam pengaturan hutan,” ujarnya.

Menurutnya, umat juga membutuhkan negara yang proaktif dan sigap memberikan tindakan untuk mencegah menyebarnya bahaya termasuk asap yang mengganggu pernafasan dan akan membuat generasi lemah. “Profil negara demikian, hanya mungkin terwujud dalam Khilafah yang berpegang kepada syariat Allah secara kafah,” ucapnya.

Hanya Khilafah, tegasnya, yang mampu menegakkan sistem sanksi yang tegas dan menjerakan pada pihak yang menyebabkan karhutla. “Apalagi karhutla tidak hanya membahayakan kesehatan, tetapi juga lingkungan, harta, bahkan kesehatan mental. Untuk menyelamatkan generasi dan kelompok rentan, kita butuh Khilafah,” bebernya.

Ia menekankan, sistem Khilafahlah yang akan menjaga kesehatan rakyat secara komprehensif. “Dalam kasus karhutla, Khilafah akan menerapkan tata kelola hutan sesuai dengan syariat. Tata kelola ini akan mewujudkan lingkungan dan udara bersih, sehingga manusia terlindungi dari bahaya karhutla,” tuntasnya. [MNews/Ika Mawar]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *