Benarkah Nabi ﷺ Diutus Hanya untuk Menyempurnakan Akhlak?

Benarkah Nabi ﷺ Diutus Hanya untuk Menyempurnakan Akhlak?

Penulis: Wardah Abeedah

Muslimah News, TSAQAFAH — Di antara anugerah terbesar dari Allah Taala bagi kaum mukmin adalah diutusnya Nabi Muhammad ﷺ. Beliau adalah penutup para nabi dan rasul, diutus kepada umat manusia seluruhnya, dan membawa risalah yang menjadi petunjuk yang berlaku hingga Hari Kiamat.

Pada momen Maulid Nabi ﷺ, para dai kerap mengulang-ulang sebuah hadis,

إِنَّمَا بُعِثْتُ ِلأُتَمِّمَ صَالِحَ اْلأَخْلاَقِ.

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik.” (HR Ahmad dan Bukhari).

Walhasil, seruan-seruan tahunan yang terus diajarkan dan diingatkan pada umat seolah dibatasi pada penyempurnaan akhlak. Padahal, jika kita meneliti banyak sekali ayat Al-Qur’an, Allah Swt. secara gamblang menjelaskan misi pengutusan Nabi Muhammad ﷺ.

Di antaranya, pertama, membawa perubahan bagi umat manusia dari kesesatan menuju cahaya Islam dengan mengajarkan Al-Qur’an dan Sunah.

Allah ﷻ berfirman,

لَقَدْ مَنَّ ٱللَّهُ عَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِّنْ أَنفُسِهِمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا۟ مِن قَبْلُ لَفِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ

“Sungguh Allah Swt. telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri; yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah. Dan sesungguhnya, sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS Ali ‘Imran: 164).

Ayat ini berisi pujian bagi Rasulullah ﷺ bahwasanya pengutusan beliau ﷺ adalah karunia dari Allah Swt. bagi orang-orang yang beriman. Meski Nabi ﷺ diutus untuk seluruh alam dan umat, tetapi hanya orang-orang berimanlah yang banyak mendapat manfaat dari pengutusan Rasulullah ﷺ karena mereka mengimani dan menaatinya.

Ayat ini juga menjelaskan bahwa tugas sang utusan adalah membacakan ayat-ayat Al-Qur’an kepada kaum mukmin, menyucikan jiwa-jiwa mereka dari kekafiran, kemusyrikan, serta dosa dan maksiat. Selain itu, Nabi ﷺ juga ditugaskan untuk mengajarkan Al-Kitab (Al-Qur’an) dan Al-Hikmah (Sunah).

Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari dalam tafsirnya mengutip pendapat Qatadah tentang ayat ini sebagai berikut.

منّ الله عليهم من غير دعوة ولا رغبة من هذه الأمة، جعله الله رحمة لهم ليخرجهم من الظلمات إلى النور ويهديهم إلى صراط مستقيم = قوله: ” ويعلمهم الكتاب والحكمة “، الحكمة، السنة

Allah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka tanpa adanya permohonan atau keinginan dari pihak bangsa tersebut. Allah menjadikannya sebagai rahmat bagi mereka untuk mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya dan menuntun mereka ke jalan yang lurus. Mengenai frasa “dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah”, kata “hikmah” merujuk pada Sunah.

Kemudian Allah Swt. menutup ayat tersebut dengan menyebutkan keadaan kaum mukmin sebelum diutusnya Nabi ﷺ, yakni bahwasanya mereka dahulunya berada dalam kesesatan yang nyata. Mereka tenggelam dalam kebodohan yang pekat dan dibutakan oleh kebingungan, jauh dari petunjuk yang benar. Mereka tidak mengenali kebenaran maupun menyanggah kebatilan. (Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari, Tafsir Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an).

Ayat 164 dari QS Ali Imran ini sesungguhnya turun berkenaan dengan kekalahan kaum mukmin dalam Perang Uhud. Penjelasan tentang pengutusan Nabi ﷺ di dalamnya menguatkan kaitan perubahan umat. Pada ayat ke-165, dijelaskan bahwa sebab kekalahan kaum mukmin adalah dari ketidakpatuhannya pada Nabi ﷺ. Artinya, ada penegasan bahwa terdapat korelasi kuat soal kalah atau menangnya umat ini dengan pengutusan Nabi ﷺ. Begitu juga, perubahan dari kegelapan menuju cahaya, maju atau menang dan mundur atau kalahnya kaum muslim, adalah ketika kita meninggalkan Al-Qur’an dan Sunah yang Nabi ﷺ bawa.

Kedua, Rasulullah ﷺ diutus untuk memenangkan Islam di atas semua agama dan millah.

Allah ﷻ berfirman,

هُوَ ٱلَّذِىٓ أَرْسَلَ رَسُولَهُۥ بِٱلْهُدَىٰ وَدِينِ ٱلْحَقِّ لِيُظْهِرَهُۥ عَلَى ٱلدِّينِ كُلِّهِۦ ۚ وَكَفَىٰ بِٱللَّهِ شَهِيدًا

“Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi.” (QS Al-Fath: 28).

Imam Ibnu Jarir menjelaskan ayat ini dengan menyebutkan,

الذي أرسل رسوله محمدا صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّم بالبيان الواضح، وَدِين الحَق، وهو الإسلام; الذي أرسله داعيا خلقه إليه (لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ) يقول: ليبطل به الملل كلها، حتى لا يكون دين سواه، وذلك كان كذلك حتى ينـزل عيسى ابن مريم، فيقتل الدجال، فحينئذ تبطل الأديان كلها، غير دين الله الذي بعث به محمدا صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّم، ويظهر الإسلام على الأديان كلها.

“Dialah Yang mengutus Rasul-Nya, Muhammad ﷺ, dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan agama yang benar—yaitu Islam—seraya menyeru makhluk-Nya kepadanya, ‘Agar Dia memenangkannya di atas segala agama.’ Untuk membatalkan segala keyakinan/millah yang lain sehingga tidak ada lagi agama selainnya. Keadaan ini akan terus berlangsung hingga Isa putra Maryam turun dan membunuh Dajal; pada saat itulah, segala agama akan menjadi batal—kecuali agama Allah yang dengannya Dia mengutus Muhammad ﷺ—dan Islam akan unggul di atas semua agama lainnya.”

Menurut Imam Ibnu Katsir, “agar ia memenangkannya di atas segala agama” bermakna menang di atas para penganut semua agama di kalangan penduduk bumi, baik orang Arab maupun non-Arab, penganut agama-agama, maupun kaum musyrik; memenangkan Islam di atas yang lain di muka bumi sehingga tidak ada agama dan millah lain selain Islam, bukan sekedar memenangkan secara spiritual. Apalagi memang sudah sunatullah akan ada banyak agama di muka bumi, ada golongan beriman, begitu pun golongan kafir.

Namun, ayat ini menjadi perintah untuk umat Muhammad ﷺ berjuang memenangkan Islam—dengan petunjuk dan syariatnya—untuk memimpin seluruh manusia di muka bumi; mengalahkan agama, millah, ideologi lain selain Islam yang dianut dan dijalankan manusia dalam kehidupan. Sebagian mufasir juga menyebutkan ayat ini adalah janji kemenangan Islam di muka bumi atas agama dan millah lainnya.

Visi Islam sebagai kepemimpinan di muka bumi ini juga makin menguat dengan hadis yang berbunyi,

أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَقُولُوا لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فَإِذَا قَالُوهَا مَنَعُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلَّا بِحَقِّهَا وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ

“Saya diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka mengucapkan, ‘Tidak ada Tuhan yang berhak disembah, selain Allah.’ Apabila mereka mengucapkannya, maka mereka telah menghalangiku (untuk menumpahkan) darah dan (merampas) harta mereka, kecuali dengan haknya; sedangkan (apabila mereka menyembunyikan kekafiran dan kemaksiatan), maka Allahlah yang menghisab mereka.” (HR Tirmidzi).

Ketiga, pengutusan Rasulullah ﷺ adalah rahmat bagi semesta alam. Allah ﷻ berfirman,

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS Al-Anbiya’: 107).

Berkaitan dengan ayat ini, dalam Mukhtashar Ibnu Katsir disebutkan,

وَمَآ أَرْسَلْنَاكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ} يُخْبِرُ تَعَالَى أَنَّ اللَّهَ جَعَلَ مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ أَيْ أَرْسَلَهُ رَحْمَةً لَهُمْ كُلِّهِمْ، فَمَنْ قَبِلَ هَذِهِ الرَّحْمَةَ وَشَكَرَ هَذِهِ النِّعْمَةَ سَعِدَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَمَنْ رَدَّهَا وجحدها خسر الدينا وَالْآخِرَةِ

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” Bahwa Allah Swt. mengabarkan sesungguhnya Allah Swt. telah menjadikan Muhammad ﷺ sebagai rahmat bagi semesta alam. Artinya, Allah Swt. mengutusnya sebagai rahmat bagi mereka semua. Maka barang siapa menerima rahmat dan mensyukuri nikmat ini, ia akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Dan barang siapa menolaknya dan mendustakannya, maka akan menderita kerugian di dunia dan akhirat.” (Imam Ali ash-Shabuni, Mukhtashar Ibnu Katsir II, 525).

Ketika menjelaskan QS Al-Anbiya’ ayat 107, Syekh Taqiyuddin an-Nabhani mengaitkannya dengan QS Al-Israa’ ayat 82.

جاءت الشريعة الإسلامية رحمة للعالمين، قال تعالى في بعثة الرسول صلى الله عليه وسلم: (وما أرسلناك إلاّ رحمة للعالمين)، وقال في شأن القرآن الكريم: (وننزِّل من القرآن ما هو شفاء ورحمة للمؤمنين)، فكون الرسول رحمة، وكون القرآن شفاءً ورحمة كل ذلك يدل على أن الشريعة جاءت رحمة للعباد

Syariat Islam itu datang sebagai rahmat untuk seluruh alam semesta. Allah Swt. berfirman tentang diutusnya Rasul ﷺ, “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS Al-Anbiyaa’ (21): 107).

Dia berfirman tentang Al-Qur’an al-Karim, “Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman…” (QS Al-Israa’ (17): 72).

Oleh karenanya, keberadaan Rasulullah ﷺ Sang Utusan adalah sebagai rahmat, sedangkan keberadaan Al-Qur’an adalah sebagai obat (solusi dan rahmat). Ini semua menunjukkan bahwa syariat datang sebagai rahmat bagi hamba. (Taqiyuddin an-Nabhani, Syakhshiyyah Islamiyyah Juz III, hlm. 365).

Selain tiga ayat di atas, masih terdapat penjelasan lain dalam Al-Qur’an dan hadis berkaitan dengan pengutusan Muhammad ﷺ sebagai Rasulullah yang berkaitan dengan tugas mengemban risalah dan petunjuk. Namun, dari tiga ayat ini, kita bisa tarik ibrah yang sangat relevan dengan kondisi kaum muslim hari ini, yakni lemah, dan dijajah oleh kaum kafir secara politik, ekonomi, pemikiran, budaya, bahkan fisik.

Sementara itu, kepemimpinan dunia saat ini ada di tangan kaum kafir Barat dengan ideologi sekuler kapitalismenya. Kekalahan dan keterpurukan kaum muslim, bahkan kesengsaraan dan rendahnya peradaban manusia sekarang, adalah karena ketiadaan kepemimpinan Islam akibat dicampakkannya risalah dan petunjuknya.

Walhasil, pada momen Maulid ini, hendaknya kita tidak berhenti pada menyeru kaum muslim untuk menyempurnakan akhlak. Bukan mengerdilkan akhlak karena akhlak memang bagian dari syariat Islam yang merupakan perintah dan larangan Allah Taala. Sebelum diutusnya Nabi ﷺ, kaum musyrik Makkah juga telah memiliki akhlak mulia dalam sebagian amal mereka. Akan tetapi, hal itu bukan didorong tauhid atau keimanan pada Allah, melainkan mereka melakukannya semata sebab ta’ashub atau nilai manfaat.

Sementara itu, Rasulullah ﷺ ketika memerintahkan sifat amanah, mencintai sesama muslim, maupun menjaga lisan, selalu mengaitkannya dengan keimanan. Dalam hadis Rasulullah ﷺ bersabda, “Barang siapa beriman pada Allah dan Hari Akhir, maka berkatalah baik atau diam.” (HR Bukhari).

Ini makin dikuatkan dengan kabar dari Ibunda Aisyah ra. ketika ia ditanya tentang akhlak Nabi ﷺ. Aisyah menjawab bahwa Nabi ﷺ seperti Al-Qur’an yang berjalan. Hal ini karena perkataan, perilaku, dan kehidupan sehari-hari Nabi ﷺ adalah wujud nyata pengamalan Al-Qur’an.

Selanjutnya, cara mengisahkan Nabi ﷺ, mengenangnya, dan mencintainya adalah dengan menyeru umat dan berjuang untuk kembali berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunah yang dengannya Nabi diutus. Harus mengamalkannya secara sempurna untuk menapaki jalan Nabi ﷺ. Mengikuti Sunah bukan hanya dalam perkara ibadah dan akhlak, melainkan juga pada seluruh aspek kehidupan—termasuk bernegara—agar umat ini bangkit menuju gemilangnya cahaya Islam.

Oleh sebab itu, kita harus melanjutkan visi kepemimpinan Islam dengan memenangkan kembali Islam di atas agama, millah, dan ideologi lainnya hingga Islam kembali memimpin di muka bumi. Hal inilah yang akan membawa kaum muslim, bahkan seluruh semesta alam, diliputi kebaikan dan kebahagiaan. Dengan ini pula rahmat Allah akan menyebar ke seluruh alam. Wallahualam bissawab. [MNews/Gizh]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *